Logika dan Penalaran deduktif
Seorang ilmuan memiliki hokum-hukum dan teori-teori yang universal , maka dari situ dimungkinkan baginya menarik konsekuensi-konsekuensi yang mungkin digunakan untuk memberikan penjelasan-penjelasan dan ramalan-ramalan, misalnya setelah mendapatkan fakta bahwa logam memuai bila dipanasi maka bisa ditarik dari fakta bahwa rel kereta api dibawah terik matahari tanpa celah-celah di tempat-tempat sambungannya akan menggeliat, penjelasan dan penarikan seperti ini disebut penalaran deduktif. Deduksi berbeda dengan induksi yang telah kita bicarakan sebelumnya.
Blog berisi artikel dan bahan perkuliahan Komunikasi, dengan harapan dapat membantu rekan mahasiswa dalam studi ilmu komunikasi di kampus manapun anda berada.
welcome
Tampilkan postingan dengan label Logika dan Penalaran deduktif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Logika dan Penalaran deduktif. Tampilkan semua postingan
Minggu, 22 Februari 2009
Sabtu, 06 Desember 2008
Logika dan Penalaran deduktif
Logika dan Penalaran deduktif
Seorang ilmuan memiliki hokum-hukum dan teori-teori yang universal , maka dari situ dimungkinkan baginya menarik konsekuensi-konsekuensi yang mungkin digunakan untuk memberikan penjelasan-penjelasan dan ramalan-ramalan, misalnya setelah mendapatkan fakta bahwa logam memuai bila dipanasi maka bisa ditarik dari fakta bahwa rel kereta api dibawah terik matahari tanpa celah-celah di tempat-tempat sambungannya akan menggeliat, penjelasan dan penarikan seperti ini disebut penalaran deduktif. Deduksi berbeda dengan induksi yang telah kita bicarakan sebelumnya.
Ramalan dan Penjelasan menurut tafsiran Induktifis
Kita berada dalam posisi untuk dapat memahami dengan cara sederhana fungsi hokum-hukum dan teori-teori sebagai perangkat untuk meramal dan alat untuk member penjelasan didalam ilmu. Kita akan lihat sebuah contoh sederhana :
- Air murni akan membeku pada O derajat Celcius (kalau diberi cukup waktu)
-Didalam radiator mobil saya terdapat air murni
Apabila suhu menurun sampai dibawah O derajat Celcius, air didalam radiator mobil saya akan membeku (kalau diberi cukup waktu)Bagi seorang induktifis, sumber kebenaran bukanlah logika, melainkan pengalaman, yang dapat dilihat hasilnya melalui observasi dan induksi. Dan seperti conoth diatas ramalan ketiga dapat dideduksi dari 1 dan 2.
Contoh yang lain adalah bahwa tetesan air hujan dapat menghasilkan pelangi, tahapan melihat awal tersebut disebut kondisi awal (initial condition). Yaitu penggambaran tentang keadaan-keadaan experimental yang merupakan contoh tipikal dari kondisi awal.
Setelah mengetahui hokum-hukum optic dan kondisi awal tertentu barulah kita mungkin melakukan deduksi yang akan menghasilkan penjelasan tentang terjadinya pelangi. Deduksi ini tidak lagi mesti benar.
Seorang ilmuan memiliki hokum-hukum dan teori-teori yang universal , maka dari situ dimungkinkan baginya menarik konsekuensi-konsekuensi yang mungkin digunakan untuk memberikan penjelasan-penjelasan dan ramalan-ramalan, misalnya setelah mendapatkan fakta bahwa logam memuai bila dipanasi maka bisa ditarik dari fakta bahwa rel kereta api dibawah terik matahari tanpa celah-celah di tempat-tempat sambungannya akan menggeliat, penjelasan dan penarikan seperti ini disebut penalaran deduktif. Deduksi berbeda dengan induksi yang telah kita bicarakan sebelumnya.
Ramalan dan Penjelasan menurut tafsiran Induktifis
Kita berada dalam posisi untuk dapat memahami dengan cara sederhana fungsi hokum-hukum dan teori-teori sebagai perangkat untuk meramal dan alat untuk member penjelasan didalam ilmu. Kita akan lihat sebuah contoh sederhana :
- Air murni akan membeku pada O derajat Celcius (kalau diberi cukup waktu)
-Didalam radiator mobil saya terdapat air murni
Apabila suhu menurun sampai dibawah O derajat Celcius, air didalam radiator mobil saya akan membeku (kalau diberi cukup waktu)Bagi seorang induktifis, sumber kebenaran bukanlah logika, melainkan pengalaman, yang dapat dilihat hasilnya melalui observasi dan induksi. Dan seperti conoth diatas ramalan ketiga dapat dideduksi dari 1 dan 2.
Contoh yang lain adalah bahwa tetesan air hujan dapat menghasilkan pelangi, tahapan melihat awal tersebut disebut kondisi awal (initial condition). Yaitu penggambaran tentang keadaan-keadaan experimental yang merupakan contoh tipikal dari kondisi awal.
Setelah mengetahui hokum-hukum optic dan kondisi awal tertentu barulah kita mungkin melakukan deduksi yang akan menghasilkan penjelasan tentang terjadinya pelangi. Deduksi ini tidak lagi mesti benar.
Langganan:
Postingan (Atom)
Main game yuk !
|
|
|
| Add Games to your own site | |
Saran dan Masukan
Bagi anda yang ingin berbagi, memberikan masukan, komentar, pertanyaan, mengirim artikel & ingin ditayangkan, silahkan kirim ke ajias66@gmail.com.