welcome

Selamat datang dan Selamat bergabung ... Selamat datang dan Selamat bergabung ...Selamat datang dan Selamat bergabung

Selasa, 01 Juli 2008

Sistem Komunikasi Kota dan Desa

Sistem Komunikasi Kota
Adalah suatu kenyatan bahwa sulit memberikan defenisi kota , yang bersipat universil, menyeluruh dan obyektif . Adalah terlalu sulit menemukan kriterium tunggal untuk menentukan bahwa sesuatu tempat dengan suatu kehidupan bersama itu adalah kota. Justru hal ini diperlukan guna melengkapi dan sebagai bahan perbandingan terhadap dasa,bukan dengan mempertentangkanya.
Ada pandangan bahwa satu satunya jalan menuju ke suatu masyarakat yang makmur adalah melalui industrialisasi hal ini berarti bahwa dimasa yang akan datang, kita akan mengalami peradaban industrial modern, dan ini berarti pula mempunyai tekanan orientasi ke kota, sebab peradaban industrial modern akan di kuasai oleh kota.
Bahkan ada pandangan, untuk mengatakan sebagian besar desa-desa, membuat banyak desa menjadi kota. Sebab kehidupan bersama kota akan menjadi titik pusat masyarakat Indonesia. Mereka yang menjalankan pengawasan sebagian besar lembaga lembaga yangmenguasai kehidupan sosial-politik-ekonomi-budaya adalah justru penduduk kota .tidak dapat diambil sebagai kriteria, hanya jumlah penduduk sebagai suatu ciri khas kota, ataupun hanya erat-renggangnya relasi-relasi sosial sesuatu masyarakat.
Karena tidak berhasil menemukan kriterium tunggal untuk menentukan, bahwa suatu tempat dinamakan kota, maka ada beberapa kombinasi faktor yang mencirikan suatu kota; mata pencaharian non-agrikultur, lingkungan, ukuran komuniti, kepadatan penduduk, heterogenitas penduduk, differensiasi dan stratufukasi sosial, sistem interaksi (jumlah dan tipe-tipe kontak-kontak sosial).
Ciri-ciri sistem komunikasi di kota antara lain adalah :
Diversitas kompleksitas komunikasi, baik komunikasi sosial maupun komunikasi media.
Komunikasi bersifat tidak permanen dan anonym.
Diversitas komunikasi dalam kota disebabkan oleh adanya spesialisasi dan pembagian kerja. Banyaknya peranan (role) maupun kedudukan (status) yang masing-masing mempunyai sifat-sifat yang khas di dalam kota, menyebabkan rata-rata orang kota mempunyai aneka ragam (sistem) komunikasi.
Kompleksitas komunikasi penduduk kota dapat diartikan bahwa berbagai orang (yang heterogen) atau kelompok orang dapat berkomunikasi dengan sistem ataupon cara yang cukup rumit (kompleks).
Sebagian besar komunikasi yang membentuk relasi-relasi sosial di kota terjadi antara orang-orang yang anonim atau asing satu sama lain, dan hanya berlangsung untuk waktu yang singkat tidak permanen. Dalam arti orang kota selalu terus menerus membuat kontak sosial atau komunikasi yang baru. Kecepatan perubahan-perubahan berkomunikasi ini dapat juga disebut mobilitas sosial. Jadi bersamaan dengan komunikasi bertingkat anominitas tinggi, tidak permanen, mobilitas sosial ini memperkuat adanya komunikasi dan relasi-relasi sosial sekunder (dengan pengertian kurang atau tidak akrab, bersifat impersonal, formal, kurang bersifat emosional, dan rasional).

Sistem Komunikasi Desa
Desa biasanya tersusun dari individu-individu yang terorganisasi dalam kelompok-kelompok lokal (keluarga) yang lebih kecil dan permanen, disebut komuniti (diartikan paguyuban). Mereka disatukan oleh rasa terikat pada alam sekeliling tempat mereka hidup dan menghadapi masalah-masalah mereka terikat oleh rasa bersama.
Beberapa faktor atau ciri-ciri desa, yang merupakan juga hambatan-hambatan untuk perubahan sosial untuk pembangunan, sebagai berikut :
 tingkat pendapatan penduduk yang rata-rata masih rendah sekali,
 umumnya terdapat sikap fanatisme ataupun nostalgis terhadap tradisi masa lalu,
 kurang bersikap kompetitif,
 belum terbina sikap mental, sitem nilai yang dapat menunjang ilmu pengetahuan,
 tidak ada rangsangan-rangsangan kuat untuk bertindak kreatif,
 faktor sikap mental, faktor-faktor kelembagaan, dan faktor lingkungan yang tidak kondusif,
 sikap penduduk yang masih pasif,
 masih famili-sentris,
 sikap nrimo.
 Acuh tak acuh,
 Orientasi ke masa lampau,
 Penguasaan tanah, hak tuan tanah,
 Hak komunal,
 Lembaga perkreditan pribadi (lintah darat),
 Mobilitas vertikal masih kurang,
 Entrepreneurship belum berkembang, dll.

Sistem komunikasi yang ada atau ditujukan terhadap masyarakat desa adalam memakai pola komunikasi yang sangat sederhana, face to face communication, dan interpersonal communication. Peranan media massa belum optimal, media massa yang lebih akrab adalah media elektronik tetapi lebih banyak dimanfaatkan aspek hiburannya. Walaupun pada umumnya di negara Indonesia tumbuh dan berkembang dari masyarakat pendengar (listened society) dan seiring menjamurnya stasiun televisi swasta dan daya jangkaunya luas maka akan menjauhkan media massa surat kabar, termasuk di desa-desa. Dilain pihak pers Indonesia berifat ‘urban oriented’ dan juga pengenalan media (media exposure) di desa-desa masih sangat rendah.
Sebaian besar penduduk Indonesia di pedesaan masih merasa bahwa memang bentuk komunikasi oral masih lebih mempengaruhi dan disukai dibandingkan dengan komunikasi melalui media massa. Padahal komunikasi oral sulit diawasi dan cenderung untuk menyimpang. Maka diperlukan pembinaan juru penerang/penyuluh yang memerlukan biaya banyak. Segi negatif daripada komunikasi oral adalah bahwa penggunaan sistem komunikasi oral dan pembinaan kelompok yang ditetapka dari “atas”, akan cenderung bersifar indoktrinasi dan pembinaan politis sehingga bertentangan dengan filsafat komunikasi persuasif.

Tidak ada komentar:

Main game yuk !

Sorry, you will need the <a href="http://www.macromedia.com/go/getflashplayer/" target="_blank">Flash Player</a> to play this game.
Add Games to your own site

Saran dan Masukan

Bagi anda yang ingin berbagi, memberikan masukan, komentar, pertanyaan, mengirim artikel & ingin ditayangkan, silahkan kirim ke ajias66@gmail.com.