welcome

Selamat datang dan Selamat bergabung ... Selamat datang dan Selamat bergabung ...Selamat datang dan Selamat bergabung

Minggu, 22 Februari 2009

Kelelakian dan Kewanitaan

Kelelakian dan Kewanitaan
Masculinity – Feminity

Hofstede menggunakan kata Masculinity – Feminity untuk menunjukkan skala terhadap sejauh mana karakter maskulinitas-feminitas mempunyai nilai dan terpecahkan. Rasionalitasnya dan hal-hal yang sangat mendukungnya adalah antropologis, psikologis, ilmu politik, termasuk didalamnya sikap maskulin atau feminine yang dipelajari dan termediasi oleh kultur, norma dan tradisi.

Kelelakian
Masculinity

Adalah perkembangan dimana nilai lebih dominan dalam masyarakat adalah yang berorientasi maskulin. Hofstede melanjutkan kesimpulannya sebagai berikut :

Kultur maskulin menggunakan eksistensi biologis dari dua gender untuk menjelaskan aturan perbedaan social untuk laki-laki dan wanita, mereka mengharapkan lelaki lebih percaya diri, ambisius, dan kompetitif, dan bersemangat menggapai materi, menghormati yang besar, kuat dan cepat.

Kewanitaan
Feminity

Adalah sebuah kultur yang menilai feminitas sebagai sikap yang bersikap maju. Dunia feminine melihat pengaturan bahwa lelaki perlu aktif dan karenanya mereka berasumsi dengan membuat aturan yang berkembang; juga didalamnya persamaan gender memegang peranan dalam lingkungan. Dapat disimpulkan dalam kultur feminine mereka menjaga agar “menguasai aturan social untuk semua gender”. Kemerdekaan internal dan kebiasaan persamaan gender adalah yang ideal, dan orang akan bersimpati dengan ketidak beruntungan tersebut. Negara seperti Swedia, Finlandia, Denmark, dan juga Belanda selalu menjaga pandangan dunia feminine.

Kalaupun bukan kultur yang menekankan satu karakteristik tersebut, dapat dilihat ciri varitas tersebut. Seperti, menempatkan nilai tertinggi karakter lelaki diatas wanita masih dapat dilihat di tipe kultur perseorangan yang memimpin mereka. Seperti contohnya di Swedia, yang memiliki rangking tertinggi kategori feminine-Hofstede, perempuan menguasai 41% posisi legislative, di Jepang rengking tertinggi oleh karakteristik lelaki, hanya 5% legislative yang dikuasai perempuan.

Anda dapat juga melihat kategori gender menurut Kim :
Di Jepang, Jerman, dan selain Eropa dan Asia, perempuan menghadapi rintangan serius untuk mencapai tempat kerja berkualitas. Mereka mengharapkan membantu pria dan mereka memberikan gaji rendah, dibawah standar pekerja, dan kesempatan lebih kecil untuk mengembangkan diri.

Jarak kekuasaan tingkat rendah

Jarak kekuasaan tingkat rendah
Low power distance

Yang termasuk dalam jarak kekuasaan tingkat rendah adalah Austria, finlandia, denmark, Norwegia, AS, Newzeland, dan Israel, dimana ketidak seimbangan dalam masyarakat dapat diminimalisir. Seperti dicatat Brislin “Kultur seperti ‘Jarak kekuasaan tingkat rendah’ dipandu oleh hukum, norma, dan kebiasaan tiap hari yang menjadikan kekuasaan dapat dilihat seminimal mungkin.” Masyarakat dalam kultur ini percaya bahwa mereka dekat dengan kekuasaan dan mempunyai akses terhadap kekuasaan tersebut. Terhadap mereka hirarki adalah ketidak seimbangan dari aturan yang diterapkan.

Subordinasi antara penguasa terhadap masyarakat terlihat sama. pemilik kekuasaan menjadi penasehat mereka atau staf dalam pemerintahan, walaupun mereka berinteraksi dalam konstituen yang sama dan tahu jika mereka sebenarnya lebih lemah. Dengan kata lain yang memiliki kekuatan penuh dan kekuatan lemah mencoba hidup dengan adil.

Jarak Kekuasaan

Jarak Kekuasaan
Power Distance

Dimensi nilai kultur yang lain adalah jarak kekuasaan, yang membedakan kultur diatas rantang kekuasaan yang tinggi dan rendah. Hafstede berbicara tentang jarak antara kekuasaan dan anggota terkecil kultur. Dia menyimpulkan bahwa jarak konsep kekuasaan adalah seperti bentuk berikut : “Jarak kekuasaan sebagai karakteristik suatu kultur, menjelaskan lebih luas kepada orang yang lebih sedikit berkuasa dalam masyarakat diterima tidak sesuai dalam kekuasaan dan diukur sebagai suatu yang normal.”

Dimensi premis tergantung pada factor eksternal bagaimana masyarakat memilih kekuasaan tersebut dalam pergaulan, institusi, dan organisasi yang akan terjalin dengan imbang. Meskipun semua kultur tendensius untuk kedua kekuatan hubungan yang tinggi dan rendah. Satu orientasi terlihat mendominasi. Foster menawarkan penjelasan yang jelas dan kuat tentang dimensi ini.

Apa yang disembunyikan Hofstede tentang kultur, adalah yang memiliki kekuasaan yang dengannya dapat mempengaruhi lainnya dengan berbagai cara, walaupun dalam kultur yang lain, kekuasaan memegang peranan penting dan mempengaruhi walaupun hubungan mereka dekat kekuasaan.


Jarak Kekuasan yang tinggi
High Power Distance

Gudykunst mempertahankan kesimpulan yang jelas tentang kultur High Power Distance ketika beliau menulis, “Individual dari kultur High Power Distance menerima suatu kekuasaan sebagai bagian dari masyarakat. Seperti penguasa menyatakan subordinasinya dengan berbeda dan ucapan berbeda.” Pada masyarakat yang mempunyai jarak dengan Kekuasaan tertinggi seperti; India, Afrika, Brazil, Singapore, Yunani, Venezuela, Mexico, dan Filipina percaya bahwa kekuasaan dan otoritas adalah realitas hidup. Keduanya sangat perhatian atau juga tidak, kultur ini mengajarkan anggotanya bahwa manusia tidak sama dan tiap orang punya tempat yang sesuai, yang telah diatur oleh yang diatas.

Dalam organisasi dimana kultur jarak kekuasaan-tinggi, anda akan menemukan terpusatnya kekuatan, tempat penting kebesaran dengan status dan rangking tertentu, adanya porsi terbesar untuk pembimbing orang-orang, sistem nilai yang tidak fleksibel yang diputuskan nilai tiap pekerjaan, dan juga jalan pintas tanpa subordinasi dalam proses pengambilan keputusan.

Ketidak-pastian pelarian Uncertainty Avoidance

Ketidak-pastian pelarian
Uncertainty Avoidance

Di dalam pusat ketidak pastian pelarian aksioma, maka masa depan tidak dapat diketahui. Walaupun anda mencoba, anda tidak akan pernah secara tepat memprediksi yang akan terjadi, hari, tahun, abad. Tennessee William pernah menulis: “Masa depan disebut ‘Mungkin’ karena merupakan sesuatu mungkin yang disebut masa depan” seperti juga term-nya Hofstede, tentang Uncertainty Avoidance “ mendefinisikan lebih lanjut dimana orang dengan kultur ‘kwawatir dengan situasi’ yang mereka terima seperti tidak terstruktur, tidak jelas, atau tidak bisa diprediksi, situasi dimana mereka untuk itu menjauh dengan mengatur kode dari kebiasaan dan kepercayaan yang absolute.

Ketidak pastian yang tinggi
High Uncertainty Avoidance

Kultur tersebut mencoba menjauhi ketidak pastian dan ketidak jelasan dengan memberikan stabilitas kepada anggotanya, memberikan lebih aturan resmi, dan tidak mentoleransi idea yang tidak diharapkan juga tingkah laku. Mencari kesepakatan, dan percaya dengan pencapaian keahlian. Level tertinggi dari kehawatiran dan stress tentu membentuk karakter mereka.

Ketidak pastian yang rendah
Low Uncertainty Avoidance

Pada skala terakhir, kami menemukan negara seperti swedia, denmark, irlandia, Norwegia, AS, finlandia, dan Belanda, yang mempunyai kebutuhan rendah terhadap ketidak pastian. Mereka lebih mudah menerima hal yang tidak pasti inherent dalam kehidupan dan mereka tidak dirawat oleh orang yang tidak diharapkan.
Harga inisiatif, tidak menyukai struktur asosiasi yang hirarkis, mereka lebih menerima untuk mengambil resiko, mereka lebih fleksibel, berfikir dengan peraturan yang lebih simple, dan tergantung tidak pada yang ahli terlalu banyak sebanyak kepada diri mereka sendiri. Secara menyeluruh anggota kultur low uncertainty avoidance lebih sedikit dan lebih banyak relax – terlihat dari pepatah Irish “Life should be a dance, not a race.”

Kolektifisme

Kolektifisme
Collectivism

Kolektifisme adalah suatu lingkungan sosial tidak fleksibel yang membedakan antara in-group dan out-group. Orang memperhatikan kepada in-group mereka,(rekan, golongan, organisasi) dan menjaga mereka. Dan dalam bertukar mereka percaya dan mempunyai modal kesetiaan absolute pada group. Triandis menyarankan beberapa dari beberapa kebiasaan ditemukan dalam kultur kolektif.
Kolektifisme adalah tekanan terbesar dalam (a) berpandangan, kebutuhan, dan tujuan dalam in-group lebih dari kepentingan pribadi (b) norma social dan kewajiban in-group selain dari kebiasaan untuk mendapat kenikmatan (c) berbagi kepercayaan sesama in-group lebih dari pada kepercayaan sendiri yang berbeda (d) kesiapan penuh untuk bekerjasama dengan anggota in-group.

Dalam masyarakat kolektifis, seperti Pakistan, Columbia, Venezuela, Taiwan, Peru, sebagian besar afrika, orang dilahirkan dikeluarga besar atau golongan yang mendukung dan melindungi mereka dalam suatu komitmen. Triandis menawarkan suatu kesimpulan istimewa dari aturan dan kekuasaan keluarga yang menjadi titik tolak kultur kolektifis :

Bentuk kecil dari hubungan social kolektif adalah keluarga, dimana orang mempunyai hubungan emosi yang mengikat kuat dan mereka merasa “Jelas milik bersama” hubungan merupakan aturan panjang dan mereka mempunyai tujuan yang umum, kerjasamanya alami dan status ditentukan oleh posisi di dalam group.

Di afrika dan kultur kolektif lain, dikenal sebagai dasar sistem social. Setiap individu secara emosional tergantung oleh organisasi dan institusi, dan kultur terpenting juga tergantung organisasi. Organisasi masuk kedalam urusan pribadi dan golongan yang merupakan milik/hak pribadi; dan individu percaya keputusan group walaupun melanggar hak individu.

Menghargau Cina sebagai kultur kolektif Meyer mewarnai karakteristik masyarakat cina ; “dimana hak individu sebagai subordinari, maka aksi group merupakan karakteristik unik bagi masyarakat cina.” Coba lihat pesan kolektifisme Confucius berikut : “Jika seseorang ingin di-akui maka dia harus menolong yang lain terlebih dahulu.”

Kolektifisme - Individualisme

Kolektifisme - Individualisme
Individualism-Kollectivism

Riset untuk beberapa tahun sudah diatur “Orientasi diri melawan Orientasi kolektif adalah satu variable dasar yang dijadikan keputusan dasar tindakan manusia.” Tang Toomy mencatat ; “Nilai Individualistik dan Kolektif menghasilkan tendensi yang diterapkan keseharian di keluarga, sekolah, dan interaksi tempat kerja.”

Walaupun Hofstade memberikan nilai plus untuk investigasi konsep individualisme dan kolektivisme, dia bukanlah satu-satunya yang telah mengadakan riset krusial dimensi interkulutral. Triandis sebagai contoh telah menghasilkan keseluruhan lintas kultur agenda riset yang terfokus dikonsep ini. Brislin membantu memperjelas poin ini ketika beliau menulis ; “Walaupun tidak ada kultur yang mengabaikan secara total tujuan individualistik dan kolektif, kultur telah membedakan secara signifikan yang mana dari faktor ini yang lebih sesuai dengan kritikal.”

individualisme
Individualism

kita sudah membahas tentang individualisme saat kita melihat kultur amerika, yang kita butuhkan hanyalah menyentuh bagian/elemen nya : (1) individual adalah satu unit yang sangat penting dalam seting social manapun, (2) independent beda dengan dipenden yang tertekan, (3) pencapaian individual dihargai, (4) keunikan individual adalah nilai yang tinggi. Sesuai dengan penemuan Hofstede, AS, Australia, Inggris raya, Canada, Belanda, dan Selandia baru menjaga majunya individualisme. Goleman mengedepankan beberapa karakteristik ini dan kultur yang lain yang juga menilai individualisme :

Tujuan pribadi seseorang menjadi prioritas melebihi kesetiaan kepada group seperti keluarga atau pekerjaan. Kesetiaan individualistis kepada organisasi sangat lemah, mereka merasa milik beberapa group dan mereka cocok mengganti keanggotaannya jika itu sesuai dengannya, bertukar gereja sebagai contoh, meninggalkan kerjaan kepada yang lain.

Dalam kultur yang memelihara individualisme, kompetisi selain kerjasama adalah memberikan kepercayaan diri; hasil personal memberikan prioritas tujuan organisasi; orang merawat agar tidak emosional dan itu tergantung pada organisasi dan institusi; setiap individual mempunyai hak privat propertinya, pemikiran dan pandangannya. Kultur ini menekankan inisiatif pribadi dan pencapaian, dan hasil keputusan pribadi. Ketika situasi mendorong dan membutuhkan keputusan, orang dari kultur ini menekankan dan memberikan kemungkinan orang dari kultur kolektif. Poin ini dibuat Foster :
Di meja negosiasi, perbedaan pada dimensi ini dapat lebih jelas karena konflik serius. Tanggung jawab individual untuk membuat keputusan mudah dalam kultur individualistic, dalam grup kultur oriented hal ini dapat berbeda. Orang amerika terlalu mengecualikan pengikut jepang “counterparts” untuk hak membuat keputusan diatas meja negosiasi, dan orang jepang konsisten memberikan kejutan untuk mendapatkan anggota individual dari team promosi amerika untuk posisi mereka, keputusan, dan idea, kadang kontradiksi terbuka dengan lainnya.

CIRI PERBEDAAN KULTUR Diverse Culture Patterns

CIRI PERBEDAAN KULTUR
Diverse Culture Patterns


Sejauh ini kita sudah mengenalkan beberapa ciri kultur, dan menguji beberapa kultur karakteristik yang sudah dipraktekkan kepada kultur dominan amerika. Sekarang kita siap menggunakan beberapa perbandingan kultur. Beberapa ahli antropologi, social psikologi dan mahasiswa komunikasi telah di sarankan bahwa taksonomi dapat digunakan untuk menganalisa kunci ciri tingkah-laku yang ditemukan ditiap kultur.

Dimensi Nilai Hofstede
Hofstede’s Value Dimensions

Hofstede, dalam pembukaan edisi kedua buku ini, jelas mengartikulasikan suatu yang rasional dibalik studinya :

Buku ini menjelaskan perbedaan dalam berfikir dan aksi sosial ditengah-tengah anggota di lebih 50 negara modern. Ini menganjurkan orang membawa “program mental” yang merupakan perkembangan dalam keluarga semenjak usia dini dan dikuatkan di sekolah dan organisasi. Dan program mental ini terdiri dari komponen budaya nasional. Mereka lebih banyak berekspresi dalam nilai yang mendominasi ditengah orang dari Negara-negara berbeda.

Kerja Hofstede merupakan salah satu percobaan pertama menggunakan data statistic ekstensif untuk menguji nilai kultur. Dalam angka kerja, survey ratusan dari ribuan dari pekerja organisasi multinasional di 15 negara dan 3 negara bagian. Setelah analisis cermat tiap negara dan provinsi menyetujui rangking satu hingga lima belas dari lima dimensi tersebut (individualisme, ketidak tepatan, pelarian, pengukur jarak, maskulitas-feminitas/orientasi Long-term/short) dalam studinya. Rangking ini tidak cuma menawarkan gambaran jelas nilai tiap kultur, juga membantu anda untuk dapat membandingkan lintas kultur.

Kompetisi

Kompetisi
Competation

Kompetisi adalah bagian dari kehidupan amerika semenjak usia dini. Apakah ini termasuk didalamnya game yang mereka mainkan membuat lebih atraktif dari orang yang duduk sebelahnya dalam kelas, kompetisi alami memberikan kepercayaan diri di AS.

Orang di beri rangking, status, kelas, dan di evaluasi maka setiap orang dapat tahu jika mereka “terbaik.” Didalam olahraga dan kerja, kami membicarakan sesuatu yang penting tentang “menjadi nomor satu”. Anak muda sering di nasehati bahwa jika mereka kalah dan merasa biasa saja maka ada sesuatu yang salah dengannya. Kim berpendapat: “orang amerika yang kompetitif, adalah yang membenci kekalahan, setiap sesuatu dalam hidupnya adalah game yang harus dimenangkan.”

Filosofis Roma Ovid menulis : “Seekor kuda tidak pernah berlari kencang selama ada kuda lain yang melebihinya dan mengalahkannya. Pesan ini sangat jelas dan kini anda harus bergerak “cepat” dari kuda yang lain. Kim “Kompetisi menantang amerika menjadi lebih baik.”

Main game yuk !

Sorry, you will need the <a href="http://www.macromedia.com/go/getflashplayer/" target="_blank">Flash Player</a> to play this game.
Add Games to your own site

Saran dan Masukan

Bagi anda yang ingin berbagi, memberikan masukan, komentar, pertanyaan, mengirim artikel & ingin ditayangkan, silahkan kirim ke ajias66@gmail.com.
Follow kangazi99 on Twitter