MODEL OF INTERPERSONAL COMMUNICATION
(Model Komunikasi Interpersonal)
Model ; mereka selalu berusaha mempersembahkan “apa barang itu” dan bagaimana “barang itu bekerja”. Sebenarnya model dari komunikasi interpersonal amatlah sederhana, tapi kemudian menjadi berlebihan (dibuat-buat) ketika kita melihatnya dalam proses.
MODEL LINIER
Model interpersonal komunikasi pertama adalah(Laswell,1948) Model Linier atau komunikasi satu arah, dimana proses satu orang berinteraksi dengan orang lain. hal tersebut merupakan model verbal berupa konsistensi dari lima pertanyaan yang menjawab proses kejadian hasil dari komunikasi ;
Apa ?
Mengatakan apa ?
Menggunakan chanel apa ?
Kepada Siapa ?
Dengan efek apa ?
Blog berisi artikel dan bahan perkuliahan Komunikasi, dengan harapan dapat membantu rekan mahasiswa dalam studi ilmu komunikasi di kampus manapun anda berada.
welcome
Minggu, 13 Juli 2008
PARTICIPATING EFFECTIVELY IN A DIVERSE SOCIETY
PARTICIPATING EFFECTIVELY
IN A DIVERSE SOCIETY
(Berpartisipasi efektif dalam lingkungan yang beragam)
Untuk memperjelas tentang teori Maslow, saya ingin tambahkan ke-6, satu hal yang dipahami dengan baik ketika Maslow mengembangkan teorinya. Robert Shuter menyatakan bahwa pemahaman dan interaksi dengan kultur yang lain adalah “satu hal terpenting tentang isu komunikasi global”.(1990,hal.241) kita semua perlu dan membutuhkan bagaimana berkomunikasi efektif dengan keberagaman dunia yang lebih tinggi.
Untuk mengfungsikan lebih efektif didunia yang terbentuk beragam ini, kita harus belajar bagaimana berkomunikasi dengan cara menunjukkan pengertian dan rasa hormat kepada yang lain, dan cara lain dalam berkomunikasi.
Saat berinteraksi dengan yang lain, kita belajar pengalaman, nilai, pakaian, gaya hidup yang berbeda dengan milik kita, dalam berinteraksi, manusia berusaha memahami perbedaan mereka dan kemiripan mereka, dan mepromosikan perkembangan dirinya. Sebagaimana menurut Harlan Cleveland(1995) mengatakan ; ketika menyatakan tentang masyarakat social masa depan, adalah hal yang sangat penting adalah seluruh manusia belajar bagaimana dapat berbeda bersama-sama (hidup bersama dalam perbedaan).
IN A DIVERSE SOCIETY
(Berpartisipasi efektif dalam lingkungan yang beragam)
Untuk memperjelas tentang teori Maslow, saya ingin tambahkan ke-6, satu hal yang dipahami dengan baik ketika Maslow mengembangkan teorinya. Robert Shuter menyatakan bahwa pemahaman dan interaksi dengan kultur yang lain adalah “satu hal terpenting tentang isu komunikasi global”.(1990,hal.241) kita semua perlu dan membutuhkan bagaimana berkomunikasi efektif dengan keberagaman dunia yang lebih tinggi.
Untuk mengfungsikan lebih efektif didunia yang terbentuk beragam ini, kita harus belajar bagaimana berkomunikasi dengan cara menunjukkan pengertian dan rasa hormat kepada yang lain, dan cara lain dalam berkomunikasi.
Saat berinteraksi dengan yang lain, kita belajar pengalaman, nilai, pakaian, gaya hidup yang berbeda dengan milik kita, dalam berinteraksi, manusia berusaha memahami perbedaan mereka dan kemiripan mereka, dan mepromosikan perkembangan dirinya. Sebagaimana menurut Harlan Cleveland(1995) mengatakan ; ketika menyatakan tentang masyarakat social masa depan, adalah hal yang sangat penting adalah seluruh manusia belajar bagaimana dapat berbeda bersama-sama (hidup bersama dalam perbedaan).
THE INTERPERSONAL IMPERATIVE
THE INTERPERSONAL IMPERATIVE
Sangat pentingnya Komunikasi Interpersonal
Pernahkah anda berpikir kenapa kita harus berkomunikasi dengan yang lain ? psykolog William Schutz (1966) mengembangkan teori interpersonal yang dibutuhkan, yang menyatakan bahwa kecenderungan kita untuk menciptakan dan menata hubungan tergantung pada sebaik apa mereka mempertemukan tiga unsur dasar yang dibutuhkan (interpersonal basic). Yang pertama adalah perhatian, dan rasa untuk memberi dan menerima cinta dan suka. Kebutuhan kedua adalah inclusion (diakui keberadaannya) yaitu rasa menjadi makhluk social dan menjadi bagian dari group. Kebutuhan ketiga adalah kontrol, yaitu perasaan untuk dapat mempengaruhi atau didengar oleh orang lain atau dalam kehidupan kita.
PHYSICAL NEEDS (Kebutuhan Psikologis)
Pada Kebutuhan mendasar manusia adalah dapat bertahan, dan komunikasi dapat membantu mempertemukan kita dengan hal tersebut. Untuk bertahan seorang bayi harus memberitahu yang lain ketika mereka lapar atau sakit. Dan orang lain harus merespon hal tersebut atau bayi dapat mati. Selain dapat bertahan, anak-anak membutuhkan interaksi untuk dapat maju. Linda Mayes seorang psikolog anak di Yale University, melaporkan seorang anak dapat kelaparan dan menderita jika mereka trouma saat mereka kecil, hal tersebut dapat menambah stress hormonal yang dapat mengganggu control emosi, seorang dewasa yang masa kecilnya kelaparan dapat mengalami kekurangan daya ingat, penakut, hiperaktif, dan impulsive.
SAFETY NEEDS (Kebutuhan Keamanan, Kenyamanan)
Kita selalu membutuhkan rasa nyaman dan aman saat berkomunikasi, jika atap-mu lepas atau rayap sudah menyerang apartemenmu, kamu harus berbicara dengan manajer properti atau pemilik untuk mendapat solusi dan anda akan mendapatkan atap yang aman. Jika seseorang mengancam dirimu maka anda akan menghubungi staf hokum/ keamanan untuk mendapatkan perlindungan, itulah beberapa contoh upaya yang kita lakukan untuk mendapatkan rasa aman. Komunikasi selalu dibutuhkan untuk melindungi kita dari gangguan lingkungan sekitar kita.
BELONGING NEEDS (Kebutuhan Pengakuan Sosial)
Level ketiga dari Hirarki Maslow adalah Hak Milik/Kepemilikan, atau status social, kita semua membutuhkan yang lain untuk bahagia, menikmati hidup, untuk merasa nyaman saat bekerja, dan menambah pengalaman. Kita menginginkan perusahaan lain, penerimaan dan kerjasama, penegasan pengakuan, dan kita membutuhkan penerimaan dan pengakuan kepada yang lain, kita berkomunikasi untuk menemukan status social dengan berbicara kepada orang lain, berbagi rasa secara online, nonton film bareng, dan bekerjasama dalam tim projek. Sehingga anda dapat menemukan informasi baru dan tentang lingkungan dan diri anda.
SELF ESTEEM NEEDS (Kebutuhan untuk di hargai/dihormati)
Lanjutan dari Hirarki Maslow, kita menemukan tentang, kebutuan untuk dihormati/dihargai yang mencakup nilai dan penghormatan dari orang lain atau diri kita. Sesuai dengan penjelasan terdahulu bahwa seorang anak mulai membentuk image dirinya dimulai dari anggapan anggota keluarga kepada dirinya, apakah dia lamban, pintar, cantik dll. Begitu juga orang dewasa, mendapatkan jati diri setelah menerima anggapan dan pendapat orang lain.
SELF ACTUATING NEEDS (Kebutuhan beraktualisasi diri)
Sesuai dengan pandangan Maslow, sebagian besar kebutuhan abstrak manusia adalah Aktualisasi diri(Maslow 1945/1870), ‘Menemukan aktualisasi diri dengan kemajuan penuh dan menggunakan kecerdasan, kemampuan, dan potensi unik dari diri kita’(hal.150).
Untuk mencapai ini kita perlu menemukan potensi diri yang sudah ada, yang mungkin sudah kita miliki. Sebagai manusia kita membutuhkan tidak hanya bertahan, rasa aman, pengakuan, dan penghormatan, kita selalu berkembang dalam pertumbuhan kita. Untuk menjadi diri kita secara penuh menjadi orang yang “mengaktualisasikan diri” kita harus memegang ide yang selalu kita tumbuhkan, kembangkan, dan yang selalu kita rubah.
Sangat pentingnya Komunikasi Interpersonal
Pernahkah anda berpikir kenapa kita harus berkomunikasi dengan yang lain ? psykolog William Schutz (1966) mengembangkan teori interpersonal yang dibutuhkan, yang menyatakan bahwa kecenderungan kita untuk menciptakan dan menata hubungan tergantung pada sebaik apa mereka mempertemukan tiga unsur dasar yang dibutuhkan (interpersonal basic). Yang pertama adalah perhatian, dan rasa untuk memberi dan menerima cinta dan suka. Kebutuhan kedua adalah inclusion (diakui keberadaannya) yaitu rasa menjadi makhluk social dan menjadi bagian dari group. Kebutuhan ketiga adalah kontrol, yaitu perasaan untuk dapat mempengaruhi atau didengar oleh orang lain atau dalam kehidupan kita.
PHYSICAL NEEDS (Kebutuhan Psikologis)
Pada Kebutuhan mendasar manusia adalah dapat bertahan, dan komunikasi dapat membantu mempertemukan kita dengan hal tersebut. Untuk bertahan seorang bayi harus memberitahu yang lain ketika mereka lapar atau sakit. Dan orang lain harus merespon hal tersebut atau bayi dapat mati. Selain dapat bertahan, anak-anak membutuhkan interaksi untuk dapat maju. Linda Mayes seorang psikolog anak di Yale University, melaporkan seorang anak dapat kelaparan dan menderita jika mereka trouma saat mereka kecil, hal tersebut dapat menambah stress hormonal yang dapat mengganggu control emosi, seorang dewasa yang masa kecilnya kelaparan dapat mengalami kekurangan daya ingat, penakut, hiperaktif, dan impulsive.
SAFETY NEEDS (Kebutuhan Keamanan, Kenyamanan)
Kita selalu membutuhkan rasa nyaman dan aman saat berkomunikasi, jika atap-mu lepas atau rayap sudah menyerang apartemenmu, kamu harus berbicara dengan manajer properti atau pemilik untuk mendapat solusi dan anda akan mendapatkan atap yang aman. Jika seseorang mengancam dirimu maka anda akan menghubungi staf hokum/ keamanan untuk mendapatkan perlindungan, itulah beberapa contoh upaya yang kita lakukan untuk mendapatkan rasa aman. Komunikasi selalu dibutuhkan untuk melindungi kita dari gangguan lingkungan sekitar kita.
BELONGING NEEDS (Kebutuhan Pengakuan Sosial)
Level ketiga dari Hirarki Maslow adalah Hak Milik/Kepemilikan, atau status social, kita semua membutuhkan yang lain untuk bahagia, menikmati hidup, untuk merasa nyaman saat bekerja, dan menambah pengalaman. Kita menginginkan perusahaan lain, penerimaan dan kerjasama, penegasan pengakuan, dan kita membutuhkan penerimaan dan pengakuan kepada yang lain, kita berkomunikasi untuk menemukan status social dengan berbicara kepada orang lain, berbagi rasa secara online, nonton film bareng, dan bekerjasama dalam tim projek. Sehingga anda dapat menemukan informasi baru dan tentang lingkungan dan diri anda.
SELF ESTEEM NEEDS (Kebutuhan untuk di hargai/dihormati)
Lanjutan dari Hirarki Maslow, kita menemukan tentang, kebutuan untuk dihormati/dihargai yang mencakup nilai dan penghormatan dari orang lain atau diri kita. Sesuai dengan penjelasan terdahulu bahwa seorang anak mulai membentuk image dirinya dimulai dari anggapan anggota keluarga kepada dirinya, apakah dia lamban, pintar, cantik dll. Begitu juga orang dewasa, mendapatkan jati diri setelah menerima anggapan dan pendapat orang lain.
SELF ACTUATING NEEDS (Kebutuhan beraktualisasi diri)
Sesuai dengan pandangan Maslow, sebagian besar kebutuhan abstrak manusia adalah Aktualisasi diri(Maslow 1945/1870), ‘Menemukan aktualisasi diri dengan kemajuan penuh dan menggunakan kecerdasan, kemampuan, dan potensi unik dari diri kita’(hal.150).
Untuk mencapai ini kita perlu menemukan potensi diri yang sudah ada, yang mungkin sudah kita miliki. Sebagai manusia kita membutuhkan tidak hanya bertahan, rasa aman, pengakuan, dan penghormatan, kita selalu berkembang dalam pertumbuhan kita. Untuk menjadi diri kita secara penuh menjadi orang yang “mengaktualisasikan diri” kita harus memegang ide yang selalu kita tumbuhkan, kembangkan, dan yang selalu kita rubah.
Label:
THE INTERPERSONAL IMPERATIVE
A FIRST LOOK AT INTERPERSONAL COMMUNICATION
A FIRST LOOK
AT INTERPERSONAL COMMUNICATION
“Exploration is really the essence of the human spirit”
“Ekspresi benar-benar merupakan esensi dasar dari semangat manusia”
The interpersonal imperative
Participating effectively in a diverse Society
Model of interpersonal communication
Difining interpesonal communication
Principles of interpersonal communication
Guidelines for interpersonal communication
PENDAHULUAN
Kamu telah di interview selama kurang lebih 2 bulan dan selama itu kamu belum mendapatkan satu pekerjaanpun, setelah interview-interview tersebut tidak menghasilkan, kemudian anda pergi keteman terdekat dan menanyakan kenapa terjadi seperti itu. Walaupun hanya untuk menyatakan rasa simpati, teman anda menyarankan agar pergi makan siang dan berdiskusi. Memesan pizza, anda memperlihatkan bahwa anda mulai khawatir tidak dapat pekerjaan dan anda memikirkan apa yang terjadi dengan diri saya.
Teman anda mendengarkan dengan seksama, dan dia bercerita kepadamu tentang temannya yang lain yang juga belum mendapat pekerjaan. Paling tidak anda tidak merasakan hal tersebut sendirian.
Saat anda mendengarkan padanya rasa kurang percaya diri anda mulai terobati, sebelum pergi dia memberitahu anda tentang website yang bernama Virtual interview yang mempersilahkan anda untuk melatih kemampuan komunikasi dan kerja dengan anda untuk ditingkatkan dengan beberapa strategi baru mengenai interview. Anda merasakan banyak dibantu setelahnya.
Interpersonal merupakan hal yang central(penting), bagi kehidupan keseharian kita, kita membutuhkan orang lain untuk membantu yang terjadi pada kehidupan diri kita dan membantu masalah kita dengan seksama. Kita ingin mereka berbagi kekhawatiran dan kesenangan kita, dengan kata lain kita menginginkan orang lain memberikan rasa percayadiri pada kita, dan perkembangan profesional kita.
Teman-teman dan “teman dekat” kita yang mempercayai kita selalu bisa membantu untuk menanggulangi rasa kalah tersebut, dan bisa menjadi lebih baik dari pada yang kita inginkan. Staff pekerja yang memberikan kita nasehat dan solusi membantu kita untuk meningkatkan keefektifan kita pada pekerjaan. Dan terkadang kita cuma ingin hangout bersama teman yang kita percaya dan kita sukai.
AT INTERPERSONAL COMMUNICATION
“Exploration is really the essence of the human spirit”
“Ekspresi benar-benar merupakan esensi dasar dari semangat manusia”
The interpersonal imperative
Participating effectively in a diverse Society
Model of interpersonal communication
Difining interpesonal communication
Principles of interpersonal communication
Guidelines for interpersonal communication
PENDAHULUAN
Kamu telah di interview selama kurang lebih 2 bulan dan selama itu kamu belum mendapatkan satu pekerjaanpun, setelah interview-interview tersebut tidak menghasilkan, kemudian anda pergi keteman terdekat dan menanyakan kenapa terjadi seperti itu. Walaupun hanya untuk menyatakan rasa simpati, teman anda menyarankan agar pergi makan siang dan berdiskusi. Memesan pizza, anda memperlihatkan bahwa anda mulai khawatir tidak dapat pekerjaan dan anda memikirkan apa yang terjadi dengan diri saya.
Teman anda mendengarkan dengan seksama, dan dia bercerita kepadamu tentang temannya yang lain yang juga belum mendapat pekerjaan. Paling tidak anda tidak merasakan hal tersebut sendirian.
Saat anda mendengarkan padanya rasa kurang percaya diri anda mulai terobati, sebelum pergi dia memberitahu anda tentang website yang bernama Virtual interview yang mempersilahkan anda untuk melatih kemampuan komunikasi dan kerja dengan anda untuk ditingkatkan dengan beberapa strategi baru mengenai interview. Anda merasakan banyak dibantu setelahnya.
Interpersonal merupakan hal yang central(penting), bagi kehidupan keseharian kita, kita membutuhkan orang lain untuk membantu yang terjadi pada kehidupan diri kita dan membantu masalah kita dengan seksama. Kita ingin mereka berbagi kekhawatiran dan kesenangan kita, dengan kata lain kita menginginkan orang lain memberikan rasa percayadiri pada kita, dan perkembangan profesional kita.
Teman-teman dan “teman dekat” kita yang mempercayai kita selalu bisa membantu untuk menanggulangi rasa kalah tersebut, dan bisa menjadi lebih baik dari pada yang kita inginkan. Staff pekerja yang memberikan kita nasehat dan solusi membantu kita untuk meningkatkan keefektifan kita pada pekerjaan. Dan terkadang kita cuma ingin hangout bersama teman yang kita percaya dan kita sukai.
Rabu, 02 Juli 2008
Strategi Perang Urat Saraf
Strategi Perang Urat Saraf
Karena perang uarat saraf itu merupakan metoda komunikasi dan menjadi objek studi ilmu komunikasi, maka strategi perang urat saraf adalah strategi komunikasi. Menurut Onong Uchjana Effendy dalam buku Ilmu Komunikasi, Teori Dan Praktek, dalam hubungannya dengan stretegi perang urat saraf ini disarankan untuk menggunakan pendapat para ahli :
Harold Lasswell : Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect
Gerhard Maletzke : The goals which the communicator sought to achieve
Herbert W. Simons : Situational Context
William E. Daugherty : Propapaganda clasification :
• white propaganda
• black propaganda
• gray propaganda
Harcourt, Brace & Co. : The devices of propaganda :
• name calling
• glittering generality
• transfer
• testimonial
• plain folks
• card stacking
• bandwagon (1994 : 167)
Selanjutnya menurut Onong Uchjana Effendy dalam cara menelaah proses perang urat saraf untuk menyusun suatu strategi sebaiknya dalam bentuk pertanyaan berikut :
• Siapa yang akan dijadikan sasaran ?
Dapat ditujukan pada pihak musuh, pihak netral, dan pihak yang bersimpati, tetapi tujuan akhir sasaran (the goals which the communicator sought to achieve) adalah sama, yaitu mempengaruhi sikap, pendapat, dan perilaku mereka.
• Media apa yang akan dipergunakan ?
Pemilihan media disesuaikan dengan sasaran yang akan dituju dan bergantung pada situasi (situational context). Pada musuh yang dijadikan sasaran parang urat saraf yang paling efektif dengan radio, karena redio tidak mengenal jarak dan rintangan, atau dengan komunikasi tatap muka (face to face communication), misal untuk menyebarkan desas-desus. Pada pihak netral dan pihak sekutu dapat digunakan semua media den juga dengan diplomasi dan negoisasi.
• Pesan apa yang akan disebarkan ?
Pesan yang akan dilancarkan juga menyangkut devices (muslihat) yang akan dilakukan serta berkaitan erat dengan tujuan perang urat saraf, siapa yang dijadikan sasaran, dan efek yang diharapkan.
• Apa yang menjadi tujuan dan efek apa yang diharapkan ?
Tujuan dan efek yang diharapkan dalam rangka melancarkan perang urat saraf hampir tidak dapat dibedakan. Dalam prosesnya, tujuannya terdapat pada komunikator, yaitu perencana dan pelaku perang urat saraf, sedangkan efeknya terdapat pada komunikan, yaitu pihak sasaran perang urat saraf, yaitu untuk mempengaruhi untuk mengubah sikap (attitude), pendapat (opinion), dan perilaku (behavior). Sikap komunikan bersifat inwrdly held (bersemi di dalam lubuk hati, tak tampak oleh orang lain). Baru akan diketahui apabila sikap itu outwardly expressed (dinyatakan secara verbal dalam bentuk pendapat dan secara non-verbal dalam perilaku atau tindakan).
• Apa yang harus dilakukan oleh komunikator perang urat saraf ?
Perang urat saraf termasuk kegiatan yang meliputi strategi dan operasi, maka komunikatornya bersifat kolektif (collective communicator). Dapat berfungsi sebagai strategist atau penyiasat yang harus memiliki penguasaan ilmu dan teori multi disipliner, karena sekaligus berfungsi sebagai penangkal perang urat saraf dari pihak musuh. Untuk itu penyiasat ini harus orang yang : aktif, dinamis, optimis, tenang, gemar membaca, dan paka terhadap gejala sosial.
Operasi Perang Urat Saraf
Operasi perang urat saraf merupakan pelaksanaan berdasarkan strategi yang telah disusun secara luas, mendalam, matang, dan terpadu. Kegiatan yang mermacam-macam harus simultan, dapat satu persatu dengan prinsip harus tepat waktunya.
Operasi perang urat saraf terdiri atas operasi intelijen dan operasi mempengauhi. Intelijen (Bahasa Inggris intelligence) berasal dari Bahasa Latin intelligentia yang berarti kecerdasan, akal budi, nalar. Pada konteks perang urat saraf dalam Encyclopedia Internasional yang dikutip dan diterjemahkan Onang Uchjana Effendi dalam buku Ilmu Komunikasi, Teori Dan Praktek, terdapat pengertian sempit intelijen, yaitu :
• Governmental intelligence : Information gathered by both open and covert means which is useful to nationstates in the conduct of their foreigh relations in peace and war (Informasi yang dikumpulkan, baik secara terbuka maupun secara terselubung, yang berguna bagi suatu negara dalam melakukan hubungan dengan negara-negara asing pada waktu damai dan perang).
• Military intelligence : The knowledge gained in peace and war from the collection, evaluation, analysis, integration, and interpretation of information about an actual or potential enemy or area of operations (Pengetahuan yang diperoleh pada waktu damai dan perang dari hasil koleksi, evaluasi, analisis, integrasi, dan potensial atau tentang medan laga). (1994 : 171)
Dalam teori komunikasi dikenal adanya circular communication (komunikasi sirkular) atau komunikasi berputar. Dalam proses komunikasi dimulai dari feedforward (arus laju), yaitu sebelum komunikator menyampaikan pesannya pada komunikan, komunikator berusaha mengetahui sebanyak-banyaknya frame of reference (kerangka acuan : usia, pekerjaan, agama, tingkat pendidikan, pandangan hidupnya, kepercayaannya, hobinya, dan sebagainya) dari komunikannya. Setelah pesan disampaikan komunikator berusaha agar terjadi feedback (arus balik/umpan balik), berusaha mengetahui response (tanggapan) komunikan terhadap pesan yang disampaikan tadi. Arus balik digunakan untuk evaluasi, apakah komunikasi itu berhasil atau gagal.
Pola komunikasi feedforward – feedback tersebut di atas, apalagi untuk operasi perang urat saraf, dilakukan dengan kemampuan intelijen yang mendukungnya. Yang sering mempraktekkan pola komunikasi tersebut adalah Presiden AS ke-32, Franklin Delano Roosevelt.
Menurut M. Karyadi yang dikutip Onong Uchjana Effendy dalam buku Ilmu Komunikasi, Teori Dan Praktek, membagi intelijen ke dalam dua bidang :
Intelijen Terbuka (open intelligence), dilakukan secara terang-terangan, misalnya :
• Membaca dan mempelajari buku-buku dan kesusastraan mengenai soal-soal tertentu;
• Membaca, mempelajari, dan mengikuti secara terus-menerus pengumuman-pengumuman resmi pemerintah negara-negara lain;
• Membaca dan mempelajari berita-berita dalam surat kabar harian atau majalah berkala seperti mingguan dan bulanan;
• Mendengarkan, mencatat, dan mempelajari siaran-siaran radio luar dan dalam negeri, pemerintah maupun swasta, juga radio gelap;
• Membaca dan mempalajari dokumen-dokumen, statistik-statistik, dan sebagainya;
• Melihat, memperhatikan, dan mempelajari dengan tajam segala sesuatu yang dialami pada waktu mengadakan peninjauan di suatu tempat atau daerah.
Intelijen Tertutup (secret intelligence), adalah intelijen yang melalukan kegiatannya secara tertutup atau rahasia, seperti :
• Mencari dan mengumpulkan behan-bahan keterangan dan data-data secara tidak terang-terangan
• Membinasakan atau mengurangi kekuatan material lawannya dengan jalan sabotase dan lain-lain secara tersembunyi.
• Merusak jiwa atau moral lawan dengan jalan propaganda yang menjelek-jelekan, pengacauan, pembunuhan, penculikan, pembakaran, dan sebagainya bukan dengan jalan terang-terangan. (1994 : 171 – 172)
Pendapat M. Karyadi tersebut mencakup pemahaman intelijen yang luas, tetapi cara-cara licik seperti sabotase, pembunuhan, penculikan, pembakaran, dan sebagainya itu bukanlah kajian ilmu komunikasi. Kebebasan komunikasi dalam kegiatan perang urat saraf terletak pada ciri-ciri : “bertujuan meraih kemenangan dengan cara mempengaruhi jiwa manusia, direncanakan secara mendalam dan matang, dan dilaksanakan secara terbuka dan terselubung”.
Operasi Mempengaruhi
Operasi perang urat saraf dilaksanakan berdasar rencana yang disusun dalam strategi yang dilandasi informasi hasil operasi intelijen. Dalam pelaksanaannya operasi mempengaruhi dibagi dua kegiatan, yaitu :
Komunikasi tatap muka (face to face communication), dilakukan secara rahasia dengan menyelundupkan agen-agen rahasia ke negara musuh. Yang effektif dengan menyebarkan desas-desus melalui pemuka pendapat (opinion leader), karena mengkomunikasikan desas-desus bagaikan “getok ular”, begitu dihembuskan akan cepat menjalar bagaikan menjalarnya bisa ular di tubuh yang terpatok ular. Hal ini sesuai dengan sifat alami manusia untuk menggambarkan kepada orang lain hal yang merangsang seraya menambah-nambahkan agar sensesional. Cara lain dalam operasi mempangaruhi dengan komunikasi tatap muka ialah dengan diplomasi, terutama ditujukan pada pihak netral. Menurut Suzana Keller yang dikutip dan diterjemahkan oleh Onong Uchjana Effendy dalam buku Ilmu Komunikasi, Teori Dan Praktek, bahwa :
“Para diplomat, sebagaimana diakui secara umum, paling sedikit harus melakukan tiga hal : (1) mewakili negaranya di negara asing;
(2) merundingkan persetujuan internasional; dan
(3) mengirimkan informasi ke negaranya mengenai kecenderungan dan kondisi negara tempat mereka bertugas. Kesemuanya itu tergantung pada komunikasi karena kegiatannya adalah penyampaian pesan, kesan, dan tafsiran oleh seseorang kepada orang lain. Dalam jaringan manusia ini seorang diplomat adalah kunci hubungan komunikasi yang dilakukannya pada umumnya adalah komunikasi antarpersona dalam setting yangtelah ditetapkan secara formal”. (1994 : 173 – 174).
Komunikasi bermedia (mediated communication), dipergunakan dalam pelaksanaan operasi mempengaruhi sebagai bagian penting dari proses perang urat saraf, tergantung pada sasaran yang dituju. Radio siaran sangat efektif ntuk melancarkan perang urat saraf.
Karena perang uarat saraf itu merupakan metoda komunikasi dan menjadi objek studi ilmu komunikasi, maka strategi perang urat saraf adalah strategi komunikasi. Menurut Onong Uchjana Effendy dalam buku Ilmu Komunikasi, Teori Dan Praktek, dalam hubungannya dengan stretegi perang urat saraf ini disarankan untuk menggunakan pendapat para ahli :
Harold Lasswell : Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect
Gerhard Maletzke : The goals which the communicator sought to achieve
Herbert W. Simons : Situational Context
William E. Daugherty : Propapaganda clasification :
• white propaganda
• black propaganda
• gray propaganda
Harcourt, Brace & Co. : The devices of propaganda :
• name calling
• glittering generality
• transfer
• testimonial
• plain folks
• card stacking
• bandwagon (1994 : 167)
Selanjutnya menurut Onong Uchjana Effendy dalam cara menelaah proses perang urat saraf untuk menyusun suatu strategi sebaiknya dalam bentuk pertanyaan berikut :
• Siapa yang akan dijadikan sasaran ?
Dapat ditujukan pada pihak musuh, pihak netral, dan pihak yang bersimpati, tetapi tujuan akhir sasaran (the goals which the communicator sought to achieve) adalah sama, yaitu mempengaruhi sikap, pendapat, dan perilaku mereka.
• Media apa yang akan dipergunakan ?
Pemilihan media disesuaikan dengan sasaran yang akan dituju dan bergantung pada situasi (situational context). Pada musuh yang dijadikan sasaran parang urat saraf yang paling efektif dengan radio, karena redio tidak mengenal jarak dan rintangan, atau dengan komunikasi tatap muka (face to face communication), misal untuk menyebarkan desas-desus. Pada pihak netral dan pihak sekutu dapat digunakan semua media den juga dengan diplomasi dan negoisasi.
• Pesan apa yang akan disebarkan ?
Pesan yang akan dilancarkan juga menyangkut devices (muslihat) yang akan dilakukan serta berkaitan erat dengan tujuan perang urat saraf, siapa yang dijadikan sasaran, dan efek yang diharapkan.
• Apa yang menjadi tujuan dan efek apa yang diharapkan ?
Tujuan dan efek yang diharapkan dalam rangka melancarkan perang urat saraf hampir tidak dapat dibedakan. Dalam prosesnya, tujuannya terdapat pada komunikator, yaitu perencana dan pelaku perang urat saraf, sedangkan efeknya terdapat pada komunikan, yaitu pihak sasaran perang urat saraf, yaitu untuk mempengaruhi untuk mengubah sikap (attitude), pendapat (opinion), dan perilaku (behavior). Sikap komunikan bersifat inwrdly held (bersemi di dalam lubuk hati, tak tampak oleh orang lain). Baru akan diketahui apabila sikap itu outwardly expressed (dinyatakan secara verbal dalam bentuk pendapat dan secara non-verbal dalam perilaku atau tindakan).
• Apa yang harus dilakukan oleh komunikator perang urat saraf ?
Perang urat saraf termasuk kegiatan yang meliputi strategi dan operasi, maka komunikatornya bersifat kolektif (collective communicator). Dapat berfungsi sebagai strategist atau penyiasat yang harus memiliki penguasaan ilmu dan teori multi disipliner, karena sekaligus berfungsi sebagai penangkal perang urat saraf dari pihak musuh. Untuk itu penyiasat ini harus orang yang : aktif, dinamis, optimis, tenang, gemar membaca, dan paka terhadap gejala sosial.
Operasi Perang Urat Saraf
Operasi perang urat saraf merupakan pelaksanaan berdasarkan strategi yang telah disusun secara luas, mendalam, matang, dan terpadu. Kegiatan yang mermacam-macam harus simultan, dapat satu persatu dengan prinsip harus tepat waktunya.
Operasi perang urat saraf terdiri atas operasi intelijen dan operasi mempengauhi. Intelijen (Bahasa Inggris intelligence) berasal dari Bahasa Latin intelligentia yang berarti kecerdasan, akal budi, nalar. Pada konteks perang urat saraf dalam Encyclopedia Internasional yang dikutip dan diterjemahkan Onang Uchjana Effendi dalam buku Ilmu Komunikasi, Teori Dan Praktek, terdapat pengertian sempit intelijen, yaitu :
• Governmental intelligence : Information gathered by both open and covert means which is useful to nationstates in the conduct of their foreigh relations in peace and war (Informasi yang dikumpulkan, baik secara terbuka maupun secara terselubung, yang berguna bagi suatu negara dalam melakukan hubungan dengan negara-negara asing pada waktu damai dan perang).
• Military intelligence : The knowledge gained in peace and war from the collection, evaluation, analysis, integration, and interpretation of information about an actual or potential enemy or area of operations (Pengetahuan yang diperoleh pada waktu damai dan perang dari hasil koleksi, evaluasi, analisis, integrasi, dan potensial atau tentang medan laga). (1994 : 171)
Dalam teori komunikasi dikenal adanya circular communication (komunikasi sirkular) atau komunikasi berputar. Dalam proses komunikasi dimulai dari feedforward (arus laju), yaitu sebelum komunikator menyampaikan pesannya pada komunikan, komunikator berusaha mengetahui sebanyak-banyaknya frame of reference (kerangka acuan : usia, pekerjaan, agama, tingkat pendidikan, pandangan hidupnya, kepercayaannya, hobinya, dan sebagainya) dari komunikannya. Setelah pesan disampaikan komunikator berusaha agar terjadi feedback (arus balik/umpan balik), berusaha mengetahui response (tanggapan) komunikan terhadap pesan yang disampaikan tadi. Arus balik digunakan untuk evaluasi, apakah komunikasi itu berhasil atau gagal.
Pola komunikasi feedforward – feedback tersebut di atas, apalagi untuk operasi perang urat saraf, dilakukan dengan kemampuan intelijen yang mendukungnya. Yang sering mempraktekkan pola komunikasi tersebut adalah Presiden AS ke-32, Franklin Delano Roosevelt.
Menurut M. Karyadi yang dikutip Onong Uchjana Effendy dalam buku Ilmu Komunikasi, Teori Dan Praktek, membagi intelijen ke dalam dua bidang :
Intelijen Terbuka (open intelligence), dilakukan secara terang-terangan, misalnya :
• Membaca dan mempelajari buku-buku dan kesusastraan mengenai soal-soal tertentu;
• Membaca, mempelajari, dan mengikuti secara terus-menerus pengumuman-pengumuman resmi pemerintah negara-negara lain;
• Membaca dan mempelajari berita-berita dalam surat kabar harian atau majalah berkala seperti mingguan dan bulanan;
• Mendengarkan, mencatat, dan mempelajari siaran-siaran radio luar dan dalam negeri, pemerintah maupun swasta, juga radio gelap;
• Membaca dan mempalajari dokumen-dokumen, statistik-statistik, dan sebagainya;
• Melihat, memperhatikan, dan mempelajari dengan tajam segala sesuatu yang dialami pada waktu mengadakan peninjauan di suatu tempat atau daerah.
Intelijen Tertutup (secret intelligence), adalah intelijen yang melalukan kegiatannya secara tertutup atau rahasia, seperti :
• Mencari dan mengumpulkan behan-bahan keterangan dan data-data secara tidak terang-terangan
• Membinasakan atau mengurangi kekuatan material lawannya dengan jalan sabotase dan lain-lain secara tersembunyi.
• Merusak jiwa atau moral lawan dengan jalan propaganda yang menjelek-jelekan, pengacauan, pembunuhan, penculikan, pembakaran, dan sebagainya bukan dengan jalan terang-terangan. (1994 : 171 – 172)
Pendapat M. Karyadi tersebut mencakup pemahaman intelijen yang luas, tetapi cara-cara licik seperti sabotase, pembunuhan, penculikan, pembakaran, dan sebagainya itu bukanlah kajian ilmu komunikasi. Kebebasan komunikasi dalam kegiatan perang urat saraf terletak pada ciri-ciri : “bertujuan meraih kemenangan dengan cara mempengaruhi jiwa manusia, direncanakan secara mendalam dan matang, dan dilaksanakan secara terbuka dan terselubung”.
Operasi Mempengaruhi
Operasi perang urat saraf dilaksanakan berdasar rencana yang disusun dalam strategi yang dilandasi informasi hasil operasi intelijen. Dalam pelaksanaannya operasi mempengaruhi dibagi dua kegiatan, yaitu :
Komunikasi tatap muka (face to face communication), dilakukan secara rahasia dengan menyelundupkan agen-agen rahasia ke negara musuh. Yang effektif dengan menyebarkan desas-desus melalui pemuka pendapat (opinion leader), karena mengkomunikasikan desas-desus bagaikan “getok ular”, begitu dihembuskan akan cepat menjalar bagaikan menjalarnya bisa ular di tubuh yang terpatok ular. Hal ini sesuai dengan sifat alami manusia untuk menggambarkan kepada orang lain hal yang merangsang seraya menambah-nambahkan agar sensesional. Cara lain dalam operasi mempangaruhi dengan komunikasi tatap muka ialah dengan diplomasi, terutama ditujukan pada pihak netral. Menurut Suzana Keller yang dikutip dan diterjemahkan oleh Onong Uchjana Effendy dalam buku Ilmu Komunikasi, Teori Dan Praktek, bahwa :
“Para diplomat, sebagaimana diakui secara umum, paling sedikit harus melakukan tiga hal : (1) mewakili negaranya di negara asing;
(2) merundingkan persetujuan internasional; dan
(3) mengirimkan informasi ke negaranya mengenai kecenderungan dan kondisi negara tempat mereka bertugas. Kesemuanya itu tergantung pada komunikasi karena kegiatannya adalah penyampaian pesan, kesan, dan tafsiran oleh seseorang kepada orang lain. Dalam jaringan manusia ini seorang diplomat adalah kunci hubungan komunikasi yang dilakukannya pada umumnya adalah komunikasi antarpersona dalam setting yangtelah ditetapkan secara formal”. (1994 : 173 – 174).
Komunikasi bermedia (mediated communication), dipergunakan dalam pelaksanaan operasi mempengaruhi sebagai bagian penting dari proses perang urat saraf, tergantung pada sasaran yang dituju. Radio siaran sangat efektif ntuk melancarkan perang urat saraf.
Propaganda dan Perang Urat Saraf
Propaganda dan Perang Urat Saraf (Psy War)
Istilah propaganda menurut Heinz Dietrich Fischer dan John Calhoun Merril yang dikutip oleh Onong Uchjana Effendi dalam buku Ilmu Komunikasi, Teori Dan Praktek, berasal dari nama suatu kegiatan penyiaran agama Katolik, yaitu Sacra Conregatio de Propaganda Fide atau Majelis Suci Untuk Menyebarkan Kepercayaan yang sudah dilakukan semasa Paus Gregorias XV di Roma tahun 1622.
Buku yang dianggap pertama kali mengupas propaganda secara luas dan teoritis adalah Mein Kampf (Perjuanganku) karangan Adolf Hitler (berisi berbagai pedoman untuk menguasai rakyat sendiri dan melumpuhkan mental musuh), buku tersebut menurut Robert B. Downs dianggap sebagai propagandic masterpiece of the age.
Menurut Astrid S. Soesanto propaganda adalah suatu proses penerangan (mengenai suatu paham, pendapat, dan sebagainya) yang benar atau pun salah yang dikembangkan dengan tujuan meyakinkan orang (biasanya disertai dengan janji-janji muluk) agar menganut suatu aliran, sikap, atau arah tindakan tertentu.
F. Rachmadi dalam buku Public Relatios Dalam Teori Dan Praktek (Aplikasi dalam Badan Usaha Swasta dan Lembaga Pemerintah) menyatakan bahwa : “Pengertian dari propaganda adalah informasi yang berisikan doktrin, opini, ataupun pernyataan resmi dari pemerintah. Propaganda adalah suatu kegiatan komunikasi dengan teknik tertentu”.
Pendapat dari Merrill seperti dikutip oleh F. Rachmadi dalam buku Public Relatios Dalam Teori Dan Praktek (Aplikasi dalam Badan Usaha Swasta dan Lembaga Pemerintah) bahwa : “ ... propaganda bisa diartikan mengontrol sikap tingkah laku manusia. Artinya, propaganda digunakan untuk mengubah sikap dan tingkah laku manusia untuk kesamaan dalam suatu pendapat atau cita-cita”.
Selanjutnya menurut Casey yang dikutip oleh F. Rachmadi dalam buku Public Relatios Dalam Teori Dan Praktek (Aplikasi dalam Badan Usaha Swasta dan Lembaga Pemerintah) menyebutkan bahwa beberapa ciri khas propaganda sebagai berikut :
Para propagandis dalam tugasnya hanyalah melayani para produser pemberitaan tetapi bukan para konsumennya.
Propagandis adalah orang-orang pilihan; mereka adalah orang pintar, disiplin, dan memiliki keberanian moral.
Berita propaganda selalu diperiksa secara cermat, sehingga propagandis harus cerdas.
Propaganda terkadang berbentuk hiburan, seperti film, sinetron, novel, komik dan lainnya, karena hiburan dianggap lebih ampuh untuk menarik khalayak.
Secara teoritis, pesan propaganda harus diulang-ulang. Teknik pengulangan adalah sangat penting dan merupakan dasar dalam kegiatan propaganda.
Para propagandais harus selalu siap menyesaikan strategi propagandanya pada saat menghadapi situasi yang berbeda. Misal kegiatan propaganda melalui media massa dapat diikuti dengan kegiatan Komunikasi Interpersonal yang lebih searah, karena dalam propaganda tidak menghendaki adanya dialog.
Selanjutnya F. Rachmadi dalam buku Public Relatios Dalam Teori Dan Praktek (Aplikasi dalam Badan Usaha Swasta dan Lembaga Pemerintah) telah mengutip publikasi yang diterbitkan oleh Harcourt, Brace and Company di Amerika Serikat bahwa dalam menerapkan strategi propaganda perlu digunakan tujuh cara (Devices of Propaganda / muslihat propaganda) sebagai berikut :
• The name calling device (Penggunaan nama ejekan), adalah strategi untuk menjatuhkan reputasi seseorang dengan ucapan-ucapan yang tidak baik agar pendengarnya atau pembaca pesan itu tidak menyenangi yang bersangkutan.
• The glittering generalation device (Penggunaan kata-kata muluk), adalah strategi percakapan dengan memaparkan hal-hal umum sehingga soal-soal detail yang sebenarnya penting tidak sempat diperhatikan oleh khalayak.
• The transfe device (Pengalihan), merupakan visualisasi konsep untuk mengalihkan karakter tertentu ke suatu pihak. Sebagai contoh : para politikus memajang fotonya ketika sedang bersalaman dengan presiden di ruang kantornya. Hal ini dimaksudkan untuk memindahkan wibawa yang dimiliki presiden ke dalam dirinya.
• The testimonial device (Pengutipan), adalah meminta dukungan seseorang yang berstatus tinggi untuk mengesahkan dan memperkuat tindakannya sendiri.
• The plain-folks device (Perendahan diri), adalah suatu usaha untuk mengenal motif seseorang dalam berkecimpung di bidang kemasyarakatan.
• The card stacking device (Pemalsuan), berisikan fakta yang mendukung pendapat seseorang dan mengesampingkan semua fakta yang berlawanan. Kemudian fakta tersebut disajikan guna menarik khalayak agar menerimanya, walaupun fakta tersebut berlawanan dengan kebenaran.
• The bandwagon device (Hura-hura), merupakan imbauan kepada khalayak untuk bergabung karena tujuan yang akan dicapai pasti berhasil. Dalam hal ini propagandais harus turun ke lapangan untuk mencapai keberhasilan tersebut. (1993 : 139 – 140).
Perang Urat Saraf (Psy War) adalah suatu proses komunikasi saling melakukan kegiatan propaganda antara seorang figur politik dengan figur politik lain, antara suatu kelompok dengan kelompok lain, dan antara suatu negara dengan negara lain, dengan tujuan untuk saling menekan dan menjatuhkan nama orang atau kelompok atau negara lain tersebut. Bagaimana caranya memusnahkan semangat juang musuh (dengan cara menyelundupkan agen-agen rahasia di kalangan musuh untuk menyebarkan desas-desus yang dapat menggoyahkan kekuatan musuh), dan sebaliknya bagaimana membangkitkan semangat juang jajaran sendiri.
Onong Uchjana Effendi dalam buku Ilmu Komunikasi, Teori Dan Praktek, telah mengutip dan menterjemahkan pendapat William E. Daugherty dan Morris Janowitz dari buku yang diterbitkan Departemen of Army USA berjudul A Psychological Warface Casebook, menyatakan bahwa perang urat saraf dapat didefinisikan sebagai :
“ ... The planned use of propaganda and other actions designed to influence the opinions, emotions, attitudes, and behavior of enemy, neutral, and friendly foreign groups in such a way as to support the acomplishment of national aims and objectives.
(Penggunaan secara berencana propaganda dan kegiatan-kegiatan lainnya yang dirancangkan untuk mempengaruhi pendapat, emosi, sikap, dan perilaku pihak musuh, pihak netral, pihak kelompok asing yang bersahabat dalam rangka mendukung pencapaian sasaran dan tujuan nasional). (1994 : 160)
Selanjutnya pendapat Paul M.A. Linebarger yang dikutif dan diterjemahkan Onong Uchjana Effendy dalam buku Ilmu Komunikasi, Teori Dan Praktek, bahwa prang urat saraf terdapat dua pengertian, yaitu :
Perang urat saraf dalam arti sempit, adalah : “The use of propaganda against an enemy, together with such other operasional measures of a military, economic, or political nature as may be required to supplement propaganda (Penggunaan propaganda terhadap musuh beserta tindakan-tindakan operasional lainnya yang bersifat militer, ekonomis, atau politis sebagaimana disyaratkan untuk melengkapi propaganda)”.
Perang urat saraf dalam arti luas, adalah : “ The application of parts of the science of psychology to further the efforts of political, economic, or military actions (Penerapan bagian-bagian dari ilmu psikologi guna melanjutkan kegiatan-kegiatan politik, ekonomi, atau militer)”.
Kemudian Onong Uchjana Effendy menyimpulkan bahwa perang urat saraf meliputi hal-hal berikut :
Ruang Lingkup : Bidang-bidang politik, ekonomi, dan militer.
Sasaran :
Orang-orang yang bersangkutan dengan kegiatan politik, ekonomi, dan militer.
Orang-orang yang ada hubungannya dengan gerakan militer :
• pihak musuh,
• pihak netral,
• pihak sahatat.
Tujuan :
Mencapai kemenangan
Mempengaruhi sikap, pendapat, dan perilaku.
Cara :
• Menerapkan aspek ilmu psikologi
• Merencanakan propaganda
• Merancang kegaiatn-kegiatan lain.
(1994 : 162)
Nama-nama lain untuk istilah perang urat saraf menurut Onong Uchjana Effendy, yaitu :
• political walfare (perang politik)
• ideological warfare (perang ideologi)
• nerve warfare ( saraf)
• propaganda warfare (perang propaganda)
• cold war (perang dingin)
• thought war (perang otak)
• war of ideas (perang ide)
• war of words (perang kata-kata)
• war of wits (perang kecerdasan)
• battle for men’s mind (perjuangan terhadap otak manusia)
• campaign of truth (kampanye kebenaran)
• indirect aggression (agresi tak langsung)
• international communication (komunikasi internasional)
• internatiopnal information (informasi internasional)
• international propaganda (propaganda internasional).(1994 : 163)
Dari nama-nama tersebut di atas maka perang urat saraf itu apapun julukannya pada hakikatnya adalah “suatu metode komunikasi yang secara berencana dan sistematis berupaya mengubah sikap, pendapat, atau perilaku seseorang atau kelompok orang dalam ajang kemiliteran, politik, ekonomi, dan lain-lain untuk meraih kemenangan”.
Selanjutnya William E. Daugherty dan Morris Janowitz yang dikutip dan diterjemahkan oleh Onong Uchjana Effendi dalam buku Ilmu Komunikasi, Teori Dan Praktek, bahwa klasifikasi propaganda meliputi :
White propaganda (Propaganda putih), yaitu propaganda yang diketahui sumbernya. Hal ini sering juga disebut overt propaganda atau propaganda terbuka. Propagandanya dilakukan secara terang-terangan hingga dapat dengan mudah diketahui sumbernya. Misalnya semasa peperangan Irak-Iran hampir setiap hari dari surat kabar atau setiap malam dari radio atau televisi dapat diperoleh berita mengenai hasil dan kemenangan pertempurannya, sumbernya jelas disebutkan. Untuk iu maka sering juga disebut counter propaganda atau propaganda balasan. Kalau dalam bidang ekonomi hal ini sering disebut commercial propaganda.
Black propaganda (Propaganda hitam), adalah propaganda yang menunjukkan sumbernya, tetapi bukan sumber yang sebenarnya. Hal ini disebut juga covert propaganda atau propaganda terselubung. Propaganda bagaikan istilah ‘lempar batu sembunyi tangan’ yang termasuk kegiatan yang tidak terpuji.
Gray propaganda (Propaganda kelabu), propaganda dilancarkan dengan menghindari identifikasi sumbernya, maka ada yang menganggap tidak lebih sebagai propaganda hitam atau propaganda terselubung yang kurang mantap. (1994 : 163 – 164).
Istilah propaganda menurut Heinz Dietrich Fischer dan John Calhoun Merril yang dikutip oleh Onong Uchjana Effendi dalam buku Ilmu Komunikasi, Teori Dan Praktek, berasal dari nama suatu kegiatan penyiaran agama Katolik, yaitu Sacra Conregatio de Propaganda Fide atau Majelis Suci Untuk Menyebarkan Kepercayaan yang sudah dilakukan semasa Paus Gregorias XV di Roma tahun 1622.
Buku yang dianggap pertama kali mengupas propaganda secara luas dan teoritis adalah Mein Kampf (Perjuanganku) karangan Adolf Hitler (berisi berbagai pedoman untuk menguasai rakyat sendiri dan melumpuhkan mental musuh), buku tersebut menurut Robert B. Downs dianggap sebagai propagandic masterpiece of the age.
Menurut Astrid S. Soesanto propaganda adalah suatu proses penerangan (mengenai suatu paham, pendapat, dan sebagainya) yang benar atau pun salah yang dikembangkan dengan tujuan meyakinkan orang (biasanya disertai dengan janji-janji muluk) agar menganut suatu aliran, sikap, atau arah tindakan tertentu.
F. Rachmadi dalam buku Public Relatios Dalam Teori Dan Praktek (Aplikasi dalam Badan Usaha Swasta dan Lembaga Pemerintah) menyatakan bahwa : “Pengertian dari propaganda adalah informasi yang berisikan doktrin, opini, ataupun pernyataan resmi dari pemerintah. Propaganda adalah suatu kegiatan komunikasi dengan teknik tertentu”.
Pendapat dari Merrill seperti dikutip oleh F. Rachmadi dalam buku Public Relatios Dalam Teori Dan Praktek (Aplikasi dalam Badan Usaha Swasta dan Lembaga Pemerintah) bahwa : “ ... propaganda bisa diartikan mengontrol sikap tingkah laku manusia. Artinya, propaganda digunakan untuk mengubah sikap dan tingkah laku manusia untuk kesamaan dalam suatu pendapat atau cita-cita”.
Selanjutnya menurut Casey yang dikutip oleh F. Rachmadi dalam buku Public Relatios Dalam Teori Dan Praktek (Aplikasi dalam Badan Usaha Swasta dan Lembaga Pemerintah) menyebutkan bahwa beberapa ciri khas propaganda sebagai berikut :
Para propagandis dalam tugasnya hanyalah melayani para produser pemberitaan tetapi bukan para konsumennya.
Propagandis adalah orang-orang pilihan; mereka adalah orang pintar, disiplin, dan memiliki keberanian moral.
Berita propaganda selalu diperiksa secara cermat, sehingga propagandis harus cerdas.
Propaganda terkadang berbentuk hiburan, seperti film, sinetron, novel, komik dan lainnya, karena hiburan dianggap lebih ampuh untuk menarik khalayak.
Secara teoritis, pesan propaganda harus diulang-ulang. Teknik pengulangan adalah sangat penting dan merupakan dasar dalam kegiatan propaganda.
Para propagandais harus selalu siap menyesaikan strategi propagandanya pada saat menghadapi situasi yang berbeda. Misal kegiatan propaganda melalui media massa dapat diikuti dengan kegiatan Komunikasi Interpersonal yang lebih searah, karena dalam propaganda tidak menghendaki adanya dialog.
Selanjutnya F. Rachmadi dalam buku Public Relatios Dalam Teori Dan Praktek (Aplikasi dalam Badan Usaha Swasta dan Lembaga Pemerintah) telah mengutip publikasi yang diterbitkan oleh Harcourt, Brace and Company di Amerika Serikat bahwa dalam menerapkan strategi propaganda perlu digunakan tujuh cara (Devices of Propaganda / muslihat propaganda) sebagai berikut :
• The name calling device (Penggunaan nama ejekan), adalah strategi untuk menjatuhkan reputasi seseorang dengan ucapan-ucapan yang tidak baik agar pendengarnya atau pembaca pesan itu tidak menyenangi yang bersangkutan.
• The glittering generalation device (Penggunaan kata-kata muluk), adalah strategi percakapan dengan memaparkan hal-hal umum sehingga soal-soal detail yang sebenarnya penting tidak sempat diperhatikan oleh khalayak.
• The transfe device (Pengalihan), merupakan visualisasi konsep untuk mengalihkan karakter tertentu ke suatu pihak. Sebagai contoh : para politikus memajang fotonya ketika sedang bersalaman dengan presiden di ruang kantornya. Hal ini dimaksudkan untuk memindahkan wibawa yang dimiliki presiden ke dalam dirinya.
• The testimonial device (Pengutipan), adalah meminta dukungan seseorang yang berstatus tinggi untuk mengesahkan dan memperkuat tindakannya sendiri.
• The plain-folks device (Perendahan diri), adalah suatu usaha untuk mengenal motif seseorang dalam berkecimpung di bidang kemasyarakatan.
• The card stacking device (Pemalsuan), berisikan fakta yang mendukung pendapat seseorang dan mengesampingkan semua fakta yang berlawanan. Kemudian fakta tersebut disajikan guna menarik khalayak agar menerimanya, walaupun fakta tersebut berlawanan dengan kebenaran.
• The bandwagon device (Hura-hura), merupakan imbauan kepada khalayak untuk bergabung karena tujuan yang akan dicapai pasti berhasil. Dalam hal ini propagandais harus turun ke lapangan untuk mencapai keberhasilan tersebut. (1993 : 139 – 140).
Perang Urat Saraf (Psy War) adalah suatu proses komunikasi saling melakukan kegiatan propaganda antara seorang figur politik dengan figur politik lain, antara suatu kelompok dengan kelompok lain, dan antara suatu negara dengan negara lain, dengan tujuan untuk saling menekan dan menjatuhkan nama orang atau kelompok atau negara lain tersebut. Bagaimana caranya memusnahkan semangat juang musuh (dengan cara menyelundupkan agen-agen rahasia di kalangan musuh untuk menyebarkan desas-desus yang dapat menggoyahkan kekuatan musuh), dan sebaliknya bagaimana membangkitkan semangat juang jajaran sendiri.
Onong Uchjana Effendi dalam buku Ilmu Komunikasi, Teori Dan Praktek, telah mengutip dan menterjemahkan pendapat William E. Daugherty dan Morris Janowitz dari buku yang diterbitkan Departemen of Army USA berjudul A Psychological Warface Casebook, menyatakan bahwa perang urat saraf dapat didefinisikan sebagai :
“ ... The planned use of propaganda and other actions designed to influence the opinions, emotions, attitudes, and behavior of enemy, neutral, and friendly foreign groups in such a way as to support the acomplishment of national aims and objectives.
(Penggunaan secara berencana propaganda dan kegiatan-kegiatan lainnya yang dirancangkan untuk mempengaruhi pendapat, emosi, sikap, dan perilaku pihak musuh, pihak netral, pihak kelompok asing yang bersahabat dalam rangka mendukung pencapaian sasaran dan tujuan nasional). (1994 : 160)
Selanjutnya pendapat Paul M.A. Linebarger yang dikutif dan diterjemahkan Onong Uchjana Effendy dalam buku Ilmu Komunikasi, Teori Dan Praktek, bahwa prang urat saraf terdapat dua pengertian, yaitu :
Perang urat saraf dalam arti sempit, adalah : “The use of propaganda against an enemy, together with such other operasional measures of a military, economic, or political nature as may be required to supplement propaganda (Penggunaan propaganda terhadap musuh beserta tindakan-tindakan operasional lainnya yang bersifat militer, ekonomis, atau politis sebagaimana disyaratkan untuk melengkapi propaganda)”.
Perang urat saraf dalam arti luas, adalah : “ The application of parts of the science of psychology to further the efforts of political, economic, or military actions (Penerapan bagian-bagian dari ilmu psikologi guna melanjutkan kegiatan-kegiatan politik, ekonomi, atau militer)”.
Kemudian Onong Uchjana Effendy menyimpulkan bahwa perang urat saraf meliputi hal-hal berikut :
Ruang Lingkup : Bidang-bidang politik, ekonomi, dan militer.
Sasaran :
Orang-orang yang bersangkutan dengan kegiatan politik, ekonomi, dan militer.
Orang-orang yang ada hubungannya dengan gerakan militer :
• pihak musuh,
• pihak netral,
• pihak sahatat.
Tujuan :
Mencapai kemenangan
Mempengaruhi sikap, pendapat, dan perilaku.
Cara :
• Menerapkan aspek ilmu psikologi
• Merencanakan propaganda
• Merancang kegaiatn-kegiatan lain.
(1994 : 162)
Nama-nama lain untuk istilah perang urat saraf menurut Onong Uchjana Effendy, yaitu :
• political walfare (perang politik)
• ideological warfare (perang ideologi)
• nerve warfare ( saraf)
• propaganda warfare (perang propaganda)
• cold war (perang dingin)
• thought war (perang otak)
• war of ideas (perang ide)
• war of words (perang kata-kata)
• war of wits (perang kecerdasan)
• battle for men’s mind (perjuangan terhadap otak manusia)
• campaign of truth (kampanye kebenaran)
• indirect aggression (agresi tak langsung)
• international communication (komunikasi internasional)
• internatiopnal information (informasi internasional)
• international propaganda (propaganda internasional).(1994 : 163)
Dari nama-nama tersebut di atas maka perang urat saraf itu apapun julukannya pada hakikatnya adalah “suatu metode komunikasi yang secara berencana dan sistematis berupaya mengubah sikap, pendapat, atau perilaku seseorang atau kelompok orang dalam ajang kemiliteran, politik, ekonomi, dan lain-lain untuk meraih kemenangan”.
Selanjutnya William E. Daugherty dan Morris Janowitz yang dikutip dan diterjemahkan oleh Onong Uchjana Effendi dalam buku Ilmu Komunikasi, Teori Dan Praktek, bahwa klasifikasi propaganda meliputi :
White propaganda (Propaganda putih), yaitu propaganda yang diketahui sumbernya. Hal ini sering juga disebut overt propaganda atau propaganda terbuka. Propagandanya dilakukan secara terang-terangan hingga dapat dengan mudah diketahui sumbernya. Misalnya semasa peperangan Irak-Iran hampir setiap hari dari surat kabar atau setiap malam dari radio atau televisi dapat diperoleh berita mengenai hasil dan kemenangan pertempurannya, sumbernya jelas disebutkan. Untuk iu maka sering juga disebut counter propaganda atau propaganda balasan. Kalau dalam bidang ekonomi hal ini sering disebut commercial propaganda.
Black propaganda (Propaganda hitam), adalah propaganda yang menunjukkan sumbernya, tetapi bukan sumber yang sebenarnya. Hal ini disebut juga covert propaganda atau propaganda terselubung. Propaganda bagaikan istilah ‘lempar batu sembunyi tangan’ yang termasuk kegiatan yang tidak terpuji.
Gray propaganda (Propaganda kelabu), propaganda dilancarkan dengan menghindari identifikasi sumbernya, maka ada yang menganggap tidak lebih sebagai propaganda hitam atau propaganda terselubung yang kurang mantap. (1994 : 163 – 164).
Bentuk-bentuk Komunikasi Politik
Bentuk-bentuk Komunikasi Yang Mendominasi Komunikasi Politik
1. Kampanye
Pada dasarnya pidato, kampanye, dan propaganda merupakan bentuk-bentuk komunikasi antarmanusia (human communications) yang dilakukan untuk mencapai suatu tujuan tertentu dengan menggunakan teknik dan metode tertentu pula.
Istilah kampanye berasal dari Bahasa Inggris campaign yang juga berasal dari Bahasa Latin campus yang berarti “extensive track of country, series of operation in a particular theactric war, an organized series of operation, meeting canvassing”. Hal ini membawa permasalahan ke masalah berkomunikasi populer/popularisasi tentang suatu masalah.
Menurut Rice dan Paisley yang dikutip oleh F. Rachmadi dalam dalam buku Public Relatios Dalam Teori Dan Praktek (Aplikasi dalam Badan Usaha Swasta dan Lembaga Pemerintah) bahwa kampanye adalah keinginan seseorang untuk mempengaruhi kepercayaan dan tingkah laku orang lain dengan daya tarik yang komunikatif. Tujuan kampanye adalah menciptakan ‘perubahan’ atau ‘perbaikan’ dalam masyarakat... (1993 : 134).
Menurut Astrid S. Soesanto dalam buku Pendapat Umum menyatakan bahwa prinsip dasar dalam kampanye adalah bahwa kampanye mengikuti proses komunikasi dan unsur-unsurnya, yaitu :
Proses Rasionalisasi/Emosionalitas. Proses rasional yaitu apa yang secara harfiah disampaikan dalam suatu kegiatan komunikasi. Proses emosional yang “sekedar” tersirat dalam penyampaian informasi. Proses rasionalitas biasanya terjadi waktu orang membahas hal-hal yang tidak terlalu melibatkan kepentingan pribadinya sehingga konsensus mudah tercapai. Unsur rasionalitas adalah proses pengoperan lambang-lambang secara harfiah dan proses komunikasi ialah proses emosionalitas yang mengiringi informasi rasional tadi. Tingkat emosionalitas dapat dideteksi melalui : pilihan kata dan tanda penyampaian. Hal lain yang berkaitan dengan proses rasionalitas adalah anteseden yaitu sumber pengalaman yang mendahului.
Unsur emosionalitas dan rasionalitas juga makin meningkat atau berkurang bila dikaitkan dengan :
• Kemampuan ekonomi/pendidikan
• Relevansi dengan hidup
• Demi waktu/rencana memanfaatkan waktu
Proses Informasi dan Proses Komunikasi. Proses perumusan informasi diambil dari sumber retreval yang tepat sumber, tepat alinea, tepat digit. Proses Komunikasi dengan retreval ditentukan oleh anteseden atau pengalaman yang mendahului, tetapi yang terpenting ialah adanya logika yang mengkaitkan informasi baru dengan informasi lama. (1975 : 123).
Sedangkan pendapat F. Rachmadi dalam buku Public Relatios Dalam Teori Dan Praktek (Aplikasi dalam Badan Usaha Swasta dan Lembaga Pemerintah) bahwa dalam melaksanakan kampanye ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan, antara lain :
Perkiraan terlebih dahulu kebutuhan, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan dari khalayak sasaran.
• Rencanakan kampanye secara sistematis.
• Lakuakan evaluasi secara terus-menerus.
• Gunakan media massa dan Komunikasi Interpersonal.
• Pilihlah media massa yang tepat untuk mencapai khalayak sasaran. (1993 : 135).
Menurut Astrid S. Soesanto secara ilmiah proses kampanye berjalan sebagai berikut :
mirip dengan iklan, tetapi lebih kuat dan agresif (Catatan : iklan adalah sejenis kampanye memerlukan proses lebih panjang dan lama) kampanye “mencegat” orang hampir di semua sudut. Tidak menyerahkan pengaruh kepada free market / social forces, menemui sasarannya dalam berbagai bentuk, keberhasilan kampanye ditentukan oleh tersedianya sesuatu segera setelah pesan mencapai sasaran, singkatnya kampanye “mengeroyok” sasaran di mana-mana dengan kata dan kegiatan, dan tidak mengenal ragu dan sangat yakin dan meyakinkan.(1975 : 124)
Selanjutnya menurut Astri S. Soesanto sebelum mengadakan program kampanye perlu diadakan terlebih dahulu pertanyaan-pertanyaan dalam merumuskan suatu program pesan-pesan kampanye, seperti :
siapakah komunikator , kepentingannya dan sasarannya ?
apakah lingkungan mendukung ?
• bagaimana ketersedian “sesuatu” alternatif bila pesan kampanye diterima khalayak ?
• bagaimanakah masa depan “sesuatu” (yang dikampanyekan) berikut unsur pendukung dan persaingan
Semua topik telah diteliti, seperti sasaran, lingkungan, latar belakang budaya, overlapping of interest (perimpitan kepentingan). Contoh overlapping of interest adalah KB memakai perbaikan taraf hidup asebagai sasaran, yang “berimpit” dengan sasaran dan harapan masyarakat.
Apakah data secara rasional telah siap untuk merumuskan slogan atau motto yang sesuai dan tidak memaksakan. Contoh motto BERIMAN (Bersih Indah dan Aman); ASRI (Aman Serasi Rapi Indah) merupakan motto yang dipaksakan. Slogan Sumedang Tandang cukup berhasil memacu masyarakat Sumedang untuk membangun dan setiap warga berpikir demikian tanpa adanya motto di jalan-jalan.
Dalam kampanye memungkinkan untuk dialog, karena kampanye bersifa two way traffic communication dan juga kampanye menggunakan pendekatan modern bersifat ekspresif. Hal ini membuat kampanye berbeda dengan propaganda.
Proses kampanye mirip proses komputer (PC) yang memiliki kemampuan strorage, retrieval, processing, transference dan preference.
Perubahan/pendekatan kampanye selalu mengikuti atau disesuaikan tahap demi tahap dengan tingkat perubahan yang telah dicapai.
Menurut Astrid S. Soesanto secara teknis langkah-langkah tersebut ialah :
• Pesan sama untuk khalayak yang berbeda kemampuan menyebarluaskan informasi (share) dan memisahkan (sepaate) informasi bila tingkat IQ khalayak berbeda mampu mengerjakan massifikasi dan juga de-massifikasi.
• Memanfaatkan pendekatan single sensory (indera tunggal) dan multy sensory (indera ganda). Didesak oleh waktu, dan
Mengenal sikap interaktif, yaitu :
• Dengan khalayak,
• Antar media, dan
• Person to person (tetapi tidak selalu face to face) (1975 :136).
Kesuksesan suatu kampanye selalu dipengaruhi oleh seberapa jauh suatu kelompok atau suatu partai politik atau suatu perusahaan atau pun lembaga pemerintah di kenal di lingkungan khalayak, dan seberapa banyak pesan kampanye itu disebarluaskan melalui beberapa media sekaligus.
Kampanye juga sangat tergantung dari jenis saluran komunikasi yang digunakan dan juga tergantung tergantung dari isi pesan kampanye tersebut. Isi pesan biasanya akan terhalang oleh kepentingan khalayak terhadap pesan yang disampaikan. Juga isi pesan selalu ditafsirkan sesuai dengan persepsi khalayak. Maka jika persepsi khalayak berbeda dengan isi pesan sesungguhnya akan mengakibatkan boomerang effect (berbalik menentang) dan counter effect (tidak akan mengikuti/menjalankan isi pesan kampanye).
Yang terakhir dan sangat menentukan kesuksesan dalam kampanye adalah bahwa dalam melaksanakan suatu kampanye diperluklan juga kredibilitas juru kampanye. Rice dan Paisley menyatakan kesuksesan kampanye suatu kampanye sangat tergantung dari personal influence, dalam arti para juru kampanye harus orang yang dihormati di lingkungannya dan juru kampanye tersebut memiliki kridibilitas yang tinggi. Kredibitas yang tinggi akan menumbuhkan wibawa para juru kampanye.
Yang perlu diingat bahwa dalam dalam kampanye dilakukan cara-cara yang sesuai dengan prosedur, baik prosedur secara ilmiah maupun prosedur secara etika dan hukum. Maka kampanye tersebut disebut juga white campaign. Apabila proses kampanye dilaksanakan tidak sesuai atau bertentangan prosedur ilmiah dan prosedur etika hukum yang berlaku maka kampanye itu dinamakan black campaign.
1. Kampanye
Pada dasarnya pidato, kampanye, dan propaganda merupakan bentuk-bentuk komunikasi antarmanusia (human communications) yang dilakukan untuk mencapai suatu tujuan tertentu dengan menggunakan teknik dan metode tertentu pula.
Istilah kampanye berasal dari Bahasa Inggris campaign yang juga berasal dari Bahasa Latin campus yang berarti “extensive track of country, series of operation in a particular theactric war, an organized series of operation, meeting canvassing”. Hal ini membawa permasalahan ke masalah berkomunikasi populer/popularisasi tentang suatu masalah.
Menurut Rice dan Paisley yang dikutip oleh F. Rachmadi dalam dalam buku Public Relatios Dalam Teori Dan Praktek (Aplikasi dalam Badan Usaha Swasta dan Lembaga Pemerintah) bahwa kampanye adalah keinginan seseorang untuk mempengaruhi kepercayaan dan tingkah laku orang lain dengan daya tarik yang komunikatif. Tujuan kampanye adalah menciptakan ‘perubahan’ atau ‘perbaikan’ dalam masyarakat... (1993 : 134).
Menurut Astrid S. Soesanto dalam buku Pendapat Umum menyatakan bahwa prinsip dasar dalam kampanye adalah bahwa kampanye mengikuti proses komunikasi dan unsur-unsurnya, yaitu :
Proses Rasionalisasi/Emosionalitas. Proses rasional yaitu apa yang secara harfiah disampaikan dalam suatu kegiatan komunikasi. Proses emosional yang “sekedar” tersirat dalam penyampaian informasi. Proses rasionalitas biasanya terjadi waktu orang membahas hal-hal yang tidak terlalu melibatkan kepentingan pribadinya sehingga konsensus mudah tercapai. Unsur rasionalitas adalah proses pengoperan lambang-lambang secara harfiah dan proses komunikasi ialah proses emosionalitas yang mengiringi informasi rasional tadi. Tingkat emosionalitas dapat dideteksi melalui : pilihan kata dan tanda penyampaian. Hal lain yang berkaitan dengan proses rasionalitas adalah anteseden yaitu sumber pengalaman yang mendahului.
Unsur emosionalitas dan rasionalitas juga makin meningkat atau berkurang bila dikaitkan dengan :
• Kemampuan ekonomi/pendidikan
• Relevansi dengan hidup
• Demi waktu/rencana memanfaatkan waktu
Proses Informasi dan Proses Komunikasi. Proses perumusan informasi diambil dari sumber retreval yang tepat sumber, tepat alinea, tepat digit. Proses Komunikasi dengan retreval ditentukan oleh anteseden atau pengalaman yang mendahului, tetapi yang terpenting ialah adanya logika yang mengkaitkan informasi baru dengan informasi lama. (1975 : 123).
Sedangkan pendapat F. Rachmadi dalam buku Public Relatios Dalam Teori Dan Praktek (Aplikasi dalam Badan Usaha Swasta dan Lembaga Pemerintah) bahwa dalam melaksanakan kampanye ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan, antara lain :
Perkiraan terlebih dahulu kebutuhan, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan dari khalayak sasaran.
• Rencanakan kampanye secara sistematis.
• Lakuakan evaluasi secara terus-menerus.
• Gunakan media massa dan Komunikasi Interpersonal.
• Pilihlah media massa yang tepat untuk mencapai khalayak sasaran. (1993 : 135).
Menurut Astrid S. Soesanto secara ilmiah proses kampanye berjalan sebagai berikut :
mirip dengan iklan, tetapi lebih kuat dan agresif (Catatan : iklan adalah sejenis kampanye memerlukan proses lebih panjang dan lama) kampanye “mencegat” orang hampir di semua sudut. Tidak menyerahkan pengaruh kepada free market / social forces, menemui sasarannya dalam berbagai bentuk, keberhasilan kampanye ditentukan oleh tersedianya sesuatu segera setelah pesan mencapai sasaran, singkatnya kampanye “mengeroyok” sasaran di mana-mana dengan kata dan kegiatan, dan tidak mengenal ragu dan sangat yakin dan meyakinkan.(1975 : 124)
Selanjutnya menurut Astri S. Soesanto sebelum mengadakan program kampanye perlu diadakan terlebih dahulu pertanyaan-pertanyaan dalam merumuskan suatu program pesan-pesan kampanye, seperti :
siapakah komunikator , kepentingannya dan sasarannya ?
apakah lingkungan mendukung ?
• bagaimana ketersedian “sesuatu” alternatif bila pesan kampanye diterima khalayak ?
• bagaimanakah masa depan “sesuatu” (yang dikampanyekan) berikut unsur pendukung dan persaingan
Semua topik telah diteliti, seperti sasaran, lingkungan, latar belakang budaya, overlapping of interest (perimpitan kepentingan). Contoh overlapping of interest adalah KB memakai perbaikan taraf hidup asebagai sasaran, yang “berimpit” dengan sasaran dan harapan masyarakat.
Apakah data secara rasional telah siap untuk merumuskan slogan atau motto yang sesuai dan tidak memaksakan. Contoh motto BERIMAN (Bersih Indah dan Aman); ASRI (Aman Serasi Rapi Indah) merupakan motto yang dipaksakan. Slogan Sumedang Tandang cukup berhasil memacu masyarakat Sumedang untuk membangun dan setiap warga berpikir demikian tanpa adanya motto di jalan-jalan.
Dalam kampanye memungkinkan untuk dialog, karena kampanye bersifa two way traffic communication dan juga kampanye menggunakan pendekatan modern bersifat ekspresif. Hal ini membuat kampanye berbeda dengan propaganda.
Proses kampanye mirip proses komputer (PC) yang memiliki kemampuan strorage, retrieval, processing, transference dan preference.
Perubahan/pendekatan kampanye selalu mengikuti atau disesuaikan tahap demi tahap dengan tingkat perubahan yang telah dicapai.
Menurut Astrid S. Soesanto secara teknis langkah-langkah tersebut ialah :
• Pesan sama untuk khalayak yang berbeda kemampuan menyebarluaskan informasi (share) dan memisahkan (sepaate) informasi bila tingkat IQ khalayak berbeda mampu mengerjakan massifikasi dan juga de-massifikasi.
• Memanfaatkan pendekatan single sensory (indera tunggal) dan multy sensory (indera ganda). Didesak oleh waktu, dan
Mengenal sikap interaktif, yaitu :
• Dengan khalayak,
• Antar media, dan
• Person to person (tetapi tidak selalu face to face) (1975 :136).
Kesuksesan suatu kampanye selalu dipengaruhi oleh seberapa jauh suatu kelompok atau suatu partai politik atau suatu perusahaan atau pun lembaga pemerintah di kenal di lingkungan khalayak, dan seberapa banyak pesan kampanye itu disebarluaskan melalui beberapa media sekaligus.
Kampanye juga sangat tergantung dari jenis saluran komunikasi yang digunakan dan juga tergantung tergantung dari isi pesan kampanye tersebut. Isi pesan biasanya akan terhalang oleh kepentingan khalayak terhadap pesan yang disampaikan. Juga isi pesan selalu ditafsirkan sesuai dengan persepsi khalayak. Maka jika persepsi khalayak berbeda dengan isi pesan sesungguhnya akan mengakibatkan boomerang effect (berbalik menentang) dan counter effect (tidak akan mengikuti/menjalankan isi pesan kampanye).
Yang terakhir dan sangat menentukan kesuksesan dalam kampanye adalah bahwa dalam melaksanakan suatu kampanye diperluklan juga kredibilitas juru kampanye. Rice dan Paisley menyatakan kesuksesan kampanye suatu kampanye sangat tergantung dari personal influence, dalam arti para juru kampanye harus orang yang dihormati di lingkungannya dan juru kampanye tersebut memiliki kridibilitas yang tinggi. Kredibitas yang tinggi akan menumbuhkan wibawa para juru kampanye.
Yang perlu diingat bahwa dalam dalam kampanye dilakukan cara-cara yang sesuai dengan prosedur, baik prosedur secara ilmiah maupun prosedur secara etika dan hukum. Maka kampanye tersebut disebut juga white campaign. Apabila proses kampanye dilaksanakan tidak sesuai atau bertentangan prosedur ilmiah dan prosedur etika hukum yang berlaku maka kampanye itu dinamakan black campaign.
KOMUNIKASI DAN POLITIK
KOMUNIKASI DAN POLITIK
A. Antara Komunikasi Politik Dan Politik Komunikasi
Sebelum membahas bagaimana komunikasi politik dan politik komunikasi, sebaiknya perlu diungkap dahulu apa yang dimaksud politik itu ?
Secara etimologis politik berasal dari Bahasa Yunani : polis artinya negara kota, kemudian kata polis diturunkan menjadi kata polities yang berarti warga negara dan kata politikos sebagai kata sifat dari polities.
Untuk masa kini istilah politik terdapat 2 pengertian :
• Istilah politik sebagai ilmu, disebut politik episteme atau politik saja.
• Istilah politik sebagai kemahiran politik/kegiatan politik disebut politik techne atau dikenal politik praktis.
Mirriam Budihardjo mendefinisikan bahwa : “Politik sebagai bermacam-macam kegiatan dalam suatu sistem politik yang menentukan tujuan-tujuan dari sistem politik dan melaksanakan tujuan-tujuan itu”.
Berikutnya definisi dari Joyce Mitchell lebih menekankan inti dari politik adalah pengambilan keputusan, seperti berikut : “Politik adalah pengambilan keputusan kolektif atau pembuatan kebijakan umum untuk masyarakat seluruhnya”.
Sedangkan Harold D. Lasswell memandang politik dari unsur pembagian, bahwa : “Politik itu adalah masalah siapa, mendapat apa, kapan, dan bagaimana”.
Pendapat Lasswell tersebut merupakan hakekat sebenarnya dalam kehidupan politik, yaitu :
• masalah siapa, disini dapat perseorangan sebagai figur/tokoh, kelompok, atau golongan.
• mendapat apa, dalam hal ini bisa mendapatkan kekuasaan kalau berhasil memenangkan persaingan, atau dapat juga kalah klau tidak menang dalam persaingan hingga menjadi oposisi.
• kapan, berkaitan dengan periodesasi berlangsungnya suatu kekuasaan.
• bagaimana, masalah ini tergantung pada penafsiran politik itu sendiri.
Dalam politik episteme bagaimana dalam mencapai tujuan memenangkan kekuasaan itu memperhatikan kaidah dan prosedural manajemen yang rasional dan memperhatikan norma dan etika moral yang berlaku.
Sedang dalam politik techne atau politik praktis dalam bagaimana mencapai tujuan itu tidak memperhatikan kaidah dan prosedural serta norma dan etika moral sehingga bersifat irrasional (atau juga licik).
Dalam kehidupan negara, kegiatan politik negara merupakan suatu sistem politik. Sistem politik dalam negara terbagai dalam dua lapisan unsur / lapisan suasana kehidupan politik :
The Gonernmental Political Sphere (suasana kehidupan kehidupan politik pemerintahan) atau disebut juga “bangunan atas” sistem politik, dikenal dengan Suprastruktur Politik , disini terdapat lembaga-lembaga negara yang berperan penting dalam proses politik pemerintahan. Di Indonesia yang termasuk suprastruktur politik adalah : Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Presiden (berikut kabinetnya), Mahkamah Agung (MA), dan Mahkamah Konstitusi.
The Socio Political Sphere (suasana kehidupan politik rakyat) atau disebut Infrastruktur Politik, yaitu “bangunan bawah” kehidupan politik, merupakan kekuatan sosial politik masyarakat, meliputi :
Interst Group (golongan kepentingan, yaitu organisasi kemasyarakatan (ormas) atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang mempengaruhi kebijakan pemerintah.
Plesure Group (golongan penekan) seseorang atau kelompok yang mempengaruhi kebijakan pemerintah supaya menguntungkan pihaknya, misalnya pengusaha, lembaga internasional atau negara asing.
Pers / Media Massa
Figur Politik (tokoh politik) yaitu tokoh-tokoh masyarakat, termasuk tokoh partai, yang dapat mempengaruhi rakyat maupun pemerintah.
Partai Politik
Menurut Sigmund Newmann bahwa : “Partai politik adalah organisasi dari aktivitas-aktivitas politik yang berusaha untuk menguasai kekuasaan pemerintahan serta merebut dukungan rakyat atas dasar persaingan suatu golongan atas golongan lain yang mempunyai pandangan berbeda”.
Fungsi partai politik dalam negara demokratis ada empat, yaitu :
Sarana Komunikasi Politik :
Upper Communication, membawa dan menyalurkan kehendak dan aspirasi rakyat untuk diwujudkan dalam kebijakan negara.
Down Communication, penghubung antara pemerintah dengan rakyat, memberikan penerangan pada masyarakat sehingga tidak terjadi kesimpangsiuran pendapat masyarakat, serta membentuk opini publik.
Sarana Sosialisasi Politik Sosialisasi politik adalah proses seseorang memperoleh sikap dan orientasi terhadap gejala yang berlaku dalam masyarakat.
Sarana Rekuitment Politik (sarana pengangkatan anggota), yaitu mencari dan mengajak orang berbakat untuk menjadi pangurus partai.
Sarana Pengatur Konflik, yaitu mengatasi persaingan dan perbedaan pendapat diantara golongan/kelompok masyarakat yang dapat mengakibatkan terjadi konflik dalam masyarakat.
Dengan demikian betapa pentingnya komunikasi dalam politik, selain sebagai salah satu fungsi dari partai, juga semua proses dalam sistem politik menggunakan teknik dan strategi komunikasi.
Komunikasi politik adalah komunikasi atau kegaiatan yang dianggap politis atas dasar konsekuensi-konsekuensi aktual dan potensial, yang menata perilaku manusia dalam kondisi konflik.
Politik komunikasi adalah suatu strategi komunikasi yang dipergunakan dalam mengendalikan perubahan sosial (social change), revolusi sosial (social revolution), dan revolusi politik (political revolution).
Pengertian secara fungsional perkataan “politik” dalam politik komunikasi menunjukkan proses perumusan kebijakan disertai pelaksanaannya bagi masyarakat (designates the process by which policies are made ang carried out for a society).
Lord Windlesham dalam buku What Is Political Communication menyatakan bahwa :
“Political Communication is the deliberate pasing of a political message by a sender to a receiver with the intention of making the receiver behave in a way that might not otherwise have done (Komunikasi politik adalah suatu penyampaian pesan politik yang secara sengaja dilakukan oleh komunikator kepada komunikan dengan tujuan membuat komunikan berperilaku tertentu).”
Selanjutnya Windlesham menyebutkan bahwa sebelum pesan politik dapat direkontruksikan untuk disampaikan kepada komunikan dengan tujuan mempengaruhinya, di situ harus terdapat keputusan politik yang harus dirumuskan berdasarkan berbagai pertimbangan. Sedangkan kalau menurut Sanders dan Kaid menyatakan bahwa komunikasi politik harus intentionally persuasive.
Dengan demikian Sanders, Kaid, dan Windlesham menekankan pengertian komunikasi politik pada tujuan. Sedangkan Dan Nimo dalam buku Political Communication and Public Opinion in America menekankan pada efek yang muncul pada komunikasi sebagai akibat dari penyampaian suatu pesan.
Menurut tingkatan derajatnya efek komunikasi terdiri dari tiga jenis :
Efek kognitif. Sebuah pesan yang menimbulkan efek kognitif pada komunikan, telah berhasil membuat komunikan mengerti, sehingga menjadi suatu informasi atau pengetahuan bagi komunikan.
Efek afektif. Sebuah pesan selain membaut komunikan mengerti, tetapi juga membuat lubuk hati komunikan tersentuh sehingga menimbulkan perasaan tertentu padanya, seperti merasa iba, marah, takut, khawatir. Sedih, benci, penasaran, gembira, bahagia, dan sebagainya.
Efek behavioral. Pesan komunikasi tadi bukan saja berhasil membuat komunikan mengerti disertai perasaan tertentu, tetapi juga membuat komunikan melakukan suatu kegiatan atau tindakan. Tidakan dapat berupa kegiatan positif konstruktif atau juga tindakan negatif destruktif.
Tidakan positif konstruktif dan tindakan negatif destruktif apabila menyangjut penomena sosial merupakan tindak lanjut dari opini publik.
Miriam D. Irish dan James W. Protho menyebutkan bahwa opini publik sebagai the expression of attitudes on social issue. Opini publik terjadi apabila sejumlah orang dalam masyarakat terlibat dalam suatu pergunjingan mengenai suatu masalah bersifat kontrovesial (ada yang pro dan ada yang kontra).
Menurut John Locke bahwa umum dalam Public Opinion adalah :
individu yang mengambil keputusannya berdasarkan diskusi
karena keinginannya mencapai harmoni dengan sendirinya akan mencapai persesuaian paham. persesuaian mudah dicapai karena orang berpegang pada rasio. Dalam kehidupan politik menunjukkan bahwa seorang pemimpin politik adalah orang yang memiliki kemampuan memobilisasi opini publik. Sedangkan kegiatan memobilisasi opini publik adalah komunikasi.
Opini publik sangat penting dalam kegiatan komunikasi politik. Hadley Cantril dalam buku Gauging Public Opinion menamakan bahwa Some Law of Public Opinion menyatakanh bahwa :
• “Opini tidak menetap lama, kecuali jika khalayak merasa bahwa kepentingan pribadinya benar-benar tersangkut, atau apabila opini yang dibangkitkan dengan kata-kata diperkuat oleh peristiwa-peristiwa.
• Suatu perisiwa yang luar biasa dapat menggeser opini publik sesaat dari ekstremitas yang satu ke ekstremitas lain; opini publik itu tidak akan mapan, kecuali kalau implikasi-implikasi peristiwa tersebut menunjukkan beberapa perspektif. - ......”
Sejalan dengan pendapat di atas, Ferdinand Tonnies mengklasifikasikan opini publik berdasarkan sifatnya :
• Opini publik bersifat luftartin, opini publik bagaikan uap yang dalam perkembangannya masih mencari bentuk maka olek komunikator politik dapat dengan mudah dibawa ke arah yang dikehendaki.
• Opini publik bersifat fluassig, opini publik bagaikan air yang tentu sudah mempunyai bentuk tetapi dapat diubah seperti mengalirkan air.
• Opini publik bersifat festig, opini publik yang kukuh seperti benteng
Walaupun opini publik yang kukuh itu kuat tetapi dapat juga dibuyarkan dengan teknik komunikasi persuasif. Seperti pada tahun 1960-an PKI telah melancarkan operasionalisasi komunikasi politik telah menghancurkan kekukuhan dua perwira tinggi menjadi anteknya melalui teknik persuasi antarpesona dengan anjang sana terus menerus.
Dengan kenyataan bahwa opini publik yang kukuh pun dapat hancur, maka Joseph A. Devito dalam buku Communicologi : An Introduction to the Study of Communication menyatakan bahwa komunikasi selalu berlangsung dalam konteks situsional yang paling sedikit terdiri dari empat dimensi, yaitu dimensi fisik, psikologis, sosial, dan temporal.
Tujuan dari komunikasi politik adalah bermuara pada kesadaran akan pentingnya pembangunan politik dalam rangka mewujudkan stabilitas politik. Pembangunan politik merupakan proses sosialisasi politik dan pendidikan politik secara konsepsional integral untuk menciptakan masyarakat yang berkesadaran politik, sehingga menjadi “stratum politik” tidak lagi terjadi “stratum apolitik”, yang pada tahap kelanjutannya menjadi masyarakat yang berbudaya politik. Rakyat yang berbudaya politik akan memahami dan melaksanakan hak dan kewaibannya sebagai warga negara.
A. Antara Komunikasi Politik Dan Politik Komunikasi
Sebelum membahas bagaimana komunikasi politik dan politik komunikasi, sebaiknya perlu diungkap dahulu apa yang dimaksud politik itu ?
Secara etimologis politik berasal dari Bahasa Yunani : polis artinya negara kota, kemudian kata polis diturunkan menjadi kata polities yang berarti warga negara dan kata politikos sebagai kata sifat dari polities.
Untuk masa kini istilah politik terdapat 2 pengertian :
• Istilah politik sebagai ilmu, disebut politik episteme atau politik saja.
• Istilah politik sebagai kemahiran politik/kegiatan politik disebut politik techne atau dikenal politik praktis.
Mirriam Budihardjo mendefinisikan bahwa : “Politik sebagai bermacam-macam kegiatan dalam suatu sistem politik yang menentukan tujuan-tujuan dari sistem politik dan melaksanakan tujuan-tujuan itu”.
Berikutnya definisi dari Joyce Mitchell lebih menekankan inti dari politik adalah pengambilan keputusan, seperti berikut : “Politik adalah pengambilan keputusan kolektif atau pembuatan kebijakan umum untuk masyarakat seluruhnya”.
Sedangkan Harold D. Lasswell memandang politik dari unsur pembagian, bahwa : “Politik itu adalah masalah siapa, mendapat apa, kapan, dan bagaimana”.
Pendapat Lasswell tersebut merupakan hakekat sebenarnya dalam kehidupan politik, yaitu :
• masalah siapa, disini dapat perseorangan sebagai figur/tokoh, kelompok, atau golongan.
• mendapat apa, dalam hal ini bisa mendapatkan kekuasaan kalau berhasil memenangkan persaingan, atau dapat juga kalah klau tidak menang dalam persaingan hingga menjadi oposisi.
• kapan, berkaitan dengan periodesasi berlangsungnya suatu kekuasaan.
• bagaimana, masalah ini tergantung pada penafsiran politik itu sendiri.
Dalam politik episteme bagaimana dalam mencapai tujuan memenangkan kekuasaan itu memperhatikan kaidah dan prosedural manajemen yang rasional dan memperhatikan norma dan etika moral yang berlaku.
Sedang dalam politik techne atau politik praktis dalam bagaimana mencapai tujuan itu tidak memperhatikan kaidah dan prosedural serta norma dan etika moral sehingga bersifat irrasional (atau juga licik).
Dalam kehidupan negara, kegiatan politik negara merupakan suatu sistem politik. Sistem politik dalam negara terbagai dalam dua lapisan unsur / lapisan suasana kehidupan politik :
The Gonernmental Political Sphere (suasana kehidupan kehidupan politik pemerintahan) atau disebut juga “bangunan atas” sistem politik, dikenal dengan Suprastruktur Politik , disini terdapat lembaga-lembaga negara yang berperan penting dalam proses politik pemerintahan. Di Indonesia yang termasuk suprastruktur politik adalah : Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Presiden (berikut kabinetnya), Mahkamah Agung (MA), dan Mahkamah Konstitusi.
The Socio Political Sphere (suasana kehidupan politik rakyat) atau disebut Infrastruktur Politik, yaitu “bangunan bawah” kehidupan politik, merupakan kekuatan sosial politik masyarakat, meliputi :
Interst Group (golongan kepentingan, yaitu organisasi kemasyarakatan (ormas) atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang mempengaruhi kebijakan pemerintah.
Plesure Group (golongan penekan) seseorang atau kelompok yang mempengaruhi kebijakan pemerintah supaya menguntungkan pihaknya, misalnya pengusaha, lembaga internasional atau negara asing.
Pers / Media Massa
Figur Politik (tokoh politik) yaitu tokoh-tokoh masyarakat, termasuk tokoh partai, yang dapat mempengaruhi rakyat maupun pemerintah.
Partai Politik
Menurut Sigmund Newmann bahwa : “Partai politik adalah organisasi dari aktivitas-aktivitas politik yang berusaha untuk menguasai kekuasaan pemerintahan serta merebut dukungan rakyat atas dasar persaingan suatu golongan atas golongan lain yang mempunyai pandangan berbeda”.
Fungsi partai politik dalam negara demokratis ada empat, yaitu :
Sarana Komunikasi Politik :
Upper Communication, membawa dan menyalurkan kehendak dan aspirasi rakyat untuk diwujudkan dalam kebijakan negara.
Down Communication, penghubung antara pemerintah dengan rakyat, memberikan penerangan pada masyarakat sehingga tidak terjadi kesimpangsiuran pendapat masyarakat, serta membentuk opini publik.
Sarana Sosialisasi Politik Sosialisasi politik adalah proses seseorang memperoleh sikap dan orientasi terhadap gejala yang berlaku dalam masyarakat.
Sarana Rekuitment Politik (sarana pengangkatan anggota), yaitu mencari dan mengajak orang berbakat untuk menjadi pangurus partai.
Sarana Pengatur Konflik, yaitu mengatasi persaingan dan perbedaan pendapat diantara golongan/kelompok masyarakat yang dapat mengakibatkan terjadi konflik dalam masyarakat.
Dengan demikian betapa pentingnya komunikasi dalam politik, selain sebagai salah satu fungsi dari partai, juga semua proses dalam sistem politik menggunakan teknik dan strategi komunikasi.
Komunikasi politik adalah komunikasi atau kegaiatan yang dianggap politis atas dasar konsekuensi-konsekuensi aktual dan potensial, yang menata perilaku manusia dalam kondisi konflik.
Politik komunikasi adalah suatu strategi komunikasi yang dipergunakan dalam mengendalikan perubahan sosial (social change), revolusi sosial (social revolution), dan revolusi politik (political revolution).
Pengertian secara fungsional perkataan “politik” dalam politik komunikasi menunjukkan proses perumusan kebijakan disertai pelaksanaannya bagi masyarakat (designates the process by which policies are made ang carried out for a society).
Lord Windlesham dalam buku What Is Political Communication menyatakan bahwa :
“Political Communication is the deliberate pasing of a political message by a sender to a receiver with the intention of making the receiver behave in a way that might not otherwise have done (Komunikasi politik adalah suatu penyampaian pesan politik yang secara sengaja dilakukan oleh komunikator kepada komunikan dengan tujuan membuat komunikan berperilaku tertentu).”
Selanjutnya Windlesham menyebutkan bahwa sebelum pesan politik dapat direkontruksikan untuk disampaikan kepada komunikan dengan tujuan mempengaruhinya, di situ harus terdapat keputusan politik yang harus dirumuskan berdasarkan berbagai pertimbangan. Sedangkan kalau menurut Sanders dan Kaid menyatakan bahwa komunikasi politik harus intentionally persuasive.
Dengan demikian Sanders, Kaid, dan Windlesham menekankan pengertian komunikasi politik pada tujuan. Sedangkan Dan Nimo dalam buku Political Communication and Public Opinion in America menekankan pada efek yang muncul pada komunikasi sebagai akibat dari penyampaian suatu pesan.
Menurut tingkatan derajatnya efek komunikasi terdiri dari tiga jenis :
Efek kognitif. Sebuah pesan yang menimbulkan efek kognitif pada komunikan, telah berhasil membuat komunikan mengerti, sehingga menjadi suatu informasi atau pengetahuan bagi komunikan.
Efek afektif. Sebuah pesan selain membaut komunikan mengerti, tetapi juga membuat lubuk hati komunikan tersentuh sehingga menimbulkan perasaan tertentu padanya, seperti merasa iba, marah, takut, khawatir. Sedih, benci, penasaran, gembira, bahagia, dan sebagainya.
Efek behavioral. Pesan komunikasi tadi bukan saja berhasil membuat komunikan mengerti disertai perasaan tertentu, tetapi juga membuat komunikan melakukan suatu kegiatan atau tindakan. Tidakan dapat berupa kegiatan positif konstruktif atau juga tindakan negatif destruktif.
Tidakan positif konstruktif dan tindakan negatif destruktif apabila menyangjut penomena sosial merupakan tindak lanjut dari opini publik.
Miriam D. Irish dan James W. Protho menyebutkan bahwa opini publik sebagai the expression of attitudes on social issue. Opini publik terjadi apabila sejumlah orang dalam masyarakat terlibat dalam suatu pergunjingan mengenai suatu masalah bersifat kontrovesial (ada yang pro dan ada yang kontra).
Menurut John Locke bahwa umum dalam Public Opinion adalah :
individu yang mengambil keputusannya berdasarkan diskusi
karena keinginannya mencapai harmoni dengan sendirinya akan mencapai persesuaian paham. persesuaian mudah dicapai karena orang berpegang pada rasio. Dalam kehidupan politik menunjukkan bahwa seorang pemimpin politik adalah orang yang memiliki kemampuan memobilisasi opini publik. Sedangkan kegiatan memobilisasi opini publik adalah komunikasi.
Opini publik sangat penting dalam kegiatan komunikasi politik. Hadley Cantril dalam buku Gauging Public Opinion menamakan bahwa Some Law of Public Opinion menyatakanh bahwa :
• “Opini tidak menetap lama, kecuali jika khalayak merasa bahwa kepentingan pribadinya benar-benar tersangkut, atau apabila opini yang dibangkitkan dengan kata-kata diperkuat oleh peristiwa-peristiwa.
• Suatu perisiwa yang luar biasa dapat menggeser opini publik sesaat dari ekstremitas yang satu ke ekstremitas lain; opini publik itu tidak akan mapan, kecuali kalau implikasi-implikasi peristiwa tersebut menunjukkan beberapa perspektif. - ......”
Sejalan dengan pendapat di atas, Ferdinand Tonnies mengklasifikasikan opini publik berdasarkan sifatnya :
• Opini publik bersifat luftartin, opini publik bagaikan uap yang dalam perkembangannya masih mencari bentuk maka olek komunikator politik dapat dengan mudah dibawa ke arah yang dikehendaki.
• Opini publik bersifat fluassig, opini publik bagaikan air yang tentu sudah mempunyai bentuk tetapi dapat diubah seperti mengalirkan air.
• Opini publik bersifat festig, opini publik yang kukuh seperti benteng
Walaupun opini publik yang kukuh itu kuat tetapi dapat juga dibuyarkan dengan teknik komunikasi persuasif. Seperti pada tahun 1960-an PKI telah melancarkan operasionalisasi komunikasi politik telah menghancurkan kekukuhan dua perwira tinggi menjadi anteknya melalui teknik persuasi antarpesona dengan anjang sana terus menerus.
Dengan kenyataan bahwa opini publik yang kukuh pun dapat hancur, maka Joseph A. Devito dalam buku Communicologi : An Introduction to the Study of Communication menyatakan bahwa komunikasi selalu berlangsung dalam konteks situsional yang paling sedikit terdiri dari empat dimensi, yaitu dimensi fisik, psikologis, sosial, dan temporal.
Tujuan dari komunikasi politik adalah bermuara pada kesadaran akan pentingnya pembangunan politik dalam rangka mewujudkan stabilitas politik. Pembangunan politik merupakan proses sosialisasi politik dan pendidikan politik secara konsepsional integral untuk menciptakan masyarakat yang berkesadaran politik, sehingga menjadi “stratum politik” tidak lagi terjadi “stratum apolitik”, yang pada tahap kelanjutannya menjadi masyarakat yang berbudaya politik. Rakyat yang berbudaya politik akan memahami dan melaksanakan hak dan kewaibannya sebagai warga negara.
Langganan:
Postingan (Atom)
Main game yuk !
|
|
|
| Add Games to your own site | |
Saran dan Masukan
Bagi anda yang ingin berbagi, memberikan masukan, komentar, pertanyaan, mengirim artikel & ingin ditayangkan, silahkan kirim ke ajias66@gmail.com.