Teori Kekuasaan
Cartwright dan Zender yang dikutip oleh Roger B. Ellis, Robert J. Gates, dan Neil Kenworthy Dalam buku “Komunikasi Interpersonal Dalam Keperawatan” menyatakan bahwa : “Kekuasaan ada ketika seorang individu berperilaku sedemikian rupa sehingga menghasilkan suatu perubahan pada individu lain.
French, Collin, & Raven yang dikutip oleh Roger B. Ellis, Robert J. Gates, dan Neil Kenworthy Dalam buku “Komunikasi Interpersonal Dalam Keperawatan” menyatakan bahwa sejumlah sumber kekuasaan meliputi :
1. Kekuasaan keahlian : seseorang dianggap mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang lebih besar daripada orang lain karena pendidikan mereka yang lebih lama atau pengalaman.
2. Kekuasaan koersif : seseorang dapat mengendalikan hukuman bagi orang lain (misal orang tua pada anaknya).
3. Kekuasaan imbalan : seseorang mempunyai kemampuan untuk memberi imbalan kepada orang lain, baik dengan menyediakan unsur-unsur positif atau dengan menghilangkan unsur-unsur negatif.
4. Kekuasaan yang sah : seseorang diakui mempunyai hak dan wewenang dari masyarakat untuk berpengaruh terhadap orang lain (missal hakim, kepala sekolah, dan lain-lain).
5. Kekuasaan kehormatan : seseorang memiliki atribut-atribut yang diinginkan oleh orang lain dan diidentifikasi oleh mereka (missal seorang fans meniru artisnya).
6. Kekuasaan informasi : ketika seseorang mengajukan informasi yang tidak dipunyai oleh orang lain, ia menunjukkan kekuasaan dengan mengendalikan seberapa banyak informasi yang akan ia berikan.
Selanjutnya Mc. Quail yang sama dikutip oleh Roger B. Ellis, Robert J. Gates, dan Neil Kenworthy Dalam buku “Komunikasi Interpersonal Dalam Keperawatan” menyatakan bahwa menunjukkan sejumlah kemungkinan generalisasi yang dilakukan sehingga kekuasaan dapat dieksploitasi melalui komunikasi, yaitu :
Monopoli percakapan dapat menghasilkan efek memenangkan kembali dan mencapai hasil yang diinginkan. Ketika dominasi terjadi, dan tidak mendapat tantangan, maka pengaruhnya akan semakin besar.
Seseorang dapat menjamin diterimanya sebuah pesan dengan membuatnya sepadan dengan kepercayaan orang lain tersebut. Isi pesan juga akan penting dalam menentukan sejauh makna pengaruh komunikator tersebut. Misalnya, pengaruh akan lebih besar jika topik diskusinya adalah tentang sesuatu dimana orang lain tidak mempunyai pengalaman pribadi tentangnya.
Seseorang yang dianggap mempunyai kredibilitas dan berstatus tinggi, mempunyai daya tarik fisik, intelektualitasnya dikagumi, dan mempunyai banyak kesamaan dengan pendengar, akan jauh lebih berkuasa daripada mereka yang kurang memiliki atribut-atribut yang menarik tersebut.
Menjadi seseorang pasien dan seorang mahasiswa perawat adalah sebuah prestise yang rendah dalam organisasi perawatan kesehatan dibanding dengan prestise yang diterima oleh para petugas kesehatan yang kompeten. Kemungkinan besar mereka akan tidak didengar, atau tidak disukai dan dianggap tampak tidak menarik.
Kekuasaan banyak ditentukan secara sosial. Masyarakat menyerahkan kekuasaan pada mereka yang diberi wewenang. Kadang-kadang kekuasaan didapatkan melalui persetujuan orang lain. Kekuasaan memang dapat dipindahkan dari mereka yang memilikinya.
Pada tingkat interpersonal, banyak pasien yang menjadi lebih asretif ketika menghadapi petugas kesehatan.
Dalam suatu organisasi formal perbedaan kekuasaan dipandang merupakan substitusi dari martabat atau status.
Pada beberapa pemimpin dalam berkomunikasi dengan bawahan dapat mempergunakan metoda yang langsung dan kadang-kadang bersifat kasar, di lain pihak para bawahan kalau berkomunikasi dengan atasan selalu menjaga jarak dengan bahasa halus dan kadang dengan metoda tidak langsung.
Hasil penelitian Cohen (1978) menunjukkan bahwa orang yang berkekuasaan kecil (yang ingin maju dalam kedudukannya) kurang bebas berkomunikasi dengan atasan mereka dan besar kemungkinan lebih sering menyampaikan kepada atasan mereka hasil yang telah mereka capai, bukan hal-hal yang menjadi hambatan kerja atau kesalahan dalam melaksanakan pekerjaan. Tetapi hal ini tidak terjadi pada orang yang mempunyai sedikit kekuasaan tapi tanpa hasrat untuk maju.
Para bawahan dengan lebih banyak kesempatan promosi jarang mencela, membantah, atau menolak perintah atasannya. Sedang bawahan yang tidak jelas kesempatannya untuk promosi cenderung reaktif berani membantah dan sering mangkir (tidak melaksanakan tugas).
Dalam suatu jabatan yang dalam satu jenjang hirarki yang sama sering mempunyai pengaruh kekuasaan yang berbeda-beda terhadap bawahannya masing-masing yang juga menimbulkan akibat yang cukup besar dalam proses komunikasi. Hal tersebut dipengaruhi oleh kepribadian dan gaya kepemimpinan yang dijalankan oleh pejabat bersangkutan. Kalau kepribadian pejabat tersebut sebagai pribadi yang kuat dan berwibawa serta gaya kepemimpinan yang demokratis maka pengaruh kekuasaannya akan baik bagi pelaksanaan tugas-tugas bawahan dan komunikasi dijadikan sebagai alat untuk pencapaian tujuan instansi tersebut. Sedang kalau kepribadian pejabatnya lemah dan gaya kepemimpinan laiser paier maka pelaksanaan tugas-tugas banyak terbengkalai dan komunikasi tidak pernah dijadikan alat pencapaian tujuan organisasi.
Lebih jauh lagi pengaruh kekuasaan tersebut akan dapat mempengaruhi semangat kerja bawahannya. Apabila para atasan pengaruh kekuasaannya kecil maka para bawahan akan dapat menentang mereka, maka semangat kerja bawahan akan menurun dan mempengaruhi juga terhadap prestasi kerja.
Likers berpendapat bahwa para manajer yang telah banyak berproduksi mempunyai komunikasi yang lebih baik dan pengaruh lebih besar dari pada manajer yang rendah produksinya.
Manajer yang tidak mempunyai pengaruh sering ditentang oleh bawahannya yang mengharapkan tindakan dari para atasan yang lebih tinggi dan lebih berkuasa. Logika tindakan ini tidak terlepas dari perhatian para menejer yang ditentang tersebut dan gangguan serta kejengkelan yang sering ditimbulkan akan mengurangi efektivitas komunikasi.
Dari hal tersebut di atas maka akan terungkap suatu hubungan negatif yang penting antara ketepatan komunikasi dan tingkat kekuasaan atau pengaruh yang menurut perasaan bawahan dimiliki oleh atasannya.
Wacana sebagai Manifestasi Kekuasaan
Menurut Malhotra yang dikutip oleh Roger B. Ellis, Robert J. Gates, dan Neil Kenworthy Dalam buku “Komunikasi Interpersonal Dalam Keperawatan” menyatakan bahwa : “Mengakui adanya ‘kekuasaaan’ dalam hubungan sosial menunjukkan bahwa komunikasi tidak selalu dilakukan dengan dasar kesetaraan. Tujuan-tujuan dari mereka yang mempunyai kekuasaan dalam masyarakat dan dalam hubungan interpersonal seringkali dicapai melalui manipulasi atau ‘mendistorsi’ komunikasi”.
Selanjutnya menurut Jurgen Habermas yang dikutip oleh Roger B. Ellis, Robert J. Gates, dan Neil Kenworthy Dalam buku “Komunikasi Interpersonal Dalam Keperawatan” menyatakan bahwa : “apa yang dikomunikasikan tampak dimengerti, wajar dan dapat diterima oleh setiap orang, tetapi di bawah permukaan mungkin terdapat ‘agenda tersembunyi’ yang diarahkan oleh seseorang (atau kelompok) yang mempunyai kekuasaan. Bentuk-bentuk komunikasi, misalnya bahasa, diatur untuk menjamin sesuatu hasil bagi kepentingan orang yang berkuasa. Kekuasaan orang ini menunjukkan bahwa proses komunikasi dapat diatur secara demikian”.
Orang-orang yang memiliki kekuasaan mempunyai kemampuan untuk memilih isi dan gaya dari apa yang dikomunikasikan. Ini dilakukan melalui simbol-simbol, praktek-praktek, dan gaya-gaya bahasa tertentu yang dapat menjamin adanya dominasi. Komunikasi yang telah diatur dengan berbasis pada kekuasaan disebut sebagai wacana.
Banyak kelompok masyarakat yang mempunyai kekuasaan mengembangkan wacana mereka sendiri, termasuk disini kelompok-kelompok profesi. Variasi wacana dari profesi kesehatan telah diteliti oleh Michel Foucault bagaimana pengetahuan medis telah dibangun untuk membentuk cara memandang dunia yang tampak sah dan karenanya dapat berpengaruh. Maka dalam hal ini apa yang tampak nyata, misalnya penyakit dan kesehatan, dapat sama sekali tidak nyata. Cara dimana pengguna pelayanan berpikir dan berbicara tentang tubuh mereka dikendalikan oleh konsep-konsep, teori-teori, dan simbol-simbol yang telah diberikan oleh para petugas kesehatan. Dengan demikian, wacana medis adalah suatu cerminan dari apa yang dianggap penting pada masa itu oleh mereka yang mempunyai kekuasaan.
Salah satu aspek penting dari wacana adalah bahasa. Seperti semua bentuk komunikasi lainnya, bahasa tidaklah berdiri sendiri dan terlepas dari konteksnya. Ada suatu hubungan langsung antara cara bicara, kata-kata yang digunakan, dan bagaimana masyarakat dibentuk. Cara seseorang berbicara dapat memberi tanda-tanda kepada pendengarnya tentang statusnya di masyarakat dan keanggotaannya pada kelompok tertentu. Misal para perawat disosialisasikan untuk menggunakan bentuk bahasa yang mengidentifikasikan mereka dengan perawat lain dan petugas-petugas kesehatan lainnya. Mereka adalah anggota ‘masyarakat bicara’ dari perawat di dalam kelompok mana mereka saling menukar tanda-tanda verbal dan istilah professional.
Blog berisi artikel dan bahan perkuliahan Komunikasi, dengan harapan dapat membantu rekan mahasiswa dalam studi ilmu komunikasi di kampus manapun anda berada.
welcome
Senin, 14 April 2008
INTERPERSONAL SOSIOLOGIS
KOMUNIKASI INTERPERSONAL
DALAM TEORI SOSIOLOGIS
A. Teori Kedudukan/Status
Kedudukan atau status dianggap sebagai suatu sistem menggolong-golongkan orang berdasarkan mutu, baik berdasarkan penilaian umum maupun nyatanya.
Dalam hirarki tugas Komunikasi Interpersonal antar status atas (antar top managar) mungkin banyak mengandung informasi yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Yang lebih banyak komunikasi dari atasan pada bawahan yang bersifat perintah pelaksanaan tugas. Anggota status rendah menahan diri tidak menyatakan agresi terhadap individu status tinggi, juga keterangan yang bersifat mencela pada tingkat jabatan yang lebih tinggi itu terbatas.
Pada suatu instansi (organisasi bisnis atau pun organisasi publik) mereka yang memiliki jabatan tinggi (tatapi mudah dikenakan penurunan pangkat) juga membatasi komunikasi untuk hal-hal seperti kekacauan dalam pekerjaan, karena inilah cara mempertahankan atau memperbaiki status. Aplagi kalau status tersebut merupakan suatu substitusi psikologis dari gerak ke atas pihak status rendah.
Para manajer pada kondisi kurang hubungan yang terbuka (komunikasi tertutup) enggan membantah atasan mereka dengan memberikan fakta-fakta yang menyenangkan, bahkan kecenderungan untuk tunduk, enggan mengadakan percobaan, mengambil resiko, bahkan enggan mengambil keputusan efektif sekalipun.
Akibat perbedaan status bentuk-bentuk perilaku menentukan hubungan atasan dan bawahan, atasan dapat saja memanggil bawahannya dengan nama panggilannya, tetapi dalam membalasnya bawahan menunjukkan rasa hormat dengan menyapa secara resmi.
Di luar urusan kantor, istri atasan boleh memanggil istri bawahan dengan nama kecilnya, tapi istri bawahan tidak menjawab sebaliknya.
Dalton dalam buku Men Who Manage telah meneliti pada beberapa perusahaan yang staf ahlinya lebih muda, mendapatkan data bahwa pejabat senior tidak menyukai apa yang mereka anggap sebagai perintah/saran dari pejabat yang lebih muda.
Status (bersama kekuasaan) menjadi ciri dari struktur sebuah masyarakat. Terlepas dari apakah konsep masyarakat merupakan sekumpulan struktur yang membentuk perilaku; atau tidak lebih dari kumpulan tindakan dan pikiran yang timbul diantara para individu; terdapat penekanan yang sama pada komunikasi . Struktur masyarakat dan Komunikasi Interpersonal, bersama sistem-sistem lain dalam komunikasi, semuanya berkaitan dengan refleksi. Apa yang orang katakan pada sesamanya akan membantu membentuk struktur di dalam masyarakat, dan pada gilirannya struktur masyarakat ini akan mempengaruhi komunikasi.
Status sangat berkaitan dengan peran, bahkan bagaikan dua sisi dari suatu mata uang, tidak dapat dipisahkan. Contoh : Memasuki suatu situasi klinik adalah mirip suatu pertunjukan. Pengguna pelayanan, dokter dan perawat adalah aktor di dalamnya. Ketika berinteraksi komunikasi diatur melalui medium peran sosial dan komunikasi dipengaruhi oleh tuntutan sosial terhadap peran tersebut.
Petunjuk untuk perilaku sosial diatur oleh peraturan-peraturan yang spesifik yang berlaku untuk keadaan individu. Peraturan-peraturan ini membuat prediksi tentang bagaimana seseorang, missal perawat, untuk bertindak ketika berada di ruang kuliah, di ruang perawatan, atau ruang rapat.
Masalah akan timbul jika seseorang memasuki situasi baru dan tidak mengetahui peraturan-peraturannya. Tetapi pola umum perilaku dan pengalaman sebelumnya akan memberi petunjuk tentang tindakan apa yang akan dianggap normal dan dapat diterima.
Menghadapi situasi baru yang rumit akan menimbulkan kecemasan. Mendapatkan paraturan-peraturan komunikasi yang benar dalam semua situasi sosial akan mengurangi kecemasan tersebut. Itulah sebabnya mengapa beberapa orang berusaha untuk tidak berkomunikasi terlalu banyak sampai mereka sudah menemukan peraturan-peraturannya organisasi dan peraturan interpersonalnya.
DALAM TEORI SOSIOLOGIS
A. Teori Kedudukan/Status
Kedudukan atau status dianggap sebagai suatu sistem menggolong-golongkan orang berdasarkan mutu, baik berdasarkan penilaian umum maupun nyatanya.
Dalam hirarki tugas Komunikasi Interpersonal antar status atas (antar top managar) mungkin banyak mengandung informasi yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Yang lebih banyak komunikasi dari atasan pada bawahan yang bersifat perintah pelaksanaan tugas. Anggota status rendah menahan diri tidak menyatakan agresi terhadap individu status tinggi, juga keterangan yang bersifat mencela pada tingkat jabatan yang lebih tinggi itu terbatas.
Pada suatu instansi (organisasi bisnis atau pun organisasi publik) mereka yang memiliki jabatan tinggi (tatapi mudah dikenakan penurunan pangkat) juga membatasi komunikasi untuk hal-hal seperti kekacauan dalam pekerjaan, karena inilah cara mempertahankan atau memperbaiki status. Aplagi kalau status tersebut merupakan suatu substitusi psikologis dari gerak ke atas pihak status rendah.
Para manajer pada kondisi kurang hubungan yang terbuka (komunikasi tertutup) enggan membantah atasan mereka dengan memberikan fakta-fakta yang menyenangkan, bahkan kecenderungan untuk tunduk, enggan mengadakan percobaan, mengambil resiko, bahkan enggan mengambil keputusan efektif sekalipun.
Akibat perbedaan status bentuk-bentuk perilaku menentukan hubungan atasan dan bawahan, atasan dapat saja memanggil bawahannya dengan nama panggilannya, tetapi dalam membalasnya bawahan menunjukkan rasa hormat dengan menyapa secara resmi.
Di luar urusan kantor, istri atasan boleh memanggil istri bawahan dengan nama kecilnya, tapi istri bawahan tidak menjawab sebaliknya.
Dalton dalam buku Men Who Manage telah meneliti pada beberapa perusahaan yang staf ahlinya lebih muda, mendapatkan data bahwa pejabat senior tidak menyukai apa yang mereka anggap sebagai perintah/saran dari pejabat yang lebih muda.
Status (bersama kekuasaan) menjadi ciri dari struktur sebuah masyarakat. Terlepas dari apakah konsep masyarakat merupakan sekumpulan struktur yang membentuk perilaku; atau tidak lebih dari kumpulan tindakan dan pikiran yang timbul diantara para individu; terdapat penekanan yang sama pada komunikasi . Struktur masyarakat dan Komunikasi Interpersonal, bersama sistem-sistem lain dalam komunikasi, semuanya berkaitan dengan refleksi. Apa yang orang katakan pada sesamanya akan membantu membentuk struktur di dalam masyarakat, dan pada gilirannya struktur masyarakat ini akan mempengaruhi komunikasi.
Status sangat berkaitan dengan peran, bahkan bagaikan dua sisi dari suatu mata uang, tidak dapat dipisahkan. Contoh : Memasuki suatu situasi klinik adalah mirip suatu pertunjukan. Pengguna pelayanan, dokter dan perawat adalah aktor di dalamnya. Ketika berinteraksi komunikasi diatur melalui medium peran sosial dan komunikasi dipengaruhi oleh tuntutan sosial terhadap peran tersebut.
Petunjuk untuk perilaku sosial diatur oleh peraturan-peraturan yang spesifik yang berlaku untuk keadaan individu. Peraturan-peraturan ini membuat prediksi tentang bagaimana seseorang, missal perawat, untuk bertindak ketika berada di ruang kuliah, di ruang perawatan, atau ruang rapat.
Masalah akan timbul jika seseorang memasuki situasi baru dan tidak mengetahui peraturan-peraturannya. Tetapi pola umum perilaku dan pengalaman sebelumnya akan memberi petunjuk tentang tindakan apa yang akan dianggap normal dan dapat diterima.
Menghadapi situasi baru yang rumit akan menimbulkan kecemasan. Mendapatkan paraturan-peraturan komunikasi yang benar dalam semua situasi sosial akan mengurangi kecemasan tersebut. Itulah sebabnya mengapa beberapa orang berusaha untuk tidak berkomunikasi terlalu banyak sampai mereka sudah menemukan peraturan-peraturannya organisasi dan peraturan interpersonalnya.
Komunikasi Interpersonal
Prediksi Dalam Komunikasi Interpersonal
Dari pembahasan mengenai keampuhan Komunikasi Interpersonal sebagai agent of change tersebut di atas sudah dapat kita prediksi dari Komunikasi Interpersonal yaitu efek yang diharapkan dari proses berlangsungnya Komunikasi Interpersonal.
Adapun hal-hal yang dapat diprediksi dalam Komunikasi Interpersonal dapat kita tinjau dari tiga sudut :
1. Prediksi analisis sosiologis. Yaitu mengukur dan memperkirakan keberhasilan/efek dari Komunikasi Interpersonal melalui analisis sosiologi. Seperti kita sosiologi adalah ilmu mengkaji interaksi sosial, klasifikasi sosial, kelompok dan pranata sosial. Ditinjau dari segi interaksi maka Komunikasi Interpersonal dapat diprediksi berdasarkan tingkatan komunikasi dan tingkatan hubungan seperti tergambar dalam tabel berikut :
Tingkatan Interaksi
Keterangan
Tingkatan Komunikasi Tingkatan Hubungan
Basa-basi (sekedarnya) Seadanya -
Gosip Teman -
Ide Tugas -
Berbagi rasa/respek Sahabat Dapat melakukan Komunikasi Interpersonal
Dari segi klasifikasi sosial prediksi Komunikasi Interpersonal dapat ditinjau dari segi kedudukan/status individu seperti yang akan dibahas pada Bab III Pasal A. di bawah nanti.
2. Prediksi analisis kultur. Yaitu Komunikasi Interpersonal diprediksi dari segi pola pikir, pola perilaku sistem nilai, dan pola kebiasaan dalam proses komunikasinya terutama ditujukan pada komunikannya.
3. Prediksi pendekatan sosiologis. Yaitu mengukur dan memperkirakan keberhasilan/efek dari Komunikasi Interpersonal dikaitkan dengan lingkungan sosial. Atau kajian konteks sosial dari proses Komunikasi Interpersonal.
Dari pembahasan mengenai keampuhan Komunikasi Interpersonal sebagai agent of change tersebut di atas sudah dapat kita prediksi dari Komunikasi Interpersonal yaitu efek yang diharapkan dari proses berlangsungnya Komunikasi Interpersonal.
Adapun hal-hal yang dapat diprediksi dalam Komunikasi Interpersonal dapat kita tinjau dari tiga sudut :
1. Prediksi analisis sosiologis. Yaitu mengukur dan memperkirakan keberhasilan/efek dari Komunikasi Interpersonal melalui analisis sosiologi. Seperti kita sosiologi adalah ilmu mengkaji interaksi sosial, klasifikasi sosial, kelompok dan pranata sosial. Ditinjau dari segi interaksi maka Komunikasi Interpersonal dapat diprediksi berdasarkan tingkatan komunikasi dan tingkatan hubungan seperti tergambar dalam tabel berikut :
Tingkatan Interaksi
Keterangan
Tingkatan Komunikasi Tingkatan Hubungan
Basa-basi (sekedarnya) Seadanya -
Gosip Teman -
Ide Tugas -
Berbagi rasa/respek Sahabat Dapat melakukan Komunikasi Interpersonal
Dari segi klasifikasi sosial prediksi Komunikasi Interpersonal dapat ditinjau dari segi kedudukan/status individu seperti yang akan dibahas pada Bab III Pasal A. di bawah nanti.
2. Prediksi analisis kultur. Yaitu Komunikasi Interpersonal diprediksi dari segi pola pikir, pola perilaku sistem nilai, dan pola kebiasaan dalam proses komunikasinya terutama ditujukan pada komunikannya.
3. Prediksi pendekatan sosiologis. Yaitu mengukur dan memperkirakan keberhasilan/efek dari Komunikasi Interpersonal dikaitkan dengan lingkungan sosial. Atau kajian konteks sosial dari proses Komunikasi Interpersonal.
KOMUNIKASI INTERPERSONAL
FUNGSI KEDUDUKAN
KOMUNIKASI INTERPERSONAL
Komunikasi Interpersonal atau disebut juga Komunikasi Antar Pesona atau Komunikasi Antar Pribadi adalah komunikasi yang dilakukan dua atau lebih dengan interaksi dan tatap muka satu sama lain, feedbacknya langsung diketahui dan efeknya pun cepat diketahui, dan sering kali tidak menggunakan media.
Komunikasi Interpersonal dalam arti luas adalah interaksi antara dua orang atau lebih tanpa mempersoalkan kenal atau tidak dengan lawan bicaranya. Misal seorang Sales Promotion yang datang door to door menjelaskan dan menawarkan suatu produk.
Komunikasi Interpersonal dalam arti sempit adalah interaksi yang dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan menekankan pada pendekatan empathy.
Empathy adalah sebagai kemampuan seseorang untuk memproyeksikan dirinya kepada peranan orang lain.
Menurut Onong Uchyana Effendi dalam buku Dimensi-dimensi Komunikasi menyatakan bahwa : “komunikasi antar pribadi (sering pula disebut dyadic communication) adalah komunikasi antara dua orang, dimana terjadi kontak langsung dalam bentuk percakapan”.
Efektifnya Komunikasi Interpersonal itu karena adanya arus balik langsung. Komunikator dapat melihat seketika tanggapan komunikan, baik secara verbal (dalam bentuk jawaban dengan kata) maupun secara non-verbal (dalam bentuk gerak-gerik) sehingga komunikator dapat mengulangi atau meyakinkan pesannya kepada komunikan. Pengertian efektif dalam Komunikasi Interpersonal ini adalah dalam hubungannya perubahan sikap (attitude change).
Efektivitas Komunikasi Interpersonal menurut Mc. Crosky, Larson & Knapp bahwa komunikasi yang efektif dapat dicapai dengan mengusahakan ketepatan (accuracy) yang paling tinggi derajatnya antara komunikator dengan komunikan dalam setiap situasi. Istilah yang digunakan adalag greater accuracy (ketepatan yang lebih besar) dari pada total accuracy (ketepatan menyeluruh), karena ketepatan seratus persen anatar komunikator dengan komunikan tidak mungkin dan tidak akan pernah terjadi karena pengalaman tidak akan sama-sama besar. Field of reference masing-masing individu tidaklah akan persis sama satu sama lain. Begitu juga frame of reference masing-masing individu terhadap sesuatu hal akan berbeda-beda.
A. Keampuhan Komunikasi Interpersonal Sebagai Agent of Change
Untuk mengetahui sejauhmana keampuhan Komunikasi Interpersonal sebagai agent of change, sebelumnya dapat kita lihat dari fungsi komunikasi seperti yang dikemukakan oleh Harold D. Lasswell di bab pertama tadi yaitu fungsi sebagai the transmission of the social heritage from one generation to the next a transmission of culture (kegaiatan mengkomunikasikan informasi, nilai, dan norma sosial dari suatu generasi ke generasi lain.
Generasi sekarang mempunyai ilmu pengetahuan berasal dari melalui transfer komunikasi dari generasi sebelumnya dan begitu pula dapat mengembangkan ilmu pengetahuan tersebut dengan melalui proses komunikasi. Begitu juga generasi sekarang mempunyai perilaku yang mempunyai nilai-nilai dan norma sosial yang luhur kalau generasi sebelumnya mentransfer dengan baik melalui Komunikasi Interpersonal terutama dalam pranata keluarga. Dengan demikian Komunikasi Interpersonal dapat merubah sikap (attitude change).
Dalam hubungan dengan perubahan sikap tersebut maka studi mengenai Komunikasi Interpersonal sangat penting sekali terutama di negara-negara yang sedang berkembang, termasuk di Indonesia, yang sedang digiatkan gerakan perunahan sikap penduduk dari alam tradisional ke alam modern, dari sikap yang menghambat kemajuan ke sikap berperanserta dengan pemerintah dalam mencapai kemajuan-kemajuan masyarakat. Oleh karena pentingnya perubagan sikap (attitude change) ini maka semenjak masa orde baru dalam beberapa departemen terdapat jabatan-jabatan fungsional, seperti Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana (PLKB), Penyuluh Penerangan, Penyuluh Kesehatan, dan Penyuluh Pertanian. Yang semuanya sebagai penggerak perubahan (change agent) untuk melaksanakan kegiatan berkomunikasi secara antar pribadi (Komunikasi Interpersonal) terutama dengan penduduk-penduduk desa.
Semenjak tahun 1970-an Pemerintah Indonesia (dalam hal ini dahulu ada Departemen Penerangan) mengakui adanya komunikasi antar pribadi (Komunikasi Interpersonal) untuk mempercepat pembangunan dan modernisasi. Hal ini terbukti dengan Gerakan Anjang-Sana yang dilakukan oleh petugas penyuluh terutama di desa-desa. Anjang-sana adalah komunikasi antar pribadi (Komunikasi Interpersonal) antara petugas penyuluh dengan penduduk, bertempat di rumah penduduk dan bersifat tidak resmi dan relax. Tujuan anjang-sana adalah merubah sikap penduduk sesuai dengan kebijakan (policy) pemerintah. Termasuk gerakan anjang-sana ini banyak digunakan oleh partai politik untuk mendapatkan dukungan penduduk dalam pemilihan umum.
Selanjutnya untuk mengetahui keampuhan Komunikasi Interpersonal sebagai agent of change dapat dilihat dari dua segi, yaitu :
a) Secara makro atau dalam sektor publik, Komunikasi Interpersonal dapat menentukan perubahan sikap anggota masyarakat terhadap hal-hal yang terjadi dalam kenegaraan atau kemasyarakatan.
Hasil penelitian Paul Lazarsfield dengan Gaudet dan Berelson (1978) di Erie Country – Ohio – USA mengenai keputusan pemberian suara dalam pemilihan presiden. Dalam penelitian tersebut hanya sedikit saja penduduk yang berubah pendapatnya yang disebabkan oleh suatu kampanye pemilu dan kalau pun ada yang berubah pendiriannya ternyata bukan karena pengaruh opinon leader (pemuka pendapat) maupun dari media massa, melainkan oleh Komunikasi Interpersonal dari orang-orang terdekatnya (keluarganya, sahabat, atau teman sejawatnya).
Dalam program pemerintah yang menyentuh seluruh masayarakat sampai pelosok desa (misalnya KB), keberhasilannya banyak ditentukan oleh kerja keras para penyuluh lapangan (PLKB) yang datang ke rumah-rumah penduduk secara informal (door to door) atau melalui Gerakan Anjang-sana seperti dikemukakan di atas tadi.
Keberhasilan suatu bisnis dalam memasarkan suatu produk banyak dilakukan melalui Komunikasi Interpersonal, yaitu melalui seorang Sales Promotion yang datang secara door to door ke penduduk, Apalagi jika itu suatu bisnis dalam bentuk Multi Level Marketing sangat tergantung sekali terhadap kemampuan melalukan Komunikasi Interpersonal.
b) Secara mikro atau dalam sektor domestik, yaitu lebih menyoroti bagaimana keampuhan Komunikasi Interpersonal dalam suatu keluarga untuk mewariskan nilai-nilai, norma, dan moral terhadap anak-anaknya. Untuk hal ini alangkah baiknya kita simak sebuah puisi berikut ini :
Children Learn What They Live
( by Dorothy Law Nolte )
If a child lives with criticism,
He learns to condemn.
If a child lives with hostility,
He learns to fight.
If a child lives with ridicule,
He learns to be shy.
If a child lives with shame,
He learns to feel guilty.
If a child lives with tolerance,
He learns to be pattient.
If a child lives with encouragement,
He learns to confident.
If a child lives with fairness,
He learns justice.
If a child lives with security,
He learns to have faiht.
If a child lives with approval,
He learns to leke himself.
If a child lives with acceptance and friendship,
He learns to find love in the world.
Terjemahan bebasnya sebagai berikut :
Anak Belajar Dari Kehidupannya
Jika anak dibesarkan dengan celaan,
Ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan,
Ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan,
Ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan,
Ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi,
Ia belajar menahan diri.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan,
Ia belajar pecaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan pujian,
Ia belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan,
Ia belajar keadilan.
Jika anak dibesarkan dengan dukungan,
Ia belajar menyenangi dirinya.
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan,
Ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.
Puisi tadi mengingatkan pada kita semua bagaimana seharusnya memperlakukan anak-anak kita (dalam artian mengadakan komunikasi interpersonal dalam mendidik mereka), dengan gambaran suatu perlakuan dengan akibat yang ditimbulkan perlakuan tersebut. Dengan demikian Komunikasi Interpersonal dalam keluarga terhadap anak-anak merupakan bentuk pola asuh yang sangat menentukan kepribadian anak-anak tersebut pada masa dewasanya. Dalam ajaran Islam terdapat sebuah hadits yang menggambarkan tanggung jawab orang tua dan tergantung bagaimana cara mendidik anak-anaknya akan menjadikan apa nanti masa depannya, yaitu :
“Setiap anak yang lahir itu dalam keadaan suci, kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan anak tersebut yahudi atau nasrani atau majusi”. (HR. Baihaqi)
Kemudian dalam Komunikasi Interpersonal terhadap anak-anak tidak dapat dengan cara paksaan atau memaksakan kehendak terhadap anak-anak, karena hal ini malah mengakibatkan terkekangnya perasaan anak dan malahan akan mengakibatkan anak melakukan pelarian terhadap perilaku yang meyimpang. Tentang akibat dari pemaksaan kehendak ini sudah diangkat dalam sebuah lagu Greatest Love of All yang populer Tahun 1980-an diciptakan dan dinyanyikan George Benson dan juga dinyanyikan kembali oleh Withney Houston (Lagu tersebut sangat mirip dengan puisi Khalil Gibran). Intisari lagu tersebut adalah :
“Anak-anak adalah masa depan kita
Bimbinglah mereka dengan baik
Dan biarkan mereka memilih jalannya sendiri
Tunjukan pada mereka semua keindahan yang ada dalam diri mereka
Tumbuhkan rasa bangga dalam diri mereka dan
Biarkan tawa mereka mengingatkan kita
Akan masa kecil kita …”.
Selanjutnya secara ilmiah bagaimana pengaruh Komunikasi Interpersonal dalam pendidikan anak telah diteliti oleh Susan Curtis pada Tahun 1970 di California terhadap kasus Genie. Dikarenakan tidak pernah mendapatkan Komunikasi Interpersonal yang wajar dari kedua orang tuanya maka Genie anak yang berusia 13 tahun tetapi perilakunya seperti anak usia 1 tahun. Dari penelitian kasus Genie tersebut maka dapat disimpulkan :
Komunikasi Interpersonal sangat essensial bagi pertumbuhan kepribadian manusia.
Komunikasi Interpersonal sangat erat kaitannya dengan perilaku dan pengalaman kesadaran manusia.
KOMUNIKASI INTERPERSONAL
Komunikasi Interpersonal atau disebut juga Komunikasi Antar Pesona atau Komunikasi Antar Pribadi adalah komunikasi yang dilakukan dua atau lebih dengan interaksi dan tatap muka satu sama lain, feedbacknya langsung diketahui dan efeknya pun cepat diketahui, dan sering kali tidak menggunakan media.
Komunikasi Interpersonal dalam arti luas adalah interaksi antara dua orang atau lebih tanpa mempersoalkan kenal atau tidak dengan lawan bicaranya. Misal seorang Sales Promotion yang datang door to door menjelaskan dan menawarkan suatu produk.
Komunikasi Interpersonal dalam arti sempit adalah interaksi yang dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan menekankan pada pendekatan empathy.
Empathy adalah sebagai kemampuan seseorang untuk memproyeksikan dirinya kepada peranan orang lain.
Menurut Onong Uchyana Effendi dalam buku Dimensi-dimensi Komunikasi menyatakan bahwa : “komunikasi antar pribadi (sering pula disebut dyadic communication) adalah komunikasi antara dua orang, dimana terjadi kontak langsung dalam bentuk percakapan”.
Efektifnya Komunikasi Interpersonal itu karena adanya arus balik langsung. Komunikator dapat melihat seketika tanggapan komunikan, baik secara verbal (dalam bentuk jawaban dengan kata) maupun secara non-verbal (dalam bentuk gerak-gerik) sehingga komunikator dapat mengulangi atau meyakinkan pesannya kepada komunikan. Pengertian efektif dalam Komunikasi Interpersonal ini adalah dalam hubungannya perubahan sikap (attitude change).
Efektivitas Komunikasi Interpersonal menurut Mc. Crosky, Larson & Knapp bahwa komunikasi yang efektif dapat dicapai dengan mengusahakan ketepatan (accuracy) yang paling tinggi derajatnya antara komunikator dengan komunikan dalam setiap situasi. Istilah yang digunakan adalag greater accuracy (ketepatan yang lebih besar) dari pada total accuracy (ketepatan menyeluruh), karena ketepatan seratus persen anatar komunikator dengan komunikan tidak mungkin dan tidak akan pernah terjadi karena pengalaman tidak akan sama-sama besar. Field of reference masing-masing individu tidaklah akan persis sama satu sama lain. Begitu juga frame of reference masing-masing individu terhadap sesuatu hal akan berbeda-beda.
A. Keampuhan Komunikasi Interpersonal Sebagai Agent of Change
Untuk mengetahui sejauhmana keampuhan Komunikasi Interpersonal sebagai agent of change, sebelumnya dapat kita lihat dari fungsi komunikasi seperti yang dikemukakan oleh Harold D. Lasswell di bab pertama tadi yaitu fungsi sebagai the transmission of the social heritage from one generation to the next a transmission of culture (kegaiatan mengkomunikasikan informasi, nilai, dan norma sosial dari suatu generasi ke generasi lain.
Generasi sekarang mempunyai ilmu pengetahuan berasal dari melalui transfer komunikasi dari generasi sebelumnya dan begitu pula dapat mengembangkan ilmu pengetahuan tersebut dengan melalui proses komunikasi. Begitu juga generasi sekarang mempunyai perilaku yang mempunyai nilai-nilai dan norma sosial yang luhur kalau generasi sebelumnya mentransfer dengan baik melalui Komunikasi Interpersonal terutama dalam pranata keluarga. Dengan demikian Komunikasi Interpersonal dapat merubah sikap (attitude change).
Dalam hubungan dengan perubahan sikap tersebut maka studi mengenai Komunikasi Interpersonal sangat penting sekali terutama di negara-negara yang sedang berkembang, termasuk di Indonesia, yang sedang digiatkan gerakan perunahan sikap penduduk dari alam tradisional ke alam modern, dari sikap yang menghambat kemajuan ke sikap berperanserta dengan pemerintah dalam mencapai kemajuan-kemajuan masyarakat. Oleh karena pentingnya perubagan sikap (attitude change) ini maka semenjak masa orde baru dalam beberapa departemen terdapat jabatan-jabatan fungsional, seperti Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana (PLKB), Penyuluh Penerangan, Penyuluh Kesehatan, dan Penyuluh Pertanian. Yang semuanya sebagai penggerak perubahan (change agent) untuk melaksanakan kegiatan berkomunikasi secara antar pribadi (Komunikasi Interpersonal) terutama dengan penduduk-penduduk desa.
Semenjak tahun 1970-an Pemerintah Indonesia (dalam hal ini dahulu ada Departemen Penerangan) mengakui adanya komunikasi antar pribadi (Komunikasi Interpersonal) untuk mempercepat pembangunan dan modernisasi. Hal ini terbukti dengan Gerakan Anjang-Sana yang dilakukan oleh petugas penyuluh terutama di desa-desa. Anjang-sana adalah komunikasi antar pribadi (Komunikasi Interpersonal) antara petugas penyuluh dengan penduduk, bertempat di rumah penduduk dan bersifat tidak resmi dan relax. Tujuan anjang-sana adalah merubah sikap penduduk sesuai dengan kebijakan (policy) pemerintah. Termasuk gerakan anjang-sana ini banyak digunakan oleh partai politik untuk mendapatkan dukungan penduduk dalam pemilihan umum.
Selanjutnya untuk mengetahui keampuhan Komunikasi Interpersonal sebagai agent of change dapat dilihat dari dua segi, yaitu :
a) Secara makro atau dalam sektor publik, Komunikasi Interpersonal dapat menentukan perubahan sikap anggota masyarakat terhadap hal-hal yang terjadi dalam kenegaraan atau kemasyarakatan.
Hasil penelitian Paul Lazarsfield dengan Gaudet dan Berelson (1978) di Erie Country – Ohio – USA mengenai keputusan pemberian suara dalam pemilihan presiden. Dalam penelitian tersebut hanya sedikit saja penduduk yang berubah pendapatnya yang disebabkan oleh suatu kampanye pemilu dan kalau pun ada yang berubah pendiriannya ternyata bukan karena pengaruh opinon leader (pemuka pendapat) maupun dari media massa, melainkan oleh Komunikasi Interpersonal dari orang-orang terdekatnya (keluarganya, sahabat, atau teman sejawatnya).
Dalam program pemerintah yang menyentuh seluruh masayarakat sampai pelosok desa (misalnya KB), keberhasilannya banyak ditentukan oleh kerja keras para penyuluh lapangan (PLKB) yang datang ke rumah-rumah penduduk secara informal (door to door) atau melalui Gerakan Anjang-sana seperti dikemukakan di atas tadi.
Keberhasilan suatu bisnis dalam memasarkan suatu produk banyak dilakukan melalui Komunikasi Interpersonal, yaitu melalui seorang Sales Promotion yang datang secara door to door ke penduduk, Apalagi jika itu suatu bisnis dalam bentuk Multi Level Marketing sangat tergantung sekali terhadap kemampuan melalukan Komunikasi Interpersonal.
b) Secara mikro atau dalam sektor domestik, yaitu lebih menyoroti bagaimana keampuhan Komunikasi Interpersonal dalam suatu keluarga untuk mewariskan nilai-nilai, norma, dan moral terhadap anak-anaknya. Untuk hal ini alangkah baiknya kita simak sebuah puisi berikut ini :
Children Learn What They Live
( by Dorothy Law Nolte )
If a child lives with criticism,
He learns to condemn.
If a child lives with hostility,
He learns to fight.
If a child lives with ridicule,
He learns to be shy.
If a child lives with shame,
He learns to feel guilty.
If a child lives with tolerance,
He learns to be pattient.
If a child lives with encouragement,
He learns to confident.
If a child lives with fairness,
He learns justice.
If a child lives with security,
He learns to have faiht.
If a child lives with approval,
He learns to leke himself.
If a child lives with acceptance and friendship,
He learns to find love in the world.
Terjemahan bebasnya sebagai berikut :
Anak Belajar Dari Kehidupannya
Jika anak dibesarkan dengan celaan,
Ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan,
Ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan,
Ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan,
Ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi,
Ia belajar menahan diri.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan,
Ia belajar pecaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan pujian,
Ia belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan,
Ia belajar keadilan.
Jika anak dibesarkan dengan dukungan,
Ia belajar menyenangi dirinya.
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan,
Ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.
Puisi tadi mengingatkan pada kita semua bagaimana seharusnya memperlakukan anak-anak kita (dalam artian mengadakan komunikasi interpersonal dalam mendidik mereka), dengan gambaran suatu perlakuan dengan akibat yang ditimbulkan perlakuan tersebut. Dengan demikian Komunikasi Interpersonal dalam keluarga terhadap anak-anak merupakan bentuk pola asuh yang sangat menentukan kepribadian anak-anak tersebut pada masa dewasanya. Dalam ajaran Islam terdapat sebuah hadits yang menggambarkan tanggung jawab orang tua dan tergantung bagaimana cara mendidik anak-anaknya akan menjadikan apa nanti masa depannya, yaitu :
“Setiap anak yang lahir itu dalam keadaan suci, kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan anak tersebut yahudi atau nasrani atau majusi”. (HR. Baihaqi)
Kemudian dalam Komunikasi Interpersonal terhadap anak-anak tidak dapat dengan cara paksaan atau memaksakan kehendak terhadap anak-anak, karena hal ini malah mengakibatkan terkekangnya perasaan anak dan malahan akan mengakibatkan anak melakukan pelarian terhadap perilaku yang meyimpang. Tentang akibat dari pemaksaan kehendak ini sudah diangkat dalam sebuah lagu Greatest Love of All yang populer Tahun 1980-an diciptakan dan dinyanyikan George Benson dan juga dinyanyikan kembali oleh Withney Houston (Lagu tersebut sangat mirip dengan puisi Khalil Gibran). Intisari lagu tersebut adalah :
“Anak-anak adalah masa depan kita
Bimbinglah mereka dengan baik
Dan biarkan mereka memilih jalannya sendiri
Tunjukan pada mereka semua keindahan yang ada dalam diri mereka
Tumbuhkan rasa bangga dalam diri mereka dan
Biarkan tawa mereka mengingatkan kita
Akan masa kecil kita …”.
Selanjutnya secara ilmiah bagaimana pengaruh Komunikasi Interpersonal dalam pendidikan anak telah diteliti oleh Susan Curtis pada Tahun 1970 di California terhadap kasus Genie. Dikarenakan tidak pernah mendapatkan Komunikasi Interpersonal yang wajar dari kedua orang tuanya maka Genie anak yang berusia 13 tahun tetapi perilakunya seperti anak usia 1 tahun. Dari penelitian kasus Genie tersebut maka dapat disimpulkan :
Komunikasi Interpersonal sangat essensial bagi pertumbuhan kepribadian manusia.
Komunikasi Interpersonal sangat erat kaitannya dengan perilaku dan pengalaman kesadaran manusia.
Sabtu, 12 April 2008
PROSES KOMUNIKASI
PROSES KOMUNIKASI
Seperti kita ketahui dari kesimpulan definisi komunikasi, bahwa komunikasi pada hakikatnya adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan. Maka untuk mengetahui bagaimana proses komunikasi tersebut dapat dilihat dari katagori proses komunikasi dengan peninjauan dari dua perspektif, yaitu :
Proses Komunikasi Dalam Perspektif Psikologis
Dalam perspektif ini komunikasi terjadi antara komunikator dengan komunikan dalam menyampaikan pesan maka terjadi proses dalam dirinya masing-masing.
Pesan komunikasi tersebut terdiri dari dua hal, yaitu :
Pertama isi pesan yang berupa pikiran, Walter Lippman menyebut isi pesan sebagai “picture in our head” dan kedua lambang yang pada umumnya adalah bahasa, baik dalam bahasa verbal ( dapat berpupa oral/terucap atau dapat berupa write/tulisan) maupun dalam bahasa non-verbal.
Dalam perspektif psikologis komunikator dalam pikiranya berusaha melakukan persepsi atau memahami dan selanjutnya memberikan makna isi pesan komunikasi. Upaya tersebut dinamakan encoding. Kemudian pesan tadi dikirimkan pada komunikan. Maka dalam pikiran komunikan juga terdapat proses upaya melakukan persepsi untuk memahami dan memaknai isi pesan komunikasi tadi, yang istilah prosesnya disebut decoding.
Proses Komunikasi Dalam Perspektif Mekanistis
Proses Komunikasi dalam perspektif mekanistis diklasifikasikan dalam proses komunikasi secara primer dan secara sekunder.
Proses Komunikasi Secara Primer
Proses Komunikasi Secara Primer disebut juga Komunikasi Diadik atau two way communication adalah proses penyampaian lambang-lambang antara komunikator pada komunikan secara langsung berhadapan muka (face to face) tanpa menggunakan perantara atau media. Menurut Mitcnell V. Chanley bahwa secara primer proses komunikasi dapat digambarkan sebagai berikut :
FEEDBACK
Sebelum komunikator mengirim pesan-pesan kepada komunikan ia memberi makna pada pesan-pesan itu (encode). Pesan ditangkap komunikan dan diberi makna sesuai dengan konsep-konsep yang ia miliki (decode). Melalui proses interpretasi, yaitu menafsirkan makna-makna tersebut dari berbagai sudut pandang (perspektif), akan dihasilkan makna tertentu sesuai dengan kerangka pengalaman (field of reference) dan kerangka acuan (frame of reference) yang dimiliki oleh komunikan.
Keberhasilan komunikasi (yaitu komunikasi yang efektif) sangat ditentukan oleh beberapa besar kesamaan pengertian yang berhasil dibangun bersama (sharing). Semakin luas daerah overlap (saling pengertian) tercipta, semakin berhasil suatu proses komunikasi mencapai sasarannya.
Berdasarkan prosesnya, komunikasi dapat diklasifikasikan dalam :
Verbal Communication adalah komunikasi dengan menggunakan lambang bahasa (lisan atau pun tulisan). Bahasa adalah lambang yang paling banyak digunakan dalam komunikasi karena selain dapat mewakili kenyataan yang konkrit dan objektif dari lingkungan, juga dapat mewakili hal yang abstrak. Bahasa tulisan banyak digunakan dalam komunikasi massa.
Non-verbal Communication adalah komunikasi dengan gejala yang menyangkut bahasa tubuh dan gejala lain.
Ciri-ciri komunikasi diadik adalah sebagai berikut :
Komunikasi dilakukan antara dua orang atau tiga orang
Komunikasi dilakukan langsung (face to face) atau kadang menggukan media telephon.
Komunikator dapat berubah statusnya menjadi komunikan, begitu juga sebaliknya komunikan dapat berubah menjadi komunikator, dan seterusnya berputar berganti-ganti selama proses Komunikasi Interpersonal berlangsung. Tetapi komunikator utama adalah si pembawa pesan atau yang pertama-tama menyampaikan pesan (message) sebab dialah yang memulai komunikasi dan mempunyai tujuan.
Efek komunikasi dapat terlihat langsung , baik secara verbal (dengan ucapan mengiyakan/menjawab) maupun secara non-verbal ( dengan bahasa tubuh/kinesik/kial dan isyarat).
Bahasa tubuh atau kinesik meliputi :
• Gestures (gerak-gerik), missal gerak sering membetulkan posisi duduk tanda dari gelisah
• Postures (sikap tubuh), missal di Indonesia dikenal :
Membusungkan dada tandanya sombong
Menundukan kepala tandanya merendah
Berdiri tegak tandanya berani
Bertopang dagu tandanya bersedih
Menadahkan tangan tandanya bermohon,
Dan sebagainya.
Facial expressions (ekspresi muka), misalnya :
Muka kaku disertai mata terbelalak tanda dari takut
Muka ditekan disertai mata dikerutkan ke depan tanda dari muak
Muka rileks disertai senyum tanda dari bahagia
Muka kencang disertai mata melotot tanda dari marah
Symbolic cloting (pakaian simbolik), misalnya warna pakaian serba hitam tandanya berkabung duka. Keberhasilan komunikasi diadik adalah dalam prosesnya si komunikator harus berupaya menyamakan field of reference dan frame of reference dari komunikan, disamping itu kedua pihak harus mempunyai emphaty.
Proses Komunikasi Secara Sekunder
Proses Komunikasi secara sekunder disebut juga Komunikasi Triadik atau multi level communication adalah proses penyampaian lambang-lambang antara komunikator dengan komunikan secara tidak langsung tetapi menggunakan perantara dengan media.
Sedangkan kalau menurut Dan B. Curtis proses komunikasi kalau dikaitkan dengan konteks adalah sebagai berikut :
Seperti kita ketahui dari kesimpulan definisi komunikasi, bahwa komunikasi pada hakikatnya adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan. Maka untuk mengetahui bagaimana proses komunikasi tersebut dapat dilihat dari katagori proses komunikasi dengan peninjauan dari dua perspektif, yaitu :
Proses Komunikasi Dalam Perspektif Psikologis
Dalam perspektif ini komunikasi terjadi antara komunikator dengan komunikan dalam menyampaikan pesan maka terjadi proses dalam dirinya masing-masing.
Pesan komunikasi tersebut terdiri dari dua hal, yaitu :
Pertama isi pesan yang berupa pikiran, Walter Lippman menyebut isi pesan sebagai “picture in our head” dan kedua lambang yang pada umumnya adalah bahasa, baik dalam bahasa verbal ( dapat berpupa oral/terucap atau dapat berupa write/tulisan) maupun dalam bahasa non-verbal.
Dalam perspektif psikologis komunikator dalam pikiranya berusaha melakukan persepsi atau memahami dan selanjutnya memberikan makna isi pesan komunikasi. Upaya tersebut dinamakan encoding. Kemudian pesan tadi dikirimkan pada komunikan. Maka dalam pikiran komunikan juga terdapat proses upaya melakukan persepsi untuk memahami dan memaknai isi pesan komunikasi tadi, yang istilah prosesnya disebut decoding.
Proses Komunikasi Dalam Perspektif Mekanistis
Proses Komunikasi dalam perspektif mekanistis diklasifikasikan dalam proses komunikasi secara primer dan secara sekunder.
Proses Komunikasi Secara Primer
Proses Komunikasi Secara Primer disebut juga Komunikasi Diadik atau two way communication adalah proses penyampaian lambang-lambang antara komunikator pada komunikan secara langsung berhadapan muka (face to face) tanpa menggunakan perantara atau media. Menurut Mitcnell V. Chanley bahwa secara primer proses komunikasi dapat digambarkan sebagai berikut :
FEEDBACK
Sebelum komunikator mengirim pesan-pesan kepada komunikan ia memberi makna pada pesan-pesan itu (encode). Pesan ditangkap komunikan dan diberi makna sesuai dengan konsep-konsep yang ia miliki (decode). Melalui proses interpretasi, yaitu menafsirkan makna-makna tersebut dari berbagai sudut pandang (perspektif), akan dihasilkan makna tertentu sesuai dengan kerangka pengalaman (field of reference) dan kerangka acuan (frame of reference) yang dimiliki oleh komunikan.
Keberhasilan komunikasi (yaitu komunikasi yang efektif) sangat ditentukan oleh beberapa besar kesamaan pengertian yang berhasil dibangun bersama (sharing). Semakin luas daerah overlap (saling pengertian) tercipta, semakin berhasil suatu proses komunikasi mencapai sasarannya.
Berdasarkan prosesnya, komunikasi dapat diklasifikasikan dalam :
Verbal Communication adalah komunikasi dengan menggunakan lambang bahasa (lisan atau pun tulisan). Bahasa adalah lambang yang paling banyak digunakan dalam komunikasi karena selain dapat mewakili kenyataan yang konkrit dan objektif dari lingkungan, juga dapat mewakili hal yang abstrak. Bahasa tulisan banyak digunakan dalam komunikasi massa.
Non-verbal Communication adalah komunikasi dengan gejala yang menyangkut bahasa tubuh dan gejala lain.
Ciri-ciri komunikasi diadik adalah sebagai berikut :
Komunikasi dilakukan antara dua orang atau tiga orang
Komunikasi dilakukan langsung (face to face) atau kadang menggukan media telephon.
Komunikator dapat berubah statusnya menjadi komunikan, begitu juga sebaliknya komunikan dapat berubah menjadi komunikator, dan seterusnya berputar berganti-ganti selama proses Komunikasi Interpersonal berlangsung. Tetapi komunikator utama adalah si pembawa pesan atau yang pertama-tama menyampaikan pesan (message) sebab dialah yang memulai komunikasi dan mempunyai tujuan.
Efek komunikasi dapat terlihat langsung , baik secara verbal (dengan ucapan mengiyakan/menjawab) maupun secara non-verbal ( dengan bahasa tubuh/kinesik/kial dan isyarat).
Bahasa tubuh atau kinesik meliputi :
• Gestures (gerak-gerik), missal gerak sering membetulkan posisi duduk tanda dari gelisah
• Postures (sikap tubuh), missal di Indonesia dikenal :
Membusungkan dada tandanya sombong
Menundukan kepala tandanya merendah
Berdiri tegak tandanya berani
Bertopang dagu tandanya bersedih
Menadahkan tangan tandanya bermohon,
Dan sebagainya.
Facial expressions (ekspresi muka), misalnya :
Muka kaku disertai mata terbelalak tanda dari takut
Muka ditekan disertai mata dikerutkan ke depan tanda dari muak
Muka rileks disertai senyum tanda dari bahagia
Muka kencang disertai mata melotot tanda dari marah
Symbolic cloting (pakaian simbolik), misalnya warna pakaian serba hitam tandanya berkabung duka. Keberhasilan komunikasi diadik adalah dalam prosesnya si komunikator harus berupaya menyamakan field of reference dan frame of reference dari komunikan, disamping itu kedua pihak harus mempunyai emphaty.
Proses Komunikasi Secara Sekunder
Proses Komunikasi secara sekunder disebut juga Komunikasi Triadik atau multi level communication adalah proses penyampaian lambang-lambang antara komunikator dengan komunikan secara tidak langsung tetapi menggunakan perantara dengan media.
Sedangkan kalau menurut Dan B. Curtis proses komunikasi kalau dikaitkan dengan konteks adalah sebagai berikut :
Cakupan/Ruang Lingkup Komunikasi
Cakupan/Ruang Lingkup Komunikasi
Menurut Onong Uchjana Effendy dalam buku Dimensi Komunikasi menyatakan bahwa ruang lingkup/cakupan komunikasi sebagai berikut :
1. Bentuk Komunikasi :
a) Personnal Communication (Komunikasi Pribadi) :
Intrapersonnal Communication (Komunikasi Intrapribadi)
Interpersonnal Communication (Komunikasi Interpersonal)
b) Group Communication (Komunikasi Kelompok) :
Small Group Communication (Lecture, Panel Discussion, Symposium, Seminar,
Brainstorming, Ect.)Large Group Communication / Public Speaking.
c) Mass Communication (Komunikasi Massa dengan medianya Pers, Radio, TV, Film,
dsb.)
2. Sifat Komunikasi :
a) Verbal :
Oral (Ucapan)
Written (Tulisan)
b) Non-verbal :
Kinesikal (bahasa tubuh):
Gestural (gerak-gerik tubuh)
Postural (sikap tubuh)
Facial Expressions (akspresi muka)
Symbolic Cloting (pakaian symbol)
Signal (Bel, Bedug, Morse, Simapore)
Pictorial (Poster, Billboard, Rambu-rambu lalu lintas)
3. Teknik Komunikasi :
Journalism
Public Relations
Advertising
Exhibition / Exposition
Propaganda
Publicity Etc.
4. Metoda Komunikasi :
Informative Communication
Persuasive Communication
Coersive / Intructive Communication
5. Fungsi Komunikasi :
Public Information
Publik Education
Publik Persuasion
Publik Entertaiment
6. Tujuan Komunikasi :
Social Change / Social Participation
Attitude Change
Opinion Change
Behaviour Change
7. Model Komunikasi :
One Step Flow Communication
Two Step Flow Communication
Multi Step Flow Communication
8. Bidang Komunikasi :
Social Communication
Managemen Communication
Bussiness Communication
Political Communication
Cultural Communication
Traditional Communication
International Communication
9. Sistem Komunikasi :
• Social Responsibility System
• Authoritian System
10. Interaksi Komunikasi :
• Komunikasi Sosial
• Komunikasi Media (1994 : 10 – 11)
Menurut Onong Uchjana Effendy dalam buku Dimensi Komunikasi menyatakan bahwa ruang lingkup/cakupan komunikasi sebagai berikut :
1. Bentuk Komunikasi :
a) Personnal Communication (Komunikasi Pribadi) :
Intrapersonnal Communication (Komunikasi Intrapribadi)
Interpersonnal Communication (Komunikasi Interpersonal)
b) Group Communication (Komunikasi Kelompok) :
Small Group Communication (Lecture, Panel Discussion, Symposium, Seminar,
Brainstorming, Ect.)Large Group Communication / Public Speaking.
c) Mass Communication (Komunikasi Massa dengan medianya Pers, Radio, TV, Film,
dsb.)
2. Sifat Komunikasi :
a) Verbal :
Oral (Ucapan)
Written (Tulisan)
b) Non-verbal :
Kinesikal (bahasa tubuh):
Gestural (gerak-gerik tubuh)
Postural (sikap tubuh)
Facial Expressions (akspresi muka)
Symbolic Cloting (pakaian symbol)
Signal (Bel, Bedug, Morse, Simapore)
Pictorial (Poster, Billboard, Rambu-rambu lalu lintas)
3. Teknik Komunikasi :
Journalism
Public Relations
Advertising
Exhibition / Exposition
Propaganda
Publicity Etc.
4. Metoda Komunikasi :
Informative Communication
Persuasive Communication
Coersive / Intructive Communication
5. Fungsi Komunikasi :
Public Information
Publik Education
Publik Persuasion
Publik Entertaiment
6. Tujuan Komunikasi :
Social Change / Social Participation
Attitude Change
Opinion Change
Behaviour Change
7. Model Komunikasi :
One Step Flow Communication
Two Step Flow Communication
Multi Step Flow Communication
8. Bidang Komunikasi :
Social Communication
Managemen Communication
Bussiness Communication
Political Communication
Cultural Communication
Traditional Communication
International Communication
9. Sistem Komunikasi :
• Social Responsibility System
• Authoritian System
10. Interaksi Komunikasi :
• Komunikasi Sosial
• Komunikasi Media (1994 : 10 – 11)
Prinsip Dasar Komunikasi
Prinsip Dasar Komunikasi
Menurut Daan B. Curtis & Co. dalam buku Komunikasi Bisnis Profesional menyatakan bahwa prinsip-prinsip komunikasi meliputi :
Komunikasi tidak mungkin dihindari. Menurut De Vito bahwa komunikasi tidak dapat dielakkan sehingga kita tidak dapat tidak berkomunikasi dan tidak dapat tidak memberikan tanggapan. Misalnya dalam suatu kelas atau suatu rapat ada suatu intruksi untuk “tidak menunjukkan reaksi” tapi itu merupakan suatu intruksi yang mustahil untuk dilakukan. Dalam hal ini mungkin ada orang yang menganggukkan kepala atau tetap diam tetapi orang lain mungkin mengartikan lain terhadap perilaku tersebut.
Prinsip sebagian besar komunikasi adalah non-verbal. Walau dalam komunikasi verbal tetapi komunikan menanggapi pesan itu selain pesan yang diucapkan tetapi juga menangkap sebagian besar dari penekanan dan pembawan pesan tersebut oleh komunikan. Sebagian besar kesan dibuat untuk menanggapi isyarat non-verbal. Komunikasi non-verbal (nirlisan) adalah komunikasi yang tidak disampaikan melalui kata-kata, berisi penekanan, pelengkap, bantahan, keteraturan, pengulangan, atau pengganti pesan verbal.
Penekanan adalah penyorotan tajam atau penekanan beberapa bagian pesan verbal
Pelengkap adalah penguat sikap atau sifat pesan verbal
Bantahan adalah menunjukkan perilaku yang tidak mempercayai pesan verbal
Keteraturan adalah keterkendalian arah pesan verbal
Pengulangan adalah mengulangi pernyataan pesan verbal dengan perilaku non-verbal
Pengganti adalah penggantian pesan verbal dengan non-verbal yang memiliki arti serupa.
Prinsip konteks (lingkungan) yang mempengaruhi komunikasi. Prinsip ini berkaitan dengan ekologi dalam komunikasi. Komunikator harus dapat mengendalikan konteks (sekurang-kurangnya aspek yang paling negatif) jangan konteks (lingkungan) yang mengendalikan keberhasilan komunikator. Cara yang ditempuh adalah mempertimbangkan norma, waktu, kondisi fisik (warna, keleluasaan, temperatur, bunyi, cahaya, dan lain-lain) juga kondisi psikologis (suasana hati, peran, permainan, keramahtamahan, formalitas, dan lain-lain).
Arti pesan terdapat pada orang-orang bukan dalam kata-kata. Arti pesan terdapat pada persepsi, pada pengurai sandi (decoding), sehingga dalam komunikasi ada istilah; Words don’t mean ; people mean (kata-kata tidak mengandung makna namun oranglah yang memberikan makna pada kata-kata tersebut). Dalam hal ini orang-orang “memberi arti” tapi kata-kata tidak. Pesan yang diingat oleh orang-orang seringkali bukan pesan yang dimaksud si komunikator tetapi apa pun yang diinterpretasikan oleh pendengar (komunikan). Komunikan mungkin memproses informasi tersebut dengan cara yang tidak dapat diperkirakan komunikator.
Komunikasi tidak dapat diubah. Dalam hal ini apabila komunikator telah mengirimkan pesan yang salah maka tidak dapat diubah. Upaya yang dilakukan hanya dapat memberikan informasi tambahan atau rasionalisasi terhadap tindakan komunikator terdahulu tetapi hanya memodifikasi kesan yang telah dibuat. Walau andaikan pesan itu direkam video, komunikan tidak selalu memantau kesan pertama.
Gangguan mempengaruhi komunikasi (noise). Setiap proses komunikasi pasti ada faktor noise yaitu faktor yang mempengaruhi pengiriman pesan yang jelas dan akurat atau disini juga gangguan dalam saluran komunikasi. Komunikator harus menyadari bahwa setiap orang yang berupaya mendengarnya memiliki gangguan bersaing (dapat karena rasa lapar, kelelahan, dan sebagainya). Ia harus memperkecil gangguan di dalam dirinya dan bersaing secara efektif dengan gangguan yang tidak dapat dikendalikannya yang terdapat dalam diri pendengarnya. Atau juga gangguan semantik pada komunikasi verbal.
Komunikasi itu sirkuler bukan linier. Dalam proses komunikasi orang-orang mengirim dan menerima komunikasi secara serempak. Proses komunikasi pada saat pengirim menyandikan pesan (encoding) akan dikirim melalui saluran kepada penerima, bahkan sebelum distimulasikan untuk menyandikan pesan. Belum lagi bagi penerima pesan selain mendengarkan pesan ia juga memperhatikan tekanan pesannya, memperhatikan gerak-gerik si pembawa pesan, dan dalam benaknya juga timbul memaknakan pesan tadi (decoding). Karena aspek-aspeknya serempak tadi maka pesan komunikasi oleh Frank E.X. Dance dapat dianggap sebagai sebuah lingkaran (spiral helical).
Pentingnya menciptakan dasar pemufakatan. Komunikasi merupakan hal yang paling efisien pada saat partisipan membagi sejumlah pengalaman umum (field of reference). Pengalaman umum dicapai melalui penggunaan simbol dan pembicaraan pengalaman (sejarah) yang dibagi. Pada hal ini kesalahpahaman mungkin sedikit terjadi.
Komunikasi mempunyai efek. Komunikasi selalu menimbulkan beberapa jenis efek. Seperti orang berteriak dapat mempengaruhi pada orang berteriak itu sendiri. Oleh karena itu komunikasi melahirkan konsekuensi.
Etika komunikasi. Etika adalah pedoman tingkah laku dan penilaian moral. Etika komunikasi merupakan pertimbangan kebenaran atau kesalahan tindakan komunikasi tertentu. Pada komunikasi etis harus dapat menjawab pertanyaan sebagai berikut :
apakah informasi merupakan manfaat jangka panjang ?
apakah permintan informasi merupakan minat pihak-pihak yang telibat komunikas ?.
Semua pihak memiliki informasi dan pemahaman yang diperlukan untuk membuat pilihan yang diinformasikan ?
Apakah informasi itu benar atau berdasarkan kenyataan ?
Kualitas lebih penting dari kuantitas. Komunikasi yang efektif adalah yang berkualitas dari pada pesan-pesan yang lebih banyak (kuantitas). Pemahaman tentang hubungan yang erat antara etika dan komunikasi serta sadar bahwa peningkatan kualitas komunikasi walau tidak dapat menyelesaikan seluruh masalah komunikasi tetapi dapat menyelidiki struktur komunikasi.
Jaringan komunikasi (network communication). Jaringan kerja formal adalah sah (legal dalam suatu institusi) merupakan saluran tempat pesan berlaku dari suatu pihak kepada pihak lainnya. Jaringan kerja informal adalah saluran tidak resmi tempat berlakunya informasi dalam suatu instansi. Jaringan kerja informal berupa selentingan-selentingan (grapevenis) berupa kabar burung atau suatu informasi yang secara resmi belum diumumkan tetapi telah dibocorkan. Jaringan kerja informal ini lebih cepat, lebih kaya, seringkali lebih akurat dan komunikasi dilakukan secara langsung (Komunikasi Interpersonal ). (1992 : 23).
Menurut Daan B. Curtis & Co. dalam buku Komunikasi Bisnis Profesional menyatakan bahwa prinsip-prinsip komunikasi meliputi :
Komunikasi tidak mungkin dihindari. Menurut De Vito bahwa komunikasi tidak dapat dielakkan sehingga kita tidak dapat tidak berkomunikasi dan tidak dapat tidak memberikan tanggapan. Misalnya dalam suatu kelas atau suatu rapat ada suatu intruksi untuk “tidak menunjukkan reaksi” tapi itu merupakan suatu intruksi yang mustahil untuk dilakukan. Dalam hal ini mungkin ada orang yang menganggukkan kepala atau tetap diam tetapi orang lain mungkin mengartikan lain terhadap perilaku tersebut.
Prinsip sebagian besar komunikasi adalah non-verbal. Walau dalam komunikasi verbal tetapi komunikan menanggapi pesan itu selain pesan yang diucapkan tetapi juga menangkap sebagian besar dari penekanan dan pembawan pesan tersebut oleh komunikan. Sebagian besar kesan dibuat untuk menanggapi isyarat non-verbal. Komunikasi non-verbal (nirlisan) adalah komunikasi yang tidak disampaikan melalui kata-kata, berisi penekanan, pelengkap, bantahan, keteraturan, pengulangan, atau pengganti pesan verbal.
Penekanan adalah penyorotan tajam atau penekanan beberapa bagian pesan verbal
Pelengkap adalah penguat sikap atau sifat pesan verbal
Bantahan adalah menunjukkan perilaku yang tidak mempercayai pesan verbal
Keteraturan adalah keterkendalian arah pesan verbal
Pengulangan adalah mengulangi pernyataan pesan verbal dengan perilaku non-verbal
Pengganti adalah penggantian pesan verbal dengan non-verbal yang memiliki arti serupa.
Prinsip konteks (lingkungan) yang mempengaruhi komunikasi. Prinsip ini berkaitan dengan ekologi dalam komunikasi. Komunikator harus dapat mengendalikan konteks (sekurang-kurangnya aspek yang paling negatif) jangan konteks (lingkungan) yang mengendalikan keberhasilan komunikator. Cara yang ditempuh adalah mempertimbangkan norma, waktu, kondisi fisik (warna, keleluasaan, temperatur, bunyi, cahaya, dan lain-lain) juga kondisi psikologis (suasana hati, peran, permainan, keramahtamahan, formalitas, dan lain-lain).
Arti pesan terdapat pada orang-orang bukan dalam kata-kata. Arti pesan terdapat pada persepsi, pada pengurai sandi (decoding), sehingga dalam komunikasi ada istilah; Words don’t mean ; people mean (kata-kata tidak mengandung makna namun oranglah yang memberikan makna pada kata-kata tersebut). Dalam hal ini orang-orang “memberi arti” tapi kata-kata tidak. Pesan yang diingat oleh orang-orang seringkali bukan pesan yang dimaksud si komunikator tetapi apa pun yang diinterpretasikan oleh pendengar (komunikan). Komunikan mungkin memproses informasi tersebut dengan cara yang tidak dapat diperkirakan komunikator.
Komunikasi tidak dapat diubah. Dalam hal ini apabila komunikator telah mengirimkan pesan yang salah maka tidak dapat diubah. Upaya yang dilakukan hanya dapat memberikan informasi tambahan atau rasionalisasi terhadap tindakan komunikator terdahulu tetapi hanya memodifikasi kesan yang telah dibuat. Walau andaikan pesan itu direkam video, komunikan tidak selalu memantau kesan pertama.
Gangguan mempengaruhi komunikasi (noise). Setiap proses komunikasi pasti ada faktor noise yaitu faktor yang mempengaruhi pengiriman pesan yang jelas dan akurat atau disini juga gangguan dalam saluran komunikasi. Komunikator harus menyadari bahwa setiap orang yang berupaya mendengarnya memiliki gangguan bersaing (dapat karena rasa lapar, kelelahan, dan sebagainya). Ia harus memperkecil gangguan di dalam dirinya dan bersaing secara efektif dengan gangguan yang tidak dapat dikendalikannya yang terdapat dalam diri pendengarnya. Atau juga gangguan semantik pada komunikasi verbal.
Komunikasi itu sirkuler bukan linier. Dalam proses komunikasi orang-orang mengirim dan menerima komunikasi secara serempak. Proses komunikasi pada saat pengirim menyandikan pesan (encoding) akan dikirim melalui saluran kepada penerima, bahkan sebelum distimulasikan untuk menyandikan pesan. Belum lagi bagi penerima pesan selain mendengarkan pesan ia juga memperhatikan tekanan pesannya, memperhatikan gerak-gerik si pembawa pesan, dan dalam benaknya juga timbul memaknakan pesan tadi (decoding). Karena aspek-aspeknya serempak tadi maka pesan komunikasi oleh Frank E.X. Dance dapat dianggap sebagai sebuah lingkaran (spiral helical).
Pentingnya menciptakan dasar pemufakatan. Komunikasi merupakan hal yang paling efisien pada saat partisipan membagi sejumlah pengalaman umum (field of reference). Pengalaman umum dicapai melalui penggunaan simbol dan pembicaraan pengalaman (sejarah) yang dibagi. Pada hal ini kesalahpahaman mungkin sedikit terjadi.
Komunikasi mempunyai efek. Komunikasi selalu menimbulkan beberapa jenis efek. Seperti orang berteriak dapat mempengaruhi pada orang berteriak itu sendiri. Oleh karena itu komunikasi melahirkan konsekuensi.
Etika komunikasi. Etika adalah pedoman tingkah laku dan penilaian moral. Etika komunikasi merupakan pertimbangan kebenaran atau kesalahan tindakan komunikasi tertentu. Pada komunikasi etis harus dapat menjawab pertanyaan sebagai berikut :
apakah informasi merupakan manfaat jangka panjang ?
apakah permintan informasi merupakan minat pihak-pihak yang telibat komunikas ?.
Semua pihak memiliki informasi dan pemahaman yang diperlukan untuk membuat pilihan yang diinformasikan ?
Apakah informasi itu benar atau berdasarkan kenyataan ?
Kualitas lebih penting dari kuantitas. Komunikasi yang efektif adalah yang berkualitas dari pada pesan-pesan yang lebih banyak (kuantitas). Pemahaman tentang hubungan yang erat antara etika dan komunikasi serta sadar bahwa peningkatan kualitas komunikasi walau tidak dapat menyelesaikan seluruh masalah komunikasi tetapi dapat menyelidiki struktur komunikasi.
Jaringan komunikasi (network communication). Jaringan kerja formal adalah sah (legal dalam suatu institusi) merupakan saluran tempat pesan berlaku dari suatu pihak kepada pihak lainnya. Jaringan kerja informal adalah saluran tidak resmi tempat berlakunya informasi dalam suatu instansi. Jaringan kerja informal berupa selentingan-selentingan (grapevenis) berupa kabar burung atau suatu informasi yang secara resmi belum diumumkan tetapi telah dibocorkan. Jaringan kerja informal ini lebih cepat, lebih kaya, seringkali lebih akurat dan komunikasi dilakukan secara langsung (Komunikasi Interpersonal ). (1992 : 23).
Pengertian Komunikasi
PENGERTIAN KOMUNIKASI
A. Pengertian Dan Cakupan Komunikasi
Secara etimologis komunikasi terjemahan dari Bahasa Inggris Communication berasal dari Bahasa Latin commis yang artinya sama. Mengadakan komunikasi artinya mengadakan “kesamaan” dengan orang lain. Komunikasi pada hakekatnya adalah membuat komunikan (orang yang menerima pesan) dengan komunikator (orang yang memberi pesan) sama-sama atau sesuai (turned) untuk suatu pesan.
Kalau A.L. Kroeber & C. Kluckhohn telah mengumpulkan 164 definisi kebudayaan,
maka Felix F.X. Dance dalam buku Human Communication Theory
telah mengumpulkan 98 definisi komunikasi. Definsi-definisi tersebut dilatarbelakangi berbagai perspektif mekanistis, sosiologistis, dan psikologistis.
Dence sendiri mengartikan komunikasi dalam kerangka psikologi behavioristis sebagai usaha “menimbulkan respons melalui lambang-lambang verbal” ketika lambang-lambang verbal tersebut bertindak sebagai stimuli.
E.O. Wolman dalam buku Dictionary of Behavioral Science menyebutkan enam pengertian komunikasi :
Communication
1) The transmission of energy change from one place to another as in the nervous
system or transmission of sound waves;
2) The transmission or reception of signals or messages by organism;
3) The transmitted message;
4) (Communication theory). The process whereby system influence another system
throught regulation of the transmitted signals;
5) (K. Lewin) The influence of one personal region on another whereby a change
in one results in a corresponding change in the other region;
6) The message of a patient to his therapist in psychotherapy;
(Kalau diterjemahkan : Komunikasi adalah :
1) Penyampaian perubahan energi dari suatu tempat ke tempat lain seperti dalam
sistem saraf atau penyampaian gelombang-gelombang suara;
2) Penyampaian atau penerimaan signal atau pesan oleh organisme;
3) Pesan yang disampaikan;
4) (Teori Komunikasi). Proses yang dilakukan satu sistem untuk mempengaruhi
sistem yang lain melalui pengaturan signal-signal yang disampaikan;
5) (K. Lewin). Pengaruh satu wilayah pesona pada wilayah pesona yang lain
sehingga perubahan dalam satu wilayah menimbulkan perubahan yang berkaitan
pada wilayah lain;
6) Pesan pasien kepada pemberi terapi dalam psikoterapi;). (1973 : 69).
Selanjutnya Redi Panuju mendefinisikan bahwa :
“komunikasi sering diartikan sebagai upaya pemindahan/transfer informasi/pesan-pesan (masseges) dari pengirim pesan (komunikator) kepada penerima pesan (komunikan) untuk tercapai kondisi saling pengertian (mutual understanding)”.
Onong Uchjana Effendi dalam buku Dimensi – dimensi Komunikasi mendefinisikan bahwa :
“Komunikasi adalah penyampaian lambang yang berarti oleh seseorang kepada orang lain, baik dengan maksud agar mengerti maupun agar berubah perilakunya”.
Carl J. Hovland memberikan definisi komunkasi :
“the process by wich an individual (the communicator) transmits stimuli (usually verbal symbols) to modify the behaviour of other individuals (communicates)”.
Artinya bahwa komunikasi adalah proses (komunikator) menyampaikan perangsang-perangsang (biasanya lambang-lambang dalam bentuk kata-kata) untuk merubah tingkah laku orang-orang lain (komunikan).
Sedangkan Ilmu Komunikasi menurut Hovland adalah :
“suatu upaya yang sistematis untuk merumuskan secara tegas asas-asas dan atas dasar asas-asas tersebut disampaikan informasi serta dibentuk pendapat dan sikap”.
Astrid S. Susanto membedakan arti antara communication dengan communications. Communication adalah :
proses pengoperan lambang-lambang yang mengandung arti (sebagaimana menjadi pokok dalam ilmu komunikasi). Sedangkan communications sebagai proses komunikasi dengan penggunaan alat-alat mekanis maupun elektris (seperti banyak digunakan dalam media massa).
Mengenai media massa sendiri tidak dapat disamakan dengan mass communication. Media massa adalah sarana atau alat untuk menyampaikan komunikasi terhadap orang banyak. Sedang mass communication adalah tatanan komunikasi yang komunikatornya berhadapan dengan banyak orang (banyak komunikan).
B. Fungsi Dan Tujuan Komunikasi
Fungsi komunikasi menurut Harol D. Lasswell adalah sebagai berikut :
The surveillance of the environment, fungsi komunikasi adalah untuk mengumpulkan dan menyebarkan informasi mengenai kejadian dalam suatu lingkungan (kalau dalam media massa hal ini sebagai penggarapan berita).
The correlation of correlation of the parts of society in responding to the environment, dalam hal ini fungsi komunikasi mencakup interpretasi terhadap informasi mengenai lingkungan (disini dapat diidentifikasi sebagai tajuk rencana atau propaganda).
The transmission of the social heritage from one generation to the next, dalam hal ini transmission of culture difocuskan kepada kegiatan mengkomunikasikan informasi, nilai-nilai, dan norma sosial dari suatu generasi ke generasi lain.
Onong Uchjana Effendi dalam buku Dimensi – dimensi Komunikasi mempunyai pendapat sebagai berikut :
Public Information
Publik Education
Publik Persuasion
Publik Entertainment
Ad.
1. Memberikan informasi kepada masyarakat. Karena perilaku menerima informasi merupakan perilaku alamiah masyarakat. Dengan menerima informasi yang benar masyarakat akan merasa aman tentram. Informasi akurat diperlukan oleh beberapa bagian masyarakat untuk bahan dalam pembuatan keputusan. Informasi dapat dikaji secara mendalam sehingga melahirkan teori baru dengan demikian akan menambah perkembangan ilmu pengetahuan. Informasi disampaikan pada masyarakat melalui berbagai tatanan komunikasi, tetapi yang lebih banyak melalui kegiatan mass communication .
2. Mendidik masyarakat. Kegiatan komunikasi pada masyarakat dengan memberiakan berbagai informasi tidak lain agar masyarakat menjadi lebih baik, lebih maju, lebih berkembang kebudayaannya. Kegiatan mendidik masyarakat dalam arti luas adalah memberikan berbagai informasi yang dapat menambah kemajuan masyarakat dengan tatanan komunikasi massa. Sedangkan kegiatan mendidik masyarakat dalam arti sempit adalah memberikan berbagai informasi dan juga berbagai ilmu pengetahuan melalui berbagai tatanan komunikasi kelompok pada pertemuan-pertemuan, kelas-kelas, dan sebagainya. Tetapi kegiatan mendidik masyarakat yang paling efektif adalah melalui kegiatan Komunikasi Interpersonal antara penyuluh dengan anggota masyarakat, antara guru dengan murid, antara pimpinan dengan bawahan, dan antara orang tua dengan anak-anaknya.
3. Mempengaruhi masyarakat. Kegiatan memberikan berbagai informasi pada masyarakat juga dapat dijadikan sarana untuk mempengaruhi masyarakat tersebut ke arah perubahan sikap dan perilaku yang diharapkan. Misalnya mempengaruhi masyarakat untuk mendukung suatu pilihan dalam pemilu dapat dilakukan melalui komunikasi massa dalam bentuk kampanye, propaganda, selebaran-selebaran, spanduk dan sebagainya. Tetapi berdasarkan beberapa penelitian kegiatan mempengaruhi masyarakat akan lebih efektif dilakukan melalui Komunikasi Interpersonal.
4. Menghibur masyarakat. Perilaku masyarakat menerima informasi selain untuk memenuhi rasa aman juga menjadi sarana hiburan masyarakat. Apalagi pada masa sekarang ini banyak penyajian informasi melalui sarana seni hiburan.
A. Pengertian Dan Cakupan Komunikasi
Secara etimologis komunikasi terjemahan dari Bahasa Inggris Communication berasal dari Bahasa Latin commis yang artinya sama. Mengadakan komunikasi artinya mengadakan “kesamaan” dengan orang lain. Komunikasi pada hakekatnya adalah membuat komunikan (orang yang menerima pesan) dengan komunikator (orang yang memberi pesan) sama-sama atau sesuai (turned) untuk suatu pesan.
Kalau A.L. Kroeber & C. Kluckhohn telah mengumpulkan 164 definisi kebudayaan,
maka Felix F.X. Dance dalam buku Human Communication Theory
telah mengumpulkan 98 definisi komunikasi. Definsi-definisi tersebut dilatarbelakangi berbagai perspektif mekanistis, sosiologistis, dan psikologistis.
Dence sendiri mengartikan komunikasi dalam kerangka psikologi behavioristis sebagai usaha “menimbulkan respons melalui lambang-lambang verbal” ketika lambang-lambang verbal tersebut bertindak sebagai stimuli.
E.O. Wolman dalam buku Dictionary of Behavioral Science menyebutkan enam pengertian komunikasi :
Communication
1) The transmission of energy change from one place to another as in the nervous
system or transmission of sound waves;
2) The transmission or reception of signals or messages by organism;
3) The transmitted message;
4) (Communication theory). The process whereby system influence another system
throught regulation of the transmitted signals;
5) (K. Lewin) The influence of one personal region on another whereby a change
in one results in a corresponding change in the other region;
6) The message of a patient to his therapist in psychotherapy;
(Kalau diterjemahkan : Komunikasi adalah :
1) Penyampaian perubahan energi dari suatu tempat ke tempat lain seperti dalam
sistem saraf atau penyampaian gelombang-gelombang suara;
2) Penyampaian atau penerimaan signal atau pesan oleh organisme;
3) Pesan yang disampaikan;
4) (Teori Komunikasi). Proses yang dilakukan satu sistem untuk mempengaruhi
sistem yang lain melalui pengaturan signal-signal yang disampaikan;
5) (K. Lewin). Pengaruh satu wilayah pesona pada wilayah pesona yang lain
sehingga perubahan dalam satu wilayah menimbulkan perubahan yang berkaitan
pada wilayah lain;
6) Pesan pasien kepada pemberi terapi dalam psikoterapi;). (1973 : 69).
Selanjutnya Redi Panuju mendefinisikan bahwa :
“komunikasi sering diartikan sebagai upaya pemindahan/transfer informasi/pesan-pesan (masseges) dari pengirim pesan (komunikator) kepada penerima pesan (komunikan) untuk tercapai kondisi saling pengertian (mutual understanding)”.
Onong Uchjana Effendi dalam buku Dimensi – dimensi Komunikasi mendefinisikan bahwa :
“Komunikasi adalah penyampaian lambang yang berarti oleh seseorang kepada orang lain, baik dengan maksud agar mengerti maupun agar berubah perilakunya”.
Carl J. Hovland memberikan definisi komunkasi :
“the process by wich an individual (the communicator) transmits stimuli (usually verbal symbols) to modify the behaviour of other individuals (communicates)”.
Artinya bahwa komunikasi adalah proses (komunikator) menyampaikan perangsang-perangsang (biasanya lambang-lambang dalam bentuk kata-kata) untuk merubah tingkah laku orang-orang lain (komunikan).
Sedangkan Ilmu Komunikasi menurut Hovland adalah :
“suatu upaya yang sistematis untuk merumuskan secara tegas asas-asas dan atas dasar asas-asas tersebut disampaikan informasi serta dibentuk pendapat dan sikap”.
Astrid S. Susanto membedakan arti antara communication dengan communications. Communication adalah :
proses pengoperan lambang-lambang yang mengandung arti (sebagaimana menjadi pokok dalam ilmu komunikasi). Sedangkan communications sebagai proses komunikasi dengan penggunaan alat-alat mekanis maupun elektris (seperti banyak digunakan dalam media massa).
Mengenai media massa sendiri tidak dapat disamakan dengan mass communication. Media massa adalah sarana atau alat untuk menyampaikan komunikasi terhadap orang banyak. Sedang mass communication adalah tatanan komunikasi yang komunikatornya berhadapan dengan banyak orang (banyak komunikan).
B. Fungsi Dan Tujuan Komunikasi
Fungsi komunikasi menurut Harol D. Lasswell adalah sebagai berikut :
The surveillance of the environment, fungsi komunikasi adalah untuk mengumpulkan dan menyebarkan informasi mengenai kejadian dalam suatu lingkungan (kalau dalam media massa hal ini sebagai penggarapan berita).
The correlation of correlation of the parts of society in responding to the environment, dalam hal ini fungsi komunikasi mencakup interpretasi terhadap informasi mengenai lingkungan (disini dapat diidentifikasi sebagai tajuk rencana atau propaganda).
The transmission of the social heritage from one generation to the next, dalam hal ini transmission of culture difocuskan kepada kegiatan mengkomunikasikan informasi, nilai-nilai, dan norma sosial dari suatu generasi ke generasi lain.
Onong Uchjana Effendi dalam buku Dimensi – dimensi Komunikasi mempunyai pendapat sebagai berikut :
Public Information
Publik Education
Publik Persuasion
Publik Entertainment
Ad.
1. Memberikan informasi kepada masyarakat. Karena perilaku menerima informasi merupakan perilaku alamiah masyarakat. Dengan menerima informasi yang benar masyarakat akan merasa aman tentram. Informasi akurat diperlukan oleh beberapa bagian masyarakat untuk bahan dalam pembuatan keputusan. Informasi dapat dikaji secara mendalam sehingga melahirkan teori baru dengan demikian akan menambah perkembangan ilmu pengetahuan. Informasi disampaikan pada masyarakat melalui berbagai tatanan komunikasi, tetapi yang lebih banyak melalui kegiatan mass communication .
2. Mendidik masyarakat. Kegiatan komunikasi pada masyarakat dengan memberiakan berbagai informasi tidak lain agar masyarakat menjadi lebih baik, lebih maju, lebih berkembang kebudayaannya. Kegiatan mendidik masyarakat dalam arti luas adalah memberikan berbagai informasi yang dapat menambah kemajuan masyarakat dengan tatanan komunikasi massa. Sedangkan kegiatan mendidik masyarakat dalam arti sempit adalah memberikan berbagai informasi dan juga berbagai ilmu pengetahuan melalui berbagai tatanan komunikasi kelompok pada pertemuan-pertemuan, kelas-kelas, dan sebagainya. Tetapi kegiatan mendidik masyarakat yang paling efektif adalah melalui kegiatan Komunikasi Interpersonal antara penyuluh dengan anggota masyarakat, antara guru dengan murid, antara pimpinan dengan bawahan, dan antara orang tua dengan anak-anaknya.
3. Mempengaruhi masyarakat. Kegiatan memberikan berbagai informasi pada masyarakat juga dapat dijadikan sarana untuk mempengaruhi masyarakat tersebut ke arah perubahan sikap dan perilaku yang diharapkan. Misalnya mempengaruhi masyarakat untuk mendukung suatu pilihan dalam pemilu dapat dilakukan melalui komunikasi massa dalam bentuk kampanye, propaganda, selebaran-selebaran, spanduk dan sebagainya. Tetapi berdasarkan beberapa penelitian kegiatan mempengaruhi masyarakat akan lebih efektif dilakukan melalui Komunikasi Interpersonal.
4. Menghibur masyarakat. Perilaku masyarakat menerima informasi selain untuk memenuhi rasa aman juga menjadi sarana hiburan masyarakat. Apalagi pada masa sekarang ini banyak penyajian informasi melalui sarana seni hiburan.
Langganan:
Postingan (Atom)
Main game yuk !
|
|
|
| Add Games to your own site | |
Saran dan Masukan
Bagi anda yang ingin berbagi, memberikan masukan, komentar, pertanyaan, mengirim artikel & ingin ditayangkan, silahkan kirim ke ajias66@gmail.com.