KOMUNIKASI DAN JURNALISTIK
Seperti telah disebutkan pada bab terdahulu bahwa Publisistik secara tradisional berkembang dari akar yang kuat, dari retorika. Setelah ditemukannya alat cetak menyebabkan timbulnya surat kabar, timbullah ilmu yang mempelajari persuratkabaran (di Jerman disebut Zeitungswissenschaft sedang di Inggris Journalism) yang di Indonesia sering disebut Jurnalistik. Selanjutnya jurnalistik masa sekarang dikenal dengan sebutan PERS, karena hasil produk jurnalistik dan sarana penyiaran jurnalistik adalah dalam bentuk pers.
Journalistic/Journalism bersumber dari kata Journal yang berasal dari Bahasa Latin diurnal yang berarti harian atau setiap hari.
Jurnalistik didefinisikan sebagai keterampilan atau kegaiatan mengelola bahan berita mulai dari peliputan sampai pada penyusunan yang layak disebarluaskan kepada masyarakat secara rutin setiap hari.
Fungsi Jurnalistik
Acta Diurna sebagai produk Jurnalistik pertama di dunia pada masa Romawi Kuno ketika Kaisar Julius Caesar berkuasa isinya hanya berisi hal-hal yang sifatnya informatif saja.
Perkembangan selanjutnya karena pers dapat menghasilkan produk massal dan jangkauan massa yang menyeluruh serta serempak maka sering dipergunakan kaum idealis untuk melakukan social control hingga akhirnya pers bukan hanya bersifat informatif semata tetapi juga bersifat persuasif.
Pers bukan hanya menyiarkan informasi, tetapi juga membujuk dan mengajak khalayak untuk mengambil sikap tertentu, agar berbuat sesuatu atau untuk tidak melakukan sesuatu. Bentuk jurnalistik atau pers yang bersifat persuasif antara lain adalah tajuk rencana (editorial) dan pelaporan selidik (investigative reporting).
Berdasarkan uraian tersebut, maka fungsi pers dapat dijelaskan sebagai berikut :
• Fungsi menyiarkan informasi. Khalayak memerlukan pers untuk mendapatkan informasi di muka bumi ini : mengenai peristiwa yang terjadi, gagasan atau pikiran orang lain, apa yang dikatakan oang lain, dan sebagainya.
• Fungsi mendidik.Sebagai sarana pendidikan massa (mass education), pers memuat tulisan-tulisan yang mengandung pengetahuan sehingga khalayak pembaca bertambah pengetahuannya. Fungsi mendidik ini dapat secara implisit dalam bentuk berita, juga dapat secara eksplisit dalam bentuk artikel atau tajuk rencana. Kadang cerita bersambung atau berita bergambar juga mengandung aspek pendidikan.
• Fungsi Menghibur. Tujuan hiburan biasanya juga untuk mengimbangi berita berat (hard news) dan artikel-artikel berbobot. Hiburan dapat ditampilkan dengan berita ringan, pemuatan cerita, teka-teki, karikatur, dan sebagainya.
• Fungsi Mempengaruhi. Fungsi mempengaruhi dari pers secara implisit terdapat pada berita sedangkan secara eksplisit terdapat pada tajuk rencana dan artikel. Fungsi mempengaruhi khusus dalam bidang perniagaan terdapat pada iklan-iklan atau display suatu produk. Karena fungsi pers mempengaruhi ini menyebabkan pers memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Sehingga pada masanya Napoleon pernah berkata bahwa ia lebih takut oleh empat surat kabar dari pada seratus serdadu dengan sangkur terhunus.
Arti dan Konsep Berita
Berita atau news adalah segala hal apa yang nyata terjadi, hal yang akan terjadi, adan apa yang menjadi pemikiran orang.
Menurut Mitchel V. Charn dalam buku Reporting menyatakan bahwa : “News is the timely repaort of facts or opinion of either interest or importance, or both, to a considerable number of people. (Berita adalah laporan tercepat mengenai fakta atau opini yang mengandung hal yang menarik minat atau penting, atau kedua-duanya, bagi sejumlah besar penduduk).
Di kalangan wartawan ada yang mengartikan news itu bentuk prural dari new sebagai penyiaran hal-hal yang terbaru, dan ada juga yang berpendapat news sebagai singkatan dari : north (utara), east (timur), west (barat), south (selatan). Mereka mengartikan berita sebagai laporan dari keempat penjuru angin, laporan dari mana-mana, dari berbagai tempat di dunia. Walau arti tersebut tidak menggambarkan arti berita yang sebenarnya.
Ciri hakiki berita sebagai laporan dibandingkan dengan bentuk laporan lainnya ialah bahwa berita merupakan laporan yang sangat cepat (timely) dan berkaitan dengan kepentingan umum (public interest).
Sehubungan dengan hal tersebut di atas maka Frank Luther Mott dalam buku New Survey of Journalism menyatakan bahwa ada delapan konsep berita :
• Berita sebagai laporan tercepat (news as timely report)
• Berita sebagai rekaman (news as record)
• Berita sebagai fakta objektif (news as objective fact)
• Berita sebagai interpretasi (news as interpretation)
• Berita sebagai sensasi (news as sensasion)
• Berita sebagai minat insani ( news as human interest)
• Berita sebagai ramalan (news as prediction)
• Berita sebagai gambar (news as picture)
Blog berisi artikel dan bahan perkuliahan Komunikasi, dengan harapan dapat membantu rekan mahasiswa dalam studi ilmu komunikasi di kampus manapun anda berada.
welcome
Rabu, 02 Juli 2008
KOMUNIKASI DAN PUBLIC RELATIONS
KOMUNIKASI DAN PUBLIC RELATIONS
Public relations (purel/PR) mempunyai dua pengertian, yaitu :
Pertama : purel sebagai “method of communication”, merupakan rangkaian atau sistem kegiatan (order or system of action) yaitu kegiatan berkomunikasi secara khas.
Kedua : purel sebegai “state of being” , yaitu perwujudan kegiatan berkomunikasi tersebut sehingga melembaga.
Dalam pengertian sebagai metoda komunikasi terdapat makna bahwa setiap pemimpin dari suatu organisasi (besar atau kecil) dapat melaksanakan purel yang mempunyai ciri-ciri dan aspek-aspek sebagai berikut :
Komunikasi yang dilaksanakan berlangsung dua arah secara timbal baik;
Kegiatan yang dilakukan terdiri dari penyebaran informasi, pelaksanaan persuasi dan pengkajian opini publik;
Tujuan yang dicapai adalah tujuan organisasi itu sendiri;
Sasaran yang dituju adalah publik di dalam dan publik di luar organisasi;
Efek yang diharapkan adalah terjadinya hubungan yang harmonis antara organisasi dengan publik.
Istilah Public Relations sendiri sering diartikan sebagai Hubungan Masyarakat, walau pengertian public sendiri belum terdapat keseragaman. Tapi dalam hal ini public dapat ditinjau dari segi geografis dan segi psikologis. Secara geografis publik dapat diartikan sebagai sejumlah orang yang berkumpul bersama-sama di suatu tempat tertentu. Secara psikologis publik adalah orang-orang yang sama-sama menaruh perhatian terhadap suatu kepentinan yang sama tanpa ada sangkut-pautnya dengan tempat di mana mereka berada.
Dalam purel pengertian publik adalah kelompok, yang terdiri dari publik intern (internal public) dan publik ekstern (external public). Berdasarkan pengelompokkan tersebut terdapatlah hubungan-hubungan sebagai berikut :
Hubungan dengan publik intern (internal public relations)
Hubungan dengan karyawan (employee relations)
Hubungan dengan pemegang saham (stockholder relations)
Hubungan dengan publik ekstern (external public relations)
Hubungan dengan pelanggan (customer relations)
Hubungan dengan khalayak sekitar (community relations)
Hubungan dengan pemerintah (government relations)
Hubungan dengan pers (Press relations)
Hubungan fungsional antara purel dengan organisasi ialah bahwa sebagai metoda komunikasi, purel mengefaktifkan dan mengeffisienkan upaya pencapaian tujuan organisasi.
Pada purel melekat dua aspek yang hakiki yang tidak dapat dipisakan dan tidak dapat dihilangkan, yaitu :
• Pertama : Sasaran purel adalah public intern dan public extern. Publik internal adalah seluruh pegawai (dalam perusahaan termasuk pemegang saham) sedangkan Publik Eksternal adalah orang-orang yang berada di luar organisasi yang ada hubungannya dan yang diharapkan ada hubungannya.
• Kedua : Kegiatan purel adalah kegiatan komunikasi dua arah timbal baik (reciprocal two way traffic communication) sehingga umpan balik harus terjadi dan mengusahakan umpan balik yang menyenangkan (favourable) dan bersifat positif.
Menurut L. Roy Blumenthal yang dikutip dan diterjemahkan oleh Onong Uchjana Effendi dalam buku ‘Human Relations Dan Public Relations’ menyatakan bahwa :
“Seni membina pribadi seseorang hingga taraf yang memungkinkan ia mampu menghadapi keadaan darurat dalam kehidupan seharai-hari, termasuk bidang psikologi. Seni melaksanakan tugas yang sama untuk bisnis, lembaga, pemerintah dan lain-lain, baik yang menimbulkan keuntungan maupun yang tidak, termasuk public relations” (1993 : 94 – 95).
Dari definisi tersebut jelaslah bahwa purel hanyalah terdapat dalam suatu organisasi yang jelas strukturnya dan jelas pula kewenangan masing-masing pimpinan, sehingga ada yang berpendapat bahwa purel merupakan fungsi dari manajemen, seperti definisi dari Cutlip, Center, dan Glen M. Broom bahwa :
“Public Relations adalah fungsi manajemen yang menilai sikap publik, mengidentifikasikan kebijakan dan tata cara seseorang atau organisasi demi kepentingan publik, serta merencanakan dan melakukan suatu program kegiatan untuk meraih pengertian dan dukungan publik.”
Kalau A.L. Kroeber & C. Kluckhohn telah mengumpulkan 164 definisi kebudayaan, Felix F.X. Dance telah mengumpulkan 98 definisi komunikasi, maka Rex Harlow telah mengumpulkan dan mengkaji 472 definisi dari purel. Harlow sendiri mengungkapkan definisi purel yang panjang dan komplit karena mencakup semua pemikiran para ahli, yaitu bahwa:
“Public Relations adalah fungsi manajemen yang khas yang mendukung pembinaan dan pemeliharaan jalur bersama antara organisasi dengan publiknya mengenai komunikasi, pengertian, penerimaan, dan kerjasama; melibatkan manajemen dalam permasalahan atau persoalan; membantu dan tanggap terhadap opini publik; menetapkan dan menekankan tanggung jawab manajemen untuk melayani kepentingan publik : mendukung manajemen dalam mengikuti dan memanfaatkan perubahan secara efektif; bertindak sebagai sistem peringatan dini dalam membantu mengantisipasi kecenderungan; dan menggunakan penelitian serta teknik komunikasi yang sehat sebagai sarana utama.”
Dari definisi tersebut di atas maka unsur-unsur dari purel adalah :
Suatu fungsi manajemen yang menggunakan penelitian dan upaya terencana dengan mengikuti standar-standar etis.
Suatu proses yang mencakup hubungan antara organisasi dengan publiknya.
Analisis dan evaluasi melalui penelitian terhadap sikap dan opini dan kecenderungan sosiental, dan mengkomunikasikannya kepada manajemen.
Konseling manajemen agar dapat dipastikan bahwa kebijakan, tata cara dan kegiatan-kegiatan dapat dipertanggungjawabkan secara sosial dalam kepentingan bersama antara organisasi dengan publik.
Pelaksanaan dan penindakan program kegiatan yang berencana, komunikasi dan evaluasi melalui penelitian.
Pencapaian itikad baik, pengertian, dan penerimaan sebagai hasil akhir utama dari kegiatan purel.
Dari unsur-unsur purel tersebut maka proses kegiatan purel dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut :
• Merumuskan tata cara, kegiatan, kebijakan manajemen (tangggung jawab sosial, kepentingan publik)
• Analisis, evaluasi sikap publik, kecenderungan sosial (melalui penelitian)
• Mengkomunikasikan opini publik, kecenderungan sosietal kepada manajemen
• Penindakan program kegiatan, komunikasi berencana
• Tujuan itikad baik, pengertian, penerimaan
• Evaluasi terhadap program dan hasil.
Proses purel lainnya dikemukakan oleh Profesor Marston yang dikenal dengan “Marston R-A-C-E Formula”, yaitu :
• Research (Penelitian) ..... langkah pertama, ampuh dalam memastikan informasi dan data mengenai organisasi, persoalan atau situasi, khalayak, serta sikap dan opini publik.
• Action (Kegiatan) ..... langkah kedua, mencakup nasehat pada manajemen dan mengenai program berencana.
• Communication ..... langkah ketiga, meliputi cara-cara penyampaian unsur-unsur program berencana kepada publik yang beragam.
• Evaluation ..... langkah keempat, cara-cara memantau dan mempertimbangkan keefektifan proses melalui penelitian.
Munurut Bertrand R. Canfield ada tiga fungsi purel, yaitu :
• Mengabdi kepada kepentingan umum (it should serve the public’s interest)
• Memelihara komunikasi yang baik (Maintaince good communication)
• Menitik beratkan moral dan tingkah laku yang baik (And stress good morals and manners).
Purel beserta PRO-nya harus mengabdi kepada kepentingan umum, karena walau PRO itu diangkat oleh manajemen tetapi tugas dan pekerjaannya adalah melayani publik dan kepentingan umum.
Tugas PRO ke dalam membina hubungan harmonis antara manajer beserta stafnya dengan para karyawan; mengusahakan agarpara karyawan bekerja dengan senang dan merasa puas; meneliti perasaan, kesulitan dan keinginan para karyawan.
Sedang tugas PRO ke luar adalah membina hubungan yang harmonis antara organisasi dengan publik ektern, memperkenalkan produk, meningkatkan jumlah langganan, dan sebagainya.
Public relations (purel/PR) mempunyai dua pengertian, yaitu :
Pertama : purel sebagai “method of communication”, merupakan rangkaian atau sistem kegiatan (order or system of action) yaitu kegiatan berkomunikasi secara khas.
Kedua : purel sebegai “state of being” , yaitu perwujudan kegiatan berkomunikasi tersebut sehingga melembaga.
Dalam pengertian sebagai metoda komunikasi terdapat makna bahwa setiap pemimpin dari suatu organisasi (besar atau kecil) dapat melaksanakan purel yang mempunyai ciri-ciri dan aspek-aspek sebagai berikut :
Komunikasi yang dilaksanakan berlangsung dua arah secara timbal baik;
Kegiatan yang dilakukan terdiri dari penyebaran informasi, pelaksanaan persuasi dan pengkajian opini publik;
Tujuan yang dicapai adalah tujuan organisasi itu sendiri;
Sasaran yang dituju adalah publik di dalam dan publik di luar organisasi;
Efek yang diharapkan adalah terjadinya hubungan yang harmonis antara organisasi dengan publik.
Istilah Public Relations sendiri sering diartikan sebagai Hubungan Masyarakat, walau pengertian public sendiri belum terdapat keseragaman. Tapi dalam hal ini public dapat ditinjau dari segi geografis dan segi psikologis. Secara geografis publik dapat diartikan sebagai sejumlah orang yang berkumpul bersama-sama di suatu tempat tertentu. Secara psikologis publik adalah orang-orang yang sama-sama menaruh perhatian terhadap suatu kepentinan yang sama tanpa ada sangkut-pautnya dengan tempat di mana mereka berada.
Dalam purel pengertian publik adalah kelompok, yang terdiri dari publik intern (internal public) dan publik ekstern (external public). Berdasarkan pengelompokkan tersebut terdapatlah hubungan-hubungan sebagai berikut :
Hubungan dengan publik intern (internal public relations)
Hubungan dengan karyawan (employee relations)
Hubungan dengan pemegang saham (stockholder relations)
Hubungan dengan publik ekstern (external public relations)
Hubungan dengan pelanggan (customer relations)
Hubungan dengan khalayak sekitar (community relations)
Hubungan dengan pemerintah (government relations)
Hubungan dengan pers (Press relations)
Hubungan fungsional antara purel dengan organisasi ialah bahwa sebagai metoda komunikasi, purel mengefaktifkan dan mengeffisienkan upaya pencapaian tujuan organisasi.
Pada purel melekat dua aspek yang hakiki yang tidak dapat dipisakan dan tidak dapat dihilangkan, yaitu :
• Pertama : Sasaran purel adalah public intern dan public extern. Publik internal adalah seluruh pegawai (dalam perusahaan termasuk pemegang saham) sedangkan Publik Eksternal adalah orang-orang yang berada di luar organisasi yang ada hubungannya dan yang diharapkan ada hubungannya.
• Kedua : Kegiatan purel adalah kegiatan komunikasi dua arah timbal baik (reciprocal two way traffic communication) sehingga umpan balik harus terjadi dan mengusahakan umpan balik yang menyenangkan (favourable) dan bersifat positif.
Menurut L. Roy Blumenthal yang dikutip dan diterjemahkan oleh Onong Uchjana Effendi dalam buku ‘Human Relations Dan Public Relations’ menyatakan bahwa :
“Seni membina pribadi seseorang hingga taraf yang memungkinkan ia mampu menghadapi keadaan darurat dalam kehidupan seharai-hari, termasuk bidang psikologi. Seni melaksanakan tugas yang sama untuk bisnis, lembaga, pemerintah dan lain-lain, baik yang menimbulkan keuntungan maupun yang tidak, termasuk public relations” (1993 : 94 – 95).
Dari definisi tersebut jelaslah bahwa purel hanyalah terdapat dalam suatu organisasi yang jelas strukturnya dan jelas pula kewenangan masing-masing pimpinan, sehingga ada yang berpendapat bahwa purel merupakan fungsi dari manajemen, seperti definisi dari Cutlip, Center, dan Glen M. Broom bahwa :
“Public Relations adalah fungsi manajemen yang menilai sikap publik, mengidentifikasikan kebijakan dan tata cara seseorang atau organisasi demi kepentingan publik, serta merencanakan dan melakukan suatu program kegiatan untuk meraih pengertian dan dukungan publik.”
Kalau A.L. Kroeber & C. Kluckhohn telah mengumpulkan 164 definisi kebudayaan, Felix F.X. Dance telah mengumpulkan 98 definisi komunikasi, maka Rex Harlow telah mengumpulkan dan mengkaji 472 definisi dari purel. Harlow sendiri mengungkapkan definisi purel yang panjang dan komplit karena mencakup semua pemikiran para ahli, yaitu bahwa:
“Public Relations adalah fungsi manajemen yang khas yang mendukung pembinaan dan pemeliharaan jalur bersama antara organisasi dengan publiknya mengenai komunikasi, pengertian, penerimaan, dan kerjasama; melibatkan manajemen dalam permasalahan atau persoalan; membantu dan tanggap terhadap opini publik; menetapkan dan menekankan tanggung jawab manajemen untuk melayani kepentingan publik : mendukung manajemen dalam mengikuti dan memanfaatkan perubahan secara efektif; bertindak sebagai sistem peringatan dini dalam membantu mengantisipasi kecenderungan; dan menggunakan penelitian serta teknik komunikasi yang sehat sebagai sarana utama.”
Dari definisi tersebut di atas maka unsur-unsur dari purel adalah :
Suatu fungsi manajemen yang menggunakan penelitian dan upaya terencana dengan mengikuti standar-standar etis.
Suatu proses yang mencakup hubungan antara organisasi dengan publiknya.
Analisis dan evaluasi melalui penelitian terhadap sikap dan opini dan kecenderungan sosiental, dan mengkomunikasikannya kepada manajemen.
Konseling manajemen agar dapat dipastikan bahwa kebijakan, tata cara dan kegiatan-kegiatan dapat dipertanggungjawabkan secara sosial dalam kepentingan bersama antara organisasi dengan publik.
Pelaksanaan dan penindakan program kegiatan yang berencana, komunikasi dan evaluasi melalui penelitian.
Pencapaian itikad baik, pengertian, dan penerimaan sebagai hasil akhir utama dari kegiatan purel.
Dari unsur-unsur purel tersebut maka proses kegiatan purel dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut :
• Merumuskan tata cara, kegiatan, kebijakan manajemen (tangggung jawab sosial, kepentingan publik)
• Analisis, evaluasi sikap publik, kecenderungan sosial (melalui penelitian)
• Mengkomunikasikan opini publik, kecenderungan sosietal kepada manajemen
• Penindakan program kegiatan, komunikasi berencana
• Tujuan itikad baik, pengertian, penerimaan
• Evaluasi terhadap program dan hasil.
Proses purel lainnya dikemukakan oleh Profesor Marston yang dikenal dengan “Marston R-A-C-E Formula”, yaitu :
• Research (Penelitian) ..... langkah pertama, ampuh dalam memastikan informasi dan data mengenai organisasi, persoalan atau situasi, khalayak, serta sikap dan opini publik.
• Action (Kegiatan) ..... langkah kedua, mencakup nasehat pada manajemen dan mengenai program berencana.
• Communication ..... langkah ketiga, meliputi cara-cara penyampaian unsur-unsur program berencana kepada publik yang beragam.
• Evaluation ..... langkah keempat, cara-cara memantau dan mempertimbangkan keefektifan proses melalui penelitian.
Munurut Bertrand R. Canfield ada tiga fungsi purel, yaitu :
• Mengabdi kepada kepentingan umum (it should serve the public’s interest)
• Memelihara komunikasi yang baik (Maintaince good communication)
• Menitik beratkan moral dan tingkah laku yang baik (And stress good morals and manners).
Purel beserta PRO-nya harus mengabdi kepada kepentingan umum, karena walau PRO itu diangkat oleh manajemen tetapi tugas dan pekerjaannya adalah melayani publik dan kepentingan umum.
Tugas PRO ke dalam membina hubungan harmonis antara manajer beserta stafnya dengan para karyawan; mengusahakan agarpara karyawan bekerja dengan senang dan merasa puas; meneliti perasaan, kesulitan dan keinginan para karyawan.
Sedang tugas PRO ke luar adalah membina hubungan yang harmonis antara organisasi dengan publik ektern, memperkenalkan produk, meningkatkan jumlah langganan, dan sebagainya.
Selasa, 01 Juli 2008
Macam Komunikasi Organisasi
Komunikasi Dalam Organisasi
Dari pembahasan tersebut di atas terlihat jelas bahwa komunikasi dalam organisasi merupakan salah satu unsur yang sangat penting untuk tercapainya tujuan administrasi / manajemen.
Komunikasi dalam organisasi atau disebut juga komunikasi manajemen meliputi dua bagian berdasarkan tempat di mana khalayak sasaran berada, yaitu Komunikasi Internal (Internal Communication) untuk khalayak anggota organisasi dan Komunikasi Eksternal (External Communication) untuk khalayak di luar anggota organisasi.
1. Komunikasi Internal
Komunikasi Internal adalah komunikasi antara pimpinan organisasi dengan para pegawai secara timbal balik. Komunikasi internal terbagi dalam tiga kegiatan :
a. Komunikasi Vertikal, yaitu komunikasi secara timal balik (two way traffic communication) dari atas (pimpinan/manajer) ke bawah (karyawan/pegawai) disebut Upper Communication / Downward Communication, dan komunikasi dari bawah (karyawan/pegawai) ke atas (pimpinan/manajer) disebut Down Up Communication / Upward Communication.
Dalam proses komunikasi vertical secara Upper Communication / Downward Communication tersebut pimpinan memberikan instruksi, petunjuk, pengarahan, informasi, penjelasan, teguran, dan lain-lain pada bawahan.
Dalam proses komunikasi vertical secara Down Up Communication / Upward Communication tersebut bawahan memberikan laporan, gagasan, usul/saran kepada pimpinan.
Komunikasi dua arah secara timbal balik tersebut dalam organisasi sangat penting sekali. Pimpinan harus mengetahui laporan, tenggapan, gagasan, atau saran dari bawahan sebagai petunjuk efektif tidaknya dan effisien tidaknya kebijakan yang telah dilakukan. Oleh karena itu jika komunikasi hanya satu arah saja dari pimpinan ke bawahan maka proses manajemen dalam organisasi besar kemungkinan tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan.
Komunikasi vertikal dapat dilakukan secara langsung antara pimpinan tertinggi dengan seluruh pegawai, atau juga dapat dilakukan secara berjenjang melalui kepala biro, bagian, sub bagian, seksi, dan sub seksi.
Komunikasi vertikal yang timbal balik dua arah merupakan pencerminan dari kepemimpinan demokratis (democratic leadership) suatu jenis kepemimpinan yang sementera ini dianggap yang paling baik diantara kepemimpinan lainnya.
b. Komunikasi Horisontal
Komunikasi horizontal adalah komunikasi secara mendatar diantara pegawai dalam suatu unit atau antara anggota staf dengan anggota staf lainnya.
Kalau dalam komunikasi vertical lebih bersifat formal, maka dalam komunikasi horizontal seringkali berlangsung dalam suasana tidak formal. Sering tampak dilakukan dalam waktu istirahat, sedang dalam perjalanan pulang, atau waktu rekreasi. Yang dibicarakan lebih banyak hal-hal yang menyangkut pekerjaan atau tindakan pimpinan. Gravevenis mengenai kebijakan pimpinan sering muncul dalam disini, dan kadang tidak mempunyai dasar sama sekali. Maka dalam hal ini tugas seorang Public Relation Officer (Kepala Humas) untuk meluruskan, menetralisisr atau mengkanalisasi interpretasi yang salah untuk menempatkan pada proporsi sebenarnya.
c. Komunikasi Diagonal
Komunikasi diagonal atau komunikasi silang (cross communication) adalah komunikasi dalam organisasi antara seseorang dengan lainnya yang satu sama lian berbeda dalam kedudukan dan unitnya.
Komunikasi diagonal tidak menunjukkan kekakuan sebagaimana dalam komunikasi vertikal, tetapi tidak juga menunjukkan keakraban sebagaimana dalam komunikasi horizontal. Dilain hal komunikasi diagonal kadang terjadi menyimpang dari jalur prosedur birokrasi, missal seorang pegawai suatu unit mengeluhkan masalah pekerjaan kepada kepala unit lain. Hal ini termasuk dalam miscommunication dan jika diketahui oleh pimpinan unitnya maka mungkin akan terjadi benturan psikologis.
2. Komunikasi Eksternal
Komunikasi Eksternal adalah komunikasi antara pimpinan atau pejabat lain yang mewakilinya (PRO / Kahumas) dengan khalayak atau publik di luar organisasi. Yang termasuk khalayak di luar organisasi meliputi : khalayak sekitar (community), instansi pemerintah (government), Pers, dan pelanggan (customer).
Komunikasi eksternal terdiri dari dua jalur yang berlangsung secara timbal balik, yaitu
Komunikasi dari organisasi ke khalayak, pada umumnya bersifat informatif yang dilakukan sedemikian rupa sehingga khalayak/publik merasa terlibat atau sedikitnya terjadi hubungan batin. Bagi suatu perusahaan komunikasi booking bersifat informative semata tetapi juga bersifat persuasif dalam bentuk penyiaran iklan komersial (commercial advertisement)
Komunikasi dari khalayak ke oraganisasi, yaitu merupakan proses umpan balik (feedback) yang disebut sebagai public opinion (opini publik).
Dari pembahasan tersebut di atas terlihat jelas bahwa komunikasi dalam organisasi merupakan salah satu unsur yang sangat penting untuk tercapainya tujuan administrasi / manajemen.
Komunikasi dalam organisasi atau disebut juga komunikasi manajemen meliputi dua bagian berdasarkan tempat di mana khalayak sasaran berada, yaitu Komunikasi Internal (Internal Communication) untuk khalayak anggota organisasi dan Komunikasi Eksternal (External Communication) untuk khalayak di luar anggota organisasi.
1. Komunikasi Internal
Komunikasi Internal adalah komunikasi antara pimpinan organisasi dengan para pegawai secara timbal balik. Komunikasi internal terbagi dalam tiga kegiatan :
a. Komunikasi Vertikal, yaitu komunikasi secara timal balik (two way traffic communication) dari atas (pimpinan/manajer) ke bawah (karyawan/pegawai) disebut Upper Communication / Downward Communication, dan komunikasi dari bawah (karyawan/pegawai) ke atas (pimpinan/manajer) disebut Down Up Communication / Upward Communication.
Dalam proses komunikasi vertical secara Upper Communication / Downward Communication tersebut pimpinan memberikan instruksi, petunjuk, pengarahan, informasi, penjelasan, teguran, dan lain-lain pada bawahan.
Dalam proses komunikasi vertical secara Down Up Communication / Upward Communication tersebut bawahan memberikan laporan, gagasan, usul/saran kepada pimpinan.
Komunikasi dua arah secara timbal balik tersebut dalam organisasi sangat penting sekali. Pimpinan harus mengetahui laporan, tenggapan, gagasan, atau saran dari bawahan sebagai petunjuk efektif tidaknya dan effisien tidaknya kebijakan yang telah dilakukan. Oleh karena itu jika komunikasi hanya satu arah saja dari pimpinan ke bawahan maka proses manajemen dalam organisasi besar kemungkinan tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan.
Komunikasi vertikal dapat dilakukan secara langsung antara pimpinan tertinggi dengan seluruh pegawai, atau juga dapat dilakukan secara berjenjang melalui kepala biro, bagian, sub bagian, seksi, dan sub seksi.
Komunikasi vertikal yang timbal balik dua arah merupakan pencerminan dari kepemimpinan demokratis (democratic leadership) suatu jenis kepemimpinan yang sementera ini dianggap yang paling baik diantara kepemimpinan lainnya.
b. Komunikasi Horisontal
Komunikasi horizontal adalah komunikasi secara mendatar diantara pegawai dalam suatu unit atau antara anggota staf dengan anggota staf lainnya.
Kalau dalam komunikasi vertical lebih bersifat formal, maka dalam komunikasi horizontal seringkali berlangsung dalam suasana tidak formal. Sering tampak dilakukan dalam waktu istirahat, sedang dalam perjalanan pulang, atau waktu rekreasi. Yang dibicarakan lebih banyak hal-hal yang menyangkut pekerjaan atau tindakan pimpinan. Gravevenis mengenai kebijakan pimpinan sering muncul dalam disini, dan kadang tidak mempunyai dasar sama sekali. Maka dalam hal ini tugas seorang Public Relation Officer (Kepala Humas) untuk meluruskan, menetralisisr atau mengkanalisasi interpretasi yang salah untuk menempatkan pada proporsi sebenarnya.
c. Komunikasi Diagonal
Komunikasi diagonal atau komunikasi silang (cross communication) adalah komunikasi dalam organisasi antara seseorang dengan lainnya yang satu sama lian berbeda dalam kedudukan dan unitnya.
Komunikasi diagonal tidak menunjukkan kekakuan sebagaimana dalam komunikasi vertikal, tetapi tidak juga menunjukkan keakraban sebagaimana dalam komunikasi horizontal. Dilain hal komunikasi diagonal kadang terjadi menyimpang dari jalur prosedur birokrasi, missal seorang pegawai suatu unit mengeluhkan masalah pekerjaan kepada kepala unit lain. Hal ini termasuk dalam miscommunication dan jika diketahui oleh pimpinan unitnya maka mungkin akan terjadi benturan psikologis.
2. Komunikasi Eksternal
Komunikasi Eksternal adalah komunikasi antara pimpinan atau pejabat lain yang mewakilinya (PRO / Kahumas) dengan khalayak atau publik di luar organisasi. Yang termasuk khalayak di luar organisasi meliputi : khalayak sekitar (community), instansi pemerintah (government), Pers, dan pelanggan (customer).
Komunikasi eksternal terdiri dari dua jalur yang berlangsung secara timbal balik, yaitu
Komunikasi dari organisasi ke khalayak, pada umumnya bersifat informatif yang dilakukan sedemikian rupa sehingga khalayak/publik merasa terlibat atau sedikitnya terjadi hubungan batin. Bagi suatu perusahaan komunikasi booking bersifat informative semata tetapi juga bersifat persuasif dalam bentuk penyiaran iklan komersial (commercial advertisement)
Komunikasi dari khalayak ke oraganisasi, yaitu merupakan proses umpan balik (feedback) yang disebut sebagai public opinion (opini publik).
Label:
Macam Komunikasi Organisasi
KOMUNIKASI DAN ORGANISASI
KOMUNIKASI DAN ORGANISASI
A. Pengertian Serta Hubungan Antara Administrasi, Manajemen, Dan Organisasi
Dalam pembahasan organisasi tidak dapat dilepaskan dalam pembahasan administrasi dan manajemen.
Secara etimologis atau asal usul kata administrasi yang ada di Indonesia berasal dari Bahasa Inggris dan Bahasa Belanda. Dalam Bahasa Inggris berasal dari kata Administration yang juga berasal dari Bahasa Yunani administrare yaitu gabungan dari kata Ad dan Ministrare, Ad artinya intensif sedang Ministrare artinya melayani, jadi Administrare artinya melayanani secara intensif.
Sementara itu dalam Bahasa Belanda terdapat kata Administratie yang artinya adalah segala pekerjaan tulis menulis di kantor (tata usaha / Clerical work). Kemudian sinonim administration dalam Bahasa Belanda adalah bestuurs dan untuk administrator adalah beheer.
Karena berdasarkan asal usul kata itulah maka di Indonesia sampai sekarang dikenal dalam dua pengertian, yaitu ; arti luas dan arti sempit :
Administrasi dalam arti sempit, yaitu usaha adalah seluruh rangkaian kegiatan penataan yang melalui penghimpunan, pencatatan, pengelolaan, penggandaan, pengiriman, penyimpanan, penyusutan, dan pemusnahan informasi.
Administrasi dalam arti luas adalah keseluruhan proses kerjasama dua orang atau lebih yang didasarkan rasionalitas tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. (Sondang. P. Siagian, 1997).
Selanjutnya administrasi juga dapat dilihat dari tiga sudut :
Administrasi ditinjau dari sudut proses, yaitu proses yang berkesinambungan dari segala kegiatan untuk mencapai tujuan, dimulai dari proses pemikiran, penentuan, tujuan sampai pelaksaaan kerja sehingga tujuan tercapai.
Administrasi ditinjau dari sudut fungsional, yaitu dalam kegiatan administrasi harus diadakan pengelompokan kegiatan-kegiatan yang sejenis untuk mempermudah pencapaian tujuan, sehingga dalam pencapaian tujuan akan ada terdapat berbagai fungsi (yaitu : perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan dan pengawasan).
Administrasi ditinjau dari sudut institusional, yaitu dalam administrasi terdiri dari orang-orang, baik secara individual maupun secara bersama-sama, yang menjalankan kegiatan-kegiatan untuk menghasilkan karya sesuai tujuan yang telah ditetapkan.
Menurut Dwight Waldo dalam bukunya “Pengantar Studi Public Administrations”, menyatakan bahwa kita mengibaratkan perbedaan organisasi dengan manajemen dalam dua konsep bidang kedokteran, organisasi merupakan anatomi dari administrasi sedang manajemen merupakan fisiologi administrasi. Organisasi lebih dekat dengan pengertian struktur sedang manajemen lebih dekat dengan pengertian fungsi. Itulah sebabnya dalam setiap organisasi secara otomatis akan terdapat proses manajemen. Maka keberadaan manajemen menjadi tidak terbatas, dimana pun dan kapan pun akan terdapat proses manajemen, karena keterikatannya dengan ilmu induknya yakni administrasi maka telaah manajemen masih tetap bertolak dari pikiran administrasi.
Selanjutnya Dwight Waldo mendefinisikan manajemen sebagai : “suatu rangkaian tindakan dengan maksud mencapai hubungan kerjasama yang rasional dalam suatu sistem administrasi”.
Menurut George Terry manajemen adalah pencapaian suatu sasaran yang telah ditentukan sebelumnya melalui usaha orang lain.
Sondang P. Siagian menyebut manajemen sebagai kemampuan/keterampilan untuk memperoleh suatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui kegiatan-kegiatan orang lain.
Kemudian pengertian manajemen lainnya dari Harold Koontz dan O. Donnel yang menyatakan bahwa manajemen berhubungan dengan pencapaian tujuan sesuatu tujuan yang dilakukan melalui dan dengan orang lain.
Selanjutnya pengertian organisasi kita mengutip dari pendapat Dalton Mc. Farland bahwa organisasi adalah sekelompok manusia yang dapat dikenal, yang dapat menyambungkan usahanya terhadap tercapainya tujuan.
Sondang P. Siagian menyebutkan organisasi adalah setiap bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih yang bekerja sama serta secara formal terikat dalam ikatan dimana terdapat seseorang/beberapa orang yang disebut atasan dan terdapat seseorang/beberapa orang yang disebut bawahan.
Ada beberapa ahli yang mempersamakan antara administrasi dengan manajemen yaitu William H. Newman dalam bukunya “Administrative Action”, jelas-jelas tidak membeda-bedakan administrasi dengan manajemen. Apa yang dimaksud dalam arti administrasi termasuk pula arti manajemen. Buku Admnistrative Action berisi tentang tecniques of organizations and management.
Pakar yang mempersamakan administrasi dengan manajemen adalah Marshall Edward Dimock and Gladys Odgen Dimock (atau lebih dikenal dengan Dimock &Dimock) dalam bukunya Public Admnistrations : “ Administrasi dan Manajemen adalah suatu pendekatan yang terencana terhadap pemecahan macam-macam masalah yang kebanyakan terdapat pada setiap individu atau kelompok naik negara atau swasta.
Selain ada ahli yang mempersamakan administrasi dan manajemen tapi adapula yang membedakannya :
Dalton E. Mc Farland dalam bukunya “Management” menyatakan : “ Administrasi ditujukan terhadap penentuan tujuan pokok dan kebijaksanaannya. Sedangkan manajemen ditujukan terhadap pelaksanaan kegiatan dengan maksud menyelesaikan/mencapai tujuan dan pelaksanaan kebijakan”,
Ordway Tead dalam bukunya “Management Principles and Practise” menyatakan jelas-jelas membedakan administrasi dengan manajemen :
“Administrasi adalah suatu proses dan badan yang bertanggung jawab terhadap pemantauan tujuan, dimana organisasi dan manajemen digariskan, dijalankan dan sebagainya.
“ Manajemen adalah suatu proses dan tujuan yang secara langsung memberikan petunjuk bimbingan kegiatan dari suatu organisasi dalam merealisasikan tujuan yang tetap ditetapkan ..............................................”.
Hubungan pendapat para ahli yang membedakan antara administrasi dengan manajemen seperti tersebut diatas (Mc. Farland dan Ordway Tead), maka hubungan antara admnistrasi, manajemen dan organisasi dapat digambarkan :

Keterangan :
Lingkaran pertama yang melingkupi seluruh lingkaran adalah administrasi yang merupakan keseluruhan proses kegiatan kerjasama untuk mencapai tujuan.
Lingkaran kedua adalah organisasi sebagai wadah dari proses kegiatan kerja sama tersebut.
Lingkaran ketiga adalah manajemen sebagai kegiatan pengarah / pembimbing terhadap pencapaian tujuan.
Lingkaran keempat adalah leadership atau kepemimpinan yaitu sebagai usaha mengarahkan/membimbing kegiatan dari para bawahan/karyawan agar tujuan dapat tercapai sesuai yang telah direncanakan.
Lingkaran kelima adalah Decision Making atau Pengambilan keputusan yang merupakan sebagai inti dari pada kepemimpinan, karena memimpin itu berhadapan dengan berbagai masalah dan sebagai pemimpin harus dapat memilih pemecahannya. Proses pemilihan alternatif pemecahan itulah yang dimaksud pengambilan keputusan.
Lingkaran terakhir adalah Human Relations atau Hubungan Kemanusiaan yang merupakan sebagai inti dari Pengambilan Keputusan karena permasalahan yang diambil keputusannya itu pada hakekatnya berkaitan dengan orang-orang yang terlibat dalam organisasi tersebut maka pemimpin harus memahami dan mendekati orang-orang secara manusiawi.
Selain itu hubungan antara Administrasi, Manajemen dan organisasi dapat dilihat sebagai suatu sistem.Organisasi sebagai suatu sistem merupakan gabungan yang kompleks antara manusia, ruangan kerja, perlengkapan, waktu, struktur, formulir, serta kesatuan fungsi kearah pencapaian sasaran dan tujuan dalam organisasi.
Pentingnya organisasi bagi manajemen, adalah :
• Alat-alat untuk mencapai tujuan
• Wadah sekelompok manusia yang bekerjasama
• Dan merupakan proses hubungan kerja sekelompok orang untuk mencapai tujuan.
Bagan hubungan organisasi dan manajemen sebagai suatu sistem yang terpadu adalah :
ADMINISTRASI
A. Pengertian Serta Hubungan Antara Administrasi, Manajemen, Dan Organisasi
Dalam pembahasan organisasi tidak dapat dilepaskan dalam pembahasan administrasi dan manajemen.
Secara etimologis atau asal usul kata administrasi yang ada di Indonesia berasal dari Bahasa Inggris dan Bahasa Belanda. Dalam Bahasa Inggris berasal dari kata Administration yang juga berasal dari Bahasa Yunani administrare yaitu gabungan dari kata Ad dan Ministrare, Ad artinya intensif sedang Ministrare artinya melayani, jadi Administrare artinya melayanani secara intensif.
Sementara itu dalam Bahasa Belanda terdapat kata Administratie yang artinya adalah segala pekerjaan tulis menulis di kantor (tata usaha / Clerical work). Kemudian sinonim administration dalam Bahasa Belanda adalah bestuurs dan untuk administrator adalah beheer.
Karena berdasarkan asal usul kata itulah maka di Indonesia sampai sekarang dikenal dalam dua pengertian, yaitu ; arti luas dan arti sempit :
Administrasi dalam arti sempit, yaitu usaha adalah seluruh rangkaian kegiatan penataan yang melalui penghimpunan, pencatatan, pengelolaan, penggandaan, pengiriman, penyimpanan, penyusutan, dan pemusnahan informasi.
Administrasi dalam arti luas adalah keseluruhan proses kerjasama dua orang atau lebih yang didasarkan rasionalitas tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. (Sondang. P. Siagian, 1997).
Selanjutnya administrasi juga dapat dilihat dari tiga sudut :
Administrasi ditinjau dari sudut proses, yaitu proses yang berkesinambungan dari segala kegiatan untuk mencapai tujuan, dimulai dari proses pemikiran, penentuan, tujuan sampai pelaksaaan kerja sehingga tujuan tercapai.
Administrasi ditinjau dari sudut fungsional, yaitu dalam kegiatan administrasi harus diadakan pengelompokan kegiatan-kegiatan yang sejenis untuk mempermudah pencapaian tujuan, sehingga dalam pencapaian tujuan akan ada terdapat berbagai fungsi (yaitu : perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan dan pengawasan).
Administrasi ditinjau dari sudut institusional, yaitu dalam administrasi terdiri dari orang-orang, baik secara individual maupun secara bersama-sama, yang menjalankan kegiatan-kegiatan untuk menghasilkan karya sesuai tujuan yang telah ditetapkan.
Menurut Dwight Waldo dalam bukunya “Pengantar Studi Public Administrations”, menyatakan bahwa kita mengibaratkan perbedaan organisasi dengan manajemen dalam dua konsep bidang kedokteran, organisasi merupakan anatomi dari administrasi sedang manajemen merupakan fisiologi administrasi. Organisasi lebih dekat dengan pengertian struktur sedang manajemen lebih dekat dengan pengertian fungsi. Itulah sebabnya dalam setiap organisasi secara otomatis akan terdapat proses manajemen. Maka keberadaan manajemen menjadi tidak terbatas, dimana pun dan kapan pun akan terdapat proses manajemen, karena keterikatannya dengan ilmu induknya yakni administrasi maka telaah manajemen masih tetap bertolak dari pikiran administrasi.
Selanjutnya Dwight Waldo mendefinisikan manajemen sebagai : “suatu rangkaian tindakan dengan maksud mencapai hubungan kerjasama yang rasional dalam suatu sistem administrasi”.
Menurut George Terry manajemen adalah pencapaian suatu sasaran yang telah ditentukan sebelumnya melalui usaha orang lain.
Sondang P. Siagian menyebut manajemen sebagai kemampuan/keterampilan untuk memperoleh suatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui kegiatan-kegiatan orang lain.
Kemudian pengertian manajemen lainnya dari Harold Koontz dan O. Donnel yang menyatakan bahwa manajemen berhubungan dengan pencapaian tujuan sesuatu tujuan yang dilakukan melalui dan dengan orang lain.
Selanjutnya pengertian organisasi kita mengutip dari pendapat Dalton Mc. Farland bahwa organisasi adalah sekelompok manusia yang dapat dikenal, yang dapat menyambungkan usahanya terhadap tercapainya tujuan.
Sondang P. Siagian menyebutkan organisasi adalah setiap bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih yang bekerja sama serta secara formal terikat dalam ikatan dimana terdapat seseorang/beberapa orang yang disebut atasan dan terdapat seseorang/beberapa orang yang disebut bawahan.
Ada beberapa ahli yang mempersamakan antara administrasi dengan manajemen yaitu William H. Newman dalam bukunya “Administrative Action”, jelas-jelas tidak membeda-bedakan administrasi dengan manajemen. Apa yang dimaksud dalam arti administrasi termasuk pula arti manajemen. Buku Admnistrative Action berisi tentang tecniques of organizations and management.
Pakar yang mempersamakan administrasi dengan manajemen adalah Marshall Edward Dimock and Gladys Odgen Dimock (atau lebih dikenal dengan Dimock &Dimock) dalam bukunya Public Admnistrations : “ Administrasi dan Manajemen adalah suatu pendekatan yang terencana terhadap pemecahan macam-macam masalah yang kebanyakan terdapat pada setiap individu atau kelompok naik negara atau swasta.
Selain ada ahli yang mempersamakan administrasi dan manajemen tapi adapula yang membedakannya :
Dalton E. Mc Farland dalam bukunya “Management” menyatakan : “ Administrasi ditujukan terhadap penentuan tujuan pokok dan kebijaksanaannya. Sedangkan manajemen ditujukan terhadap pelaksanaan kegiatan dengan maksud menyelesaikan/mencapai tujuan dan pelaksanaan kebijakan”,
Ordway Tead dalam bukunya “Management Principles and Practise” menyatakan jelas-jelas membedakan administrasi dengan manajemen :
“Administrasi adalah suatu proses dan badan yang bertanggung jawab terhadap pemantauan tujuan, dimana organisasi dan manajemen digariskan, dijalankan dan sebagainya.
“ Manajemen adalah suatu proses dan tujuan yang secara langsung memberikan petunjuk bimbingan kegiatan dari suatu organisasi dalam merealisasikan tujuan yang tetap ditetapkan ..............................................”.
Hubungan pendapat para ahli yang membedakan antara administrasi dengan manajemen seperti tersebut diatas (Mc. Farland dan Ordway Tead), maka hubungan antara admnistrasi, manajemen dan organisasi dapat digambarkan :

Keterangan :
Lingkaran pertama yang melingkupi seluruh lingkaran adalah administrasi yang merupakan keseluruhan proses kegiatan kerjasama untuk mencapai tujuan.
Lingkaran kedua adalah organisasi sebagai wadah dari proses kegiatan kerja sama tersebut.
Lingkaran ketiga adalah manajemen sebagai kegiatan pengarah / pembimbing terhadap pencapaian tujuan.
Lingkaran keempat adalah leadership atau kepemimpinan yaitu sebagai usaha mengarahkan/membimbing kegiatan dari para bawahan/karyawan agar tujuan dapat tercapai sesuai yang telah direncanakan.
Lingkaran kelima adalah Decision Making atau Pengambilan keputusan yang merupakan sebagai inti dari pada kepemimpinan, karena memimpin itu berhadapan dengan berbagai masalah dan sebagai pemimpin harus dapat memilih pemecahannya. Proses pemilihan alternatif pemecahan itulah yang dimaksud pengambilan keputusan.
Lingkaran terakhir adalah Human Relations atau Hubungan Kemanusiaan yang merupakan sebagai inti dari Pengambilan Keputusan karena permasalahan yang diambil keputusannya itu pada hakekatnya berkaitan dengan orang-orang yang terlibat dalam organisasi tersebut maka pemimpin harus memahami dan mendekati orang-orang secara manusiawi.
Selain itu hubungan antara Administrasi, Manajemen dan organisasi dapat dilihat sebagai suatu sistem.Organisasi sebagai suatu sistem merupakan gabungan yang kompleks antara manusia, ruangan kerja, perlengkapan, waktu, struktur, formulir, serta kesatuan fungsi kearah pencapaian sasaran dan tujuan dalam organisasi.
Pentingnya organisasi bagi manajemen, adalah :
• Alat-alat untuk mencapai tujuan
• Wadah sekelompok manusia yang bekerjasama
• Dan merupakan proses hubungan kerja sekelompok orang untuk mencapai tujuan.
Bagan hubungan organisasi dan manajemen sebagai suatu sistem yang terpadu adalah :
ADMINISTRASI
Label:
KOMUNIKASI DAN ORGANISASI
KOMUNIKASI DAN PENDIDIKAN
KOMUNIKASI DAN PENDIDIKAN
Kalau kita membicarakan Komunikasi Pendidikan maka kita harus memperhatikan fungsi komunikasi yang dikemukakan oleh Harol D. Lasswell adalah sebagai berikut :
The surveillance of the environment, fungsi komunikasi adalah untuk mengumpulkan dan menyebarkan informasi mengenai kejadian dalam suatu lingkungan (kalau dalam media massa hal ini sebagai penggarapan berita).
The correlation of correlation of the parts of society in responding to the environment, dalam hal ini fungsi komunikasi mencakup interpretasi terhadap informasi mengenai lingkungan (disini dapat diidentifikasi sebagai tajuk rencana atau propaganda).
The transmission of the social heritage from one generation to the next, dalam hal ini transmission of culture difocuskan kepada kegiatan mengkomunikasikan informasi, nilai-nilai, dan norma sosial dari suatu generasi ke generasi lain.
Dalam fungsi komunikasi yang pertama the surveillance of the environment dan kedua the correlation of correlation of the parts of society in responding to the environment, tidaklah lain ditujukan agar masyarakat mengetahui, memahami suatu masalah dan mau melaksanakan atau mengikuti masalah tersebut. Dengan demikian kegiatan tersebut termasuk juga tujuan dan fungsi komunikasi pendidikan secara umum untuk masyarakat.
Selanjutnya dalam fungsi komunikasi yang ketiga the transmission of the social heritage from one generation to the next, merupakan kegiatan komunikasi pendidikan dalam baik secara umum maupun secara khusus. Maksudnya bahwa transmission of culture atau kegiatan mengkomunikasikan informasi, nilai-nilai, dan norma sosial dari suatu generasi ke generasi lain jika dilakukan secara umum melalui ceramah umum, penerangan, atau dalam bentuk hiburan yang mendidik (baik melalui media massa maupun tidak) merupakan komunikasi pendidikan secara umum.
Sedangkan jika transmission of culture atau kegiatan mengkomunikasikan informasi, nilai-nilai, dan norma sosial dari suatu generasi ke generasi lain dilakukan melalui secara klasikal di sekolah-sekolah, perguruan tinggi, pondok pesantren, padepokan seni, atau tempat kursus-kursus merupakan komunikasi pendidikan secara khusus. Termasuk dalam hal ini adalah kegiatan dalam keluarga, kegaitan orang tua mengajarkan nilai-nilai, sopan santun, dan kebiasaan-kebiasaan pada anak-anaknya.
Menurut Onong Uchjana Effendi dalam buku Ilmu Komunikasi (Teori dan Praktek) menyatakan : “Ditinjau dari prosesnya, pendidikan adalah komunikasi dalam arti kata bahwa dalam proses tersebut terlibat dua komponen yang terdiri atas manusia, yakni pengajar sebagai komunikator dan pelajar sebagai komunikan...”.
Pendapat Onong Uchjana Effendi tersebut menekankan pendidikan itu berlangsung secara berencana di dalam kelas secara tatap muka dan mengabaikan kegiatan pendidikan secara umum pada masyarakat dan pendidikan secara khusus dalam keluarga. Hal ini dapat dilaihat pada pendapat berikutnya bahwa perbedaan antara komunikasi dan pendidikan terletak pada tujuan atau efek yang diharapkan. Ditinjau dari efek yang diharapkan itu, tujuan komunikasi sifatnya umum, sedangkan tujuan pendidikan sifatnya khas atau khusus, yakni meningkatkan pengetahuan seseorang mengenai sesuatu hal sehingga ia menguasainya.
Tujuan Pendidikan akan tercapai jika secara minimal prosesnya komunikatif. Bagaimana caranya agar proses penyampaian suatu materi mata ajar oleh Pengajar/Guru/Dosen (sebagai komunikator) kepada para Pelajar/Murid/Siswa/Mahasiswa (sebagai komunikan) harus terjadi secara tatap muka (face to face) dan secara timbal balik dua arah (two way communication). Pengajar menyajikan materi pelajarannya sebaiknya bukan hanya dengan metoda ceramah saja sebaiknya juga dengan metoda diskusi.
Disamping itu pengajar berusaha memberikan kesempatan untuk ditanya atau disanggah pendapatnya sedangkan pelajar harus bersikap responsif, mengetengahkan pendapat atau mengajukan pertanyaan, diminta atau tidak diminta. Situasi tersebut dimaksudkan untuk usaha membangkitkan daya penalaran di kalangan pelajar. Jika penalaran para pelajar sangat bagus maka kepribadian pelajar itu akan lebih dewasa atau mencapai kematangan personality-nya. Orang yang matang kepribadiannya menurut David C. Mc Clelland, seorang ahli psikologi di Harvard University, disebut mempunyai virus mental atau “n Ach”, singkatan dari need for Achievement, artinya kebutuhan untuk memperoleh prestasi lebih gemilang, lebih baik, lebih cepat dan lebih efisien daripada yang telah dilakukan sebelumnya. Selanjutnya tujuan akhir dari komunikasi tersebut adalah untuk mencapai keberhasilan pendidikan itu sendiri.
Metoda pengajaran dengan cara komunikasi dua arah dan dengan cara diskusi akan menumbuhkan penalaran pelajar terhadap materi pelajaran. Dalam hal ini, pelajar selama menerima komunikasi materi pelajaran dalam diri pelajar akan terjadi proses komunikasi intra personal (intrapersonnal communication) dan juga proses komunikasi interpersonal (interpersonnal communication).
Dalam proses komunikasi intrapersonal maupun komunikasi interpersonal melalui tahap-tahap berikut :
persepsi, adalah kesan yang diterima melalui alat indera mengenai materi pelajaran maupun kesan terhadap guru yang menyampaikannya. Kesan ini pada setiap pelajar akan berbeda-beda, karena dipengaruhi oleh pengalaman, kebiasaan, dan kebutuhan.
apersepsi, adalah tanggapan terhadap kesan yang diterima alat, biasanya kesan dibandingkan dengan kesan-kesan sebelumnya atau dengan pengalaman sebelumnya.
ideasi, adalah mengadakan konsepsi terhadap kesan yang diterimanya. Setelah kesan diterima dan disimpulkan/ditanggapi maka mengadakan seleksi dari sekian banyak pengetahuan dan pengalamannya yang pernah diperolehnya, mengadakan penataan mana yang relevan dengan kebutuhan dan keinginannya.
transmisi, apabila kesan yang diterimanya masih meragukan maka pelajar akan mempertanyakan pada pengajarnya. Dalam suatu diskusi apabila hasil konsepsinya sudah mantap maka ia juga akan mantap mengungkapkan pada teman diskusinya.
konklusi, mendekati proses akhir belajar maka pelajar menyimpulkan keseluruhan materi pelajarannya disesuaikan dengan kebutuhan dan juga daya tangkapnya.
memori, proses akhir dari kegiatan belajar adalah menyimpannya dalam ingatan/memori (storage in memory). Hal ini selain tergantung pada daya ingatannya juga tergantung dalam penyimakan materinya. Kalau dalam menyimak materi palejaran sering tidak sadar (unconcius), sambil melamun, maka hanya masuk pada short term memory (memori jangka pendek) dan masuk ke bawah alam sadar. Sedangkan kalau menyimak materi pelajaran secara sungguh-sungguh dengan penuh konsentrasi dengan sadar (concius) maka selain masuk pada short term memory juga akan masuk dalam memori jangka panjang (long term memory).
Dengan demikian, apabila dalam proses belajar mengajar pada pendidikan dilakukan dengan komunikasi dua arah dan metoda diskusi maka proses komunikasi pendidikan tersebut akan berhasil menumbuhkan penalaran para pelajarnya.
Penalaran (reasoning) manurut kamus The Random House Dictionary berarti : “... the mental powers concerned with forming conclusions, judgements or inferences (kekuatan mental yang berkaitan dengan pembentukan kesimpulan dan penilaian)”. Kadar kekuatan penalaran (daya nalar) pada setiap orang (pelajar) berbeda-beda, ditentukan oleh individual power of reason (daya nalar individual) yang merupakan dasar yang paling menentukan dari kemampuan berpikir analitis dan sintesis.
Berkaitan dengan hal tersebut di atas kita dapat menyimak pendapat filsuf Romawi Marcus Tulius Cicero (106-43 SM) yang dikutip dan diterjemahkan oleh Onong Uchjana Effendi dalam buku Ilmu Komunikasi (Teori dan Praktek) menyatakan bahwa : “wise men instructed by reason; men of less understanding by experience; the most ignorant by necessity; and beasts by nature. (Orang bijaksana diperintah oleh penalaran; yang kurang pengetahuan oleh pengalaman; orang yang paling dungu oleh kebutuhan; dan hewan oleh alam”).
Selanjutnya sastrawan Inggris William Shakespeare yang dikutip dan diterjemahkan oleh Onong Uchjana Effendi dalam buku Ilmu Komunikasi (Teori dan Praktek) menyatakan bahwa : “Reason is our intelectual eye, and like the bodily eye it needs light to see, and to see clearly and far it needs the light of heaven. Strong reasons make strong actions. (Penalaran adalah mata intelektual kita, dan seperti halnya dengan mata jasmaniah, untuk dapat melihat, maka intelektual tersebut memerlukan cahaya, lalu untuk dapat melihat jelas dan jauh, ia memerlukan cahaya Allah. Penalaran yang kuat menimbulkan kegiatan yang hebat)”.
Kalau kita membicarakan Komunikasi Pendidikan maka kita harus memperhatikan fungsi komunikasi yang dikemukakan oleh Harol D. Lasswell adalah sebagai berikut :
The surveillance of the environment, fungsi komunikasi adalah untuk mengumpulkan dan menyebarkan informasi mengenai kejadian dalam suatu lingkungan (kalau dalam media massa hal ini sebagai penggarapan berita).
The correlation of correlation of the parts of society in responding to the environment, dalam hal ini fungsi komunikasi mencakup interpretasi terhadap informasi mengenai lingkungan (disini dapat diidentifikasi sebagai tajuk rencana atau propaganda).
The transmission of the social heritage from one generation to the next, dalam hal ini transmission of culture difocuskan kepada kegiatan mengkomunikasikan informasi, nilai-nilai, dan norma sosial dari suatu generasi ke generasi lain.
Dalam fungsi komunikasi yang pertama the surveillance of the environment dan kedua the correlation of correlation of the parts of society in responding to the environment, tidaklah lain ditujukan agar masyarakat mengetahui, memahami suatu masalah dan mau melaksanakan atau mengikuti masalah tersebut. Dengan demikian kegiatan tersebut termasuk juga tujuan dan fungsi komunikasi pendidikan secara umum untuk masyarakat.
Selanjutnya dalam fungsi komunikasi yang ketiga the transmission of the social heritage from one generation to the next, merupakan kegiatan komunikasi pendidikan dalam baik secara umum maupun secara khusus. Maksudnya bahwa transmission of culture atau kegiatan mengkomunikasikan informasi, nilai-nilai, dan norma sosial dari suatu generasi ke generasi lain jika dilakukan secara umum melalui ceramah umum, penerangan, atau dalam bentuk hiburan yang mendidik (baik melalui media massa maupun tidak) merupakan komunikasi pendidikan secara umum.
Sedangkan jika transmission of culture atau kegiatan mengkomunikasikan informasi, nilai-nilai, dan norma sosial dari suatu generasi ke generasi lain dilakukan melalui secara klasikal di sekolah-sekolah, perguruan tinggi, pondok pesantren, padepokan seni, atau tempat kursus-kursus merupakan komunikasi pendidikan secara khusus. Termasuk dalam hal ini adalah kegiatan dalam keluarga, kegaitan orang tua mengajarkan nilai-nilai, sopan santun, dan kebiasaan-kebiasaan pada anak-anaknya.
Menurut Onong Uchjana Effendi dalam buku Ilmu Komunikasi (Teori dan Praktek) menyatakan : “Ditinjau dari prosesnya, pendidikan adalah komunikasi dalam arti kata bahwa dalam proses tersebut terlibat dua komponen yang terdiri atas manusia, yakni pengajar sebagai komunikator dan pelajar sebagai komunikan...”.
Pendapat Onong Uchjana Effendi tersebut menekankan pendidikan itu berlangsung secara berencana di dalam kelas secara tatap muka dan mengabaikan kegiatan pendidikan secara umum pada masyarakat dan pendidikan secara khusus dalam keluarga. Hal ini dapat dilaihat pada pendapat berikutnya bahwa perbedaan antara komunikasi dan pendidikan terletak pada tujuan atau efek yang diharapkan. Ditinjau dari efek yang diharapkan itu, tujuan komunikasi sifatnya umum, sedangkan tujuan pendidikan sifatnya khas atau khusus, yakni meningkatkan pengetahuan seseorang mengenai sesuatu hal sehingga ia menguasainya.
Tujuan Pendidikan akan tercapai jika secara minimal prosesnya komunikatif. Bagaimana caranya agar proses penyampaian suatu materi mata ajar oleh Pengajar/Guru/Dosen (sebagai komunikator) kepada para Pelajar/Murid/Siswa/Mahasiswa (sebagai komunikan) harus terjadi secara tatap muka (face to face) dan secara timbal balik dua arah (two way communication). Pengajar menyajikan materi pelajarannya sebaiknya bukan hanya dengan metoda ceramah saja sebaiknya juga dengan metoda diskusi.
Disamping itu pengajar berusaha memberikan kesempatan untuk ditanya atau disanggah pendapatnya sedangkan pelajar harus bersikap responsif, mengetengahkan pendapat atau mengajukan pertanyaan, diminta atau tidak diminta. Situasi tersebut dimaksudkan untuk usaha membangkitkan daya penalaran di kalangan pelajar. Jika penalaran para pelajar sangat bagus maka kepribadian pelajar itu akan lebih dewasa atau mencapai kematangan personality-nya. Orang yang matang kepribadiannya menurut David C. Mc Clelland, seorang ahli psikologi di Harvard University, disebut mempunyai virus mental atau “n Ach”, singkatan dari need for Achievement, artinya kebutuhan untuk memperoleh prestasi lebih gemilang, lebih baik, lebih cepat dan lebih efisien daripada yang telah dilakukan sebelumnya. Selanjutnya tujuan akhir dari komunikasi tersebut adalah untuk mencapai keberhasilan pendidikan itu sendiri.
Metoda pengajaran dengan cara komunikasi dua arah dan dengan cara diskusi akan menumbuhkan penalaran pelajar terhadap materi pelajaran. Dalam hal ini, pelajar selama menerima komunikasi materi pelajaran dalam diri pelajar akan terjadi proses komunikasi intra personal (intrapersonnal communication) dan juga proses komunikasi interpersonal (interpersonnal communication).
Dalam proses komunikasi intrapersonal maupun komunikasi interpersonal melalui tahap-tahap berikut :
persepsi, adalah kesan yang diterima melalui alat indera mengenai materi pelajaran maupun kesan terhadap guru yang menyampaikannya. Kesan ini pada setiap pelajar akan berbeda-beda, karena dipengaruhi oleh pengalaman, kebiasaan, dan kebutuhan.
apersepsi, adalah tanggapan terhadap kesan yang diterima alat, biasanya kesan dibandingkan dengan kesan-kesan sebelumnya atau dengan pengalaman sebelumnya.
ideasi, adalah mengadakan konsepsi terhadap kesan yang diterimanya. Setelah kesan diterima dan disimpulkan/ditanggapi maka mengadakan seleksi dari sekian banyak pengetahuan dan pengalamannya yang pernah diperolehnya, mengadakan penataan mana yang relevan dengan kebutuhan dan keinginannya.
transmisi, apabila kesan yang diterimanya masih meragukan maka pelajar akan mempertanyakan pada pengajarnya. Dalam suatu diskusi apabila hasil konsepsinya sudah mantap maka ia juga akan mantap mengungkapkan pada teman diskusinya.
konklusi, mendekati proses akhir belajar maka pelajar menyimpulkan keseluruhan materi pelajarannya disesuaikan dengan kebutuhan dan juga daya tangkapnya.
memori, proses akhir dari kegiatan belajar adalah menyimpannya dalam ingatan/memori (storage in memory). Hal ini selain tergantung pada daya ingatannya juga tergantung dalam penyimakan materinya. Kalau dalam menyimak materi palejaran sering tidak sadar (unconcius), sambil melamun, maka hanya masuk pada short term memory (memori jangka pendek) dan masuk ke bawah alam sadar. Sedangkan kalau menyimak materi pelajaran secara sungguh-sungguh dengan penuh konsentrasi dengan sadar (concius) maka selain masuk pada short term memory juga akan masuk dalam memori jangka panjang (long term memory).
Dengan demikian, apabila dalam proses belajar mengajar pada pendidikan dilakukan dengan komunikasi dua arah dan metoda diskusi maka proses komunikasi pendidikan tersebut akan berhasil menumbuhkan penalaran para pelajarnya.
Penalaran (reasoning) manurut kamus The Random House Dictionary berarti : “... the mental powers concerned with forming conclusions, judgements or inferences (kekuatan mental yang berkaitan dengan pembentukan kesimpulan dan penilaian)”. Kadar kekuatan penalaran (daya nalar) pada setiap orang (pelajar) berbeda-beda, ditentukan oleh individual power of reason (daya nalar individual) yang merupakan dasar yang paling menentukan dari kemampuan berpikir analitis dan sintesis.
Berkaitan dengan hal tersebut di atas kita dapat menyimak pendapat filsuf Romawi Marcus Tulius Cicero (106-43 SM) yang dikutip dan diterjemahkan oleh Onong Uchjana Effendi dalam buku Ilmu Komunikasi (Teori dan Praktek) menyatakan bahwa : “wise men instructed by reason; men of less understanding by experience; the most ignorant by necessity; and beasts by nature. (Orang bijaksana diperintah oleh penalaran; yang kurang pengetahuan oleh pengalaman; orang yang paling dungu oleh kebutuhan; dan hewan oleh alam”).
Selanjutnya sastrawan Inggris William Shakespeare yang dikutip dan diterjemahkan oleh Onong Uchjana Effendi dalam buku Ilmu Komunikasi (Teori dan Praktek) menyatakan bahwa : “Reason is our intelectual eye, and like the bodily eye it needs light to see, and to see clearly and far it needs the light of heaven. Strong reasons make strong actions. (Penalaran adalah mata intelektual kita, dan seperti halnya dengan mata jasmaniah, untuk dapat melihat, maka intelektual tersebut memerlukan cahaya, lalu untuk dapat melihat jelas dan jauh, ia memerlukan cahaya Allah. Penalaran yang kuat menimbulkan kegiatan yang hebat)”.
Sistem Komunikasi Kota dan Desa
Sistem Komunikasi Kota
Adalah suatu kenyatan bahwa sulit memberikan defenisi kota , yang bersipat universil, menyeluruh dan obyektif . Adalah terlalu sulit menemukan kriterium tunggal untuk menentukan bahwa sesuatu tempat dengan suatu kehidupan bersama itu adalah kota. Justru hal ini diperlukan guna melengkapi dan sebagai bahan perbandingan terhadap dasa,bukan dengan mempertentangkanya.
Ada pandangan bahwa satu satunya jalan menuju ke suatu masyarakat yang makmur adalah melalui industrialisasi hal ini berarti bahwa dimasa yang akan datang, kita akan mengalami peradaban industrial modern, dan ini berarti pula mempunyai tekanan orientasi ke kota, sebab peradaban industrial modern akan di kuasai oleh kota.
Bahkan ada pandangan, untuk mengatakan sebagian besar desa-desa, membuat banyak desa menjadi kota. Sebab kehidupan bersama kota akan menjadi titik pusat masyarakat Indonesia. Mereka yang menjalankan pengawasan sebagian besar lembaga lembaga yangmenguasai kehidupan sosial-politik-ekonomi-budaya adalah justru penduduk kota .tidak dapat diambil sebagai kriteria, hanya jumlah penduduk sebagai suatu ciri khas kota, ataupun hanya erat-renggangnya relasi-relasi sosial sesuatu masyarakat.
Karena tidak berhasil menemukan kriterium tunggal untuk menentukan, bahwa suatu tempat dinamakan kota, maka ada beberapa kombinasi faktor yang mencirikan suatu kota; mata pencaharian non-agrikultur, lingkungan, ukuran komuniti, kepadatan penduduk, heterogenitas penduduk, differensiasi dan stratufukasi sosial, sistem interaksi (jumlah dan tipe-tipe kontak-kontak sosial).
Ciri-ciri sistem komunikasi di kota antara lain adalah :
Diversitas kompleksitas komunikasi, baik komunikasi sosial maupun komunikasi media.
Komunikasi bersifat tidak permanen dan anonym.
Diversitas komunikasi dalam kota disebabkan oleh adanya spesialisasi dan pembagian kerja. Banyaknya peranan (role) maupun kedudukan (status) yang masing-masing mempunyai sifat-sifat yang khas di dalam kota, menyebabkan rata-rata orang kota mempunyai aneka ragam (sistem) komunikasi.
Kompleksitas komunikasi penduduk kota dapat diartikan bahwa berbagai orang (yang heterogen) atau kelompok orang dapat berkomunikasi dengan sistem ataupon cara yang cukup rumit (kompleks).
Sebagian besar komunikasi yang membentuk relasi-relasi sosial di kota terjadi antara orang-orang yang anonim atau asing satu sama lain, dan hanya berlangsung untuk waktu yang singkat tidak permanen. Dalam arti orang kota selalu terus menerus membuat kontak sosial atau komunikasi yang baru. Kecepatan perubahan-perubahan berkomunikasi ini dapat juga disebut mobilitas sosial. Jadi bersamaan dengan komunikasi bertingkat anominitas tinggi, tidak permanen, mobilitas sosial ini memperkuat adanya komunikasi dan relasi-relasi sosial sekunder (dengan pengertian kurang atau tidak akrab, bersifat impersonal, formal, kurang bersifat emosional, dan rasional).
Sistem Komunikasi Desa
Desa biasanya tersusun dari individu-individu yang terorganisasi dalam kelompok-kelompok lokal (keluarga) yang lebih kecil dan permanen, disebut komuniti (diartikan paguyuban). Mereka disatukan oleh rasa terikat pada alam sekeliling tempat mereka hidup dan menghadapi masalah-masalah mereka terikat oleh rasa bersama.
Beberapa faktor atau ciri-ciri desa, yang merupakan juga hambatan-hambatan untuk perubahan sosial untuk pembangunan, sebagai berikut :
tingkat pendapatan penduduk yang rata-rata masih rendah sekali,
umumnya terdapat sikap fanatisme ataupun nostalgis terhadap tradisi masa lalu,
kurang bersikap kompetitif,
belum terbina sikap mental, sitem nilai yang dapat menunjang ilmu pengetahuan,
tidak ada rangsangan-rangsangan kuat untuk bertindak kreatif,
faktor sikap mental, faktor-faktor kelembagaan, dan faktor lingkungan yang tidak kondusif,
sikap penduduk yang masih pasif,
masih famili-sentris,
sikap nrimo.
Acuh tak acuh,
Orientasi ke masa lampau,
Penguasaan tanah, hak tuan tanah,
Hak komunal,
Lembaga perkreditan pribadi (lintah darat),
Mobilitas vertikal masih kurang,
Entrepreneurship belum berkembang, dll.
Sistem komunikasi yang ada atau ditujukan terhadap masyarakat desa adalam memakai pola komunikasi yang sangat sederhana, face to face communication, dan interpersonal communication. Peranan media massa belum optimal, media massa yang lebih akrab adalah media elektronik tetapi lebih banyak dimanfaatkan aspek hiburannya. Walaupun pada umumnya di negara Indonesia tumbuh dan berkembang dari masyarakat pendengar (listened society) dan seiring menjamurnya stasiun televisi swasta dan daya jangkaunya luas maka akan menjauhkan media massa surat kabar, termasuk di desa-desa. Dilain pihak pers Indonesia berifat ‘urban oriented’ dan juga pengenalan media (media exposure) di desa-desa masih sangat rendah.
Sebaian besar penduduk Indonesia di pedesaan masih merasa bahwa memang bentuk komunikasi oral masih lebih mempengaruhi dan disukai dibandingkan dengan komunikasi melalui media massa. Padahal komunikasi oral sulit diawasi dan cenderung untuk menyimpang. Maka diperlukan pembinaan juru penerang/penyuluh yang memerlukan biaya banyak. Segi negatif daripada komunikasi oral adalah bahwa penggunaan sistem komunikasi oral dan pembinaan kelompok yang ditetapka dari “atas”, akan cenderung bersifar indoktrinasi dan pembinaan politis sehingga bertentangan dengan filsafat komunikasi persuasif.
Adalah suatu kenyatan bahwa sulit memberikan defenisi kota , yang bersipat universil, menyeluruh dan obyektif . Adalah terlalu sulit menemukan kriterium tunggal untuk menentukan bahwa sesuatu tempat dengan suatu kehidupan bersama itu adalah kota. Justru hal ini diperlukan guna melengkapi dan sebagai bahan perbandingan terhadap dasa,bukan dengan mempertentangkanya.
Ada pandangan bahwa satu satunya jalan menuju ke suatu masyarakat yang makmur adalah melalui industrialisasi hal ini berarti bahwa dimasa yang akan datang, kita akan mengalami peradaban industrial modern, dan ini berarti pula mempunyai tekanan orientasi ke kota, sebab peradaban industrial modern akan di kuasai oleh kota.
Bahkan ada pandangan, untuk mengatakan sebagian besar desa-desa, membuat banyak desa menjadi kota. Sebab kehidupan bersama kota akan menjadi titik pusat masyarakat Indonesia. Mereka yang menjalankan pengawasan sebagian besar lembaga lembaga yangmenguasai kehidupan sosial-politik-ekonomi-budaya adalah justru penduduk kota .tidak dapat diambil sebagai kriteria, hanya jumlah penduduk sebagai suatu ciri khas kota, ataupun hanya erat-renggangnya relasi-relasi sosial sesuatu masyarakat.
Karena tidak berhasil menemukan kriterium tunggal untuk menentukan, bahwa suatu tempat dinamakan kota, maka ada beberapa kombinasi faktor yang mencirikan suatu kota; mata pencaharian non-agrikultur, lingkungan, ukuran komuniti, kepadatan penduduk, heterogenitas penduduk, differensiasi dan stratufukasi sosial, sistem interaksi (jumlah dan tipe-tipe kontak-kontak sosial).
Ciri-ciri sistem komunikasi di kota antara lain adalah :
Diversitas kompleksitas komunikasi, baik komunikasi sosial maupun komunikasi media.
Komunikasi bersifat tidak permanen dan anonym.
Diversitas komunikasi dalam kota disebabkan oleh adanya spesialisasi dan pembagian kerja. Banyaknya peranan (role) maupun kedudukan (status) yang masing-masing mempunyai sifat-sifat yang khas di dalam kota, menyebabkan rata-rata orang kota mempunyai aneka ragam (sistem) komunikasi.
Kompleksitas komunikasi penduduk kota dapat diartikan bahwa berbagai orang (yang heterogen) atau kelompok orang dapat berkomunikasi dengan sistem ataupon cara yang cukup rumit (kompleks).
Sebagian besar komunikasi yang membentuk relasi-relasi sosial di kota terjadi antara orang-orang yang anonim atau asing satu sama lain, dan hanya berlangsung untuk waktu yang singkat tidak permanen. Dalam arti orang kota selalu terus menerus membuat kontak sosial atau komunikasi yang baru. Kecepatan perubahan-perubahan berkomunikasi ini dapat juga disebut mobilitas sosial. Jadi bersamaan dengan komunikasi bertingkat anominitas tinggi, tidak permanen, mobilitas sosial ini memperkuat adanya komunikasi dan relasi-relasi sosial sekunder (dengan pengertian kurang atau tidak akrab, bersifat impersonal, formal, kurang bersifat emosional, dan rasional).
Sistem Komunikasi Desa
Desa biasanya tersusun dari individu-individu yang terorganisasi dalam kelompok-kelompok lokal (keluarga) yang lebih kecil dan permanen, disebut komuniti (diartikan paguyuban). Mereka disatukan oleh rasa terikat pada alam sekeliling tempat mereka hidup dan menghadapi masalah-masalah mereka terikat oleh rasa bersama.
Beberapa faktor atau ciri-ciri desa, yang merupakan juga hambatan-hambatan untuk perubahan sosial untuk pembangunan, sebagai berikut :
tingkat pendapatan penduduk yang rata-rata masih rendah sekali,
umumnya terdapat sikap fanatisme ataupun nostalgis terhadap tradisi masa lalu,
kurang bersikap kompetitif,
belum terbina sikap mental, sitem nilai yang dapat menunjang ilmu pengetahuan,
tidak ada rangsangan-rangsangan kuat untuk bertindak kreatif,
faktor sikap mental, faktor-faktor kelembagaan, dan faktor lingkungan yang tidak kondusif,
sikap penduduk yang masih pasif,
masih famili-sentris,
sikap nrimo.
Acuh tak acuh,
Orientasi ke masa lampau,
Penguasaan tanah, hak tuan tanah,
Hak komunal,
Lembaga perkreditan pribadi (lintah darat),
Mobilitas vertikal masih kurang,
Entrepreneurship belum berkembang, dll.
Sistem komunikasi yang ada atau ditujukan terhadap masyarakat desa adalam memakai pola komunikasi yang sangat sederhana, face to face communication, dan interpersonal communication. Peranan media massa belum optimal, media massa yang lebih akrab adalah media elektronik tetapi lebih banyak dimanfaatkan aspek hiburannya. Walaupun pada umumnya di negara Indonesia tumbuh dan berkembang dari masyarakat pendengar (listened society) dan seiring menjamurnya stasiun televisi swasta dan daya jangkaunya luas maka akan menjauhkan media massa surat kabar, termasuk di desa-desa. Dilain pihak pers Indonesia berifat ‘urban oriented’ dan juga pengenalan media (media exposure) di desa-desa masih sangat rendah.
Sebaian besar penduduk Indonesia di pedesaan masih merasa bahwa memang bentuk komunikasi oral masih lebih mempengaruhi dan disukai dibandingkan dengan komunikasi melalui media massa. Padahal komunikasi oral sulit diawasi dan cenderung untuk menyimpang. Maka diperlukan pembinaan juru penerang/penyuluh yang memerlukan biaya banyak. Segi negatif daripada komunikasi oral adalah bahwa penggunaan sistem komunikasi oral dan pembinaan kelompok yang ditetapka dari “atas”, akan cenderung bersifar indoktrinasi dan pembinaan politis sehingga bertentangan dengan filsafat komunikasi persuasif.
Sistem Komunikasi Pembangunan
Sistem Komunikasi Pembangunan
Dalam proses komunikasi pembangunan maka fungsi komunikasi adalah sebagai salah satu di antara sub sistem dalam sistem pengelolaan perubahan (Change Management System), yaitu :
Sub sistem organisasi (organizational sub system);
Sub sitem komunikasi (communication sub system);
Sub sistem tujuan perubahan (change target sub system).
Mekanismenya : organisasi sebagai bentuk ikatan dan subsistem merupakan input yang penting, komunikasi sebagai pengolah (processor)nya dan change target sub system sebagai outputnya. Bagaimana output sangat ditentukan oleh komunikasi sebagai prossercornya.
Setiap komunikasi pembangunan menginginkan adanya perubahan nilai ataupun penggunaan suatu nilai lama untuk tujuan yang baru. Perubahan dalam nilai maupun dalam tujuan dengan sendirinya akan menginginkan perubahan sikap (attitude change) dari setiap anggota masyarakat. Salah atu syarat yang terpenting dari komunikasi pembangunan adalah bahwa motivasi penduduk harus diketahui untuk dimanfaatkan dan dikaitkan dengan idea pembangunan. Berdasarkan motivasi tersebut akan menentukan sikap yaitu predisposisi seseorang untuk menilai suatu lambang atau objek ataupun aspek hidupnya dalam nilai yang menguntungkan atau pun merugikan. Apabila penilaian ini diadakan secara tersusun maka akan terbentuklah sistem nilai. Melalui komunikasi sosial maka komunikator akan cepat mengetahui apa yang merupakan motivasi pokok dari komunikan (baik perseorangan maupun kelompok).
Sesuai dengan motivasinya maka manusia akan membentuk sikapnya terhadap idea pembangunan pula dan memberi atau pun menolak pemberian partisipasinya. Pembentukan sikap merupakan hasil dari pengalaman, maka proses penerimaan sikap yang baru terjadi melalui proses belajar, yaitu mengadakan penyesuaian individu terhadap kelompok ataupun setelah melalui proses balajar memahami dalam jangka waktu yang panjang.
Komunikasi Pembangunan merupakan suatu kegiatan atau suatu proses yang menginginkan perubahan besar-besaran dalam sikap, mental dan tingkah laku manusia. Perubahan tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan teknik-teknik berikut :
Teknik persuasi (persuasion technique)
Teknik pengadaan situasi sedemikian rupa sehingga orang terpaksa secara tidak langsung mengubah sikapnya (compulsion technique)
Teknik dengan mengulang apa yang diharapkan akan masuk dalam bidang bawah sadar seseorang sehingga ia mengubah sikap diri sesuai dengan apa yang diulang (pervasion technique)
memaksa secara langsung pengadaan perubahan sikap, dengan dengan hukuman fisik ataupun materi (coersion technique)
Perubahan-perubahan dalam pembangunan menimbulkan impact communication pembangunan. Untuk mengubah mental, sikap ataupun tingkah laku seseorang tidaklah mudah.
Apabila hanya dititikberatkan pada unsur teknis komunikasinya saja dan kurang memperhatikan faktor paling penting dan menentukan (yaitu manusianya itu sendiri) maka banyak kemungkinan tujuan komunikasi pembangunan akan gagal. Tetapi sebaliknya apabila kurang memperhatikan segi-segi teknis komunikasinya saja, maka komunikasi pembangunan ada kemungkinan akan gagal juga. Maka semuanya itu tergantung pada situasi yang dihadapi.
Komunikasi Pembangunan harus didahului oleh pengadaan suatu favourable mental climate ataupun predisposisi, kesediaan untuk menerima message komunikasi pembangunan itu sendiri. Komunikasi Pembangunan bertujuan atau akan mengakibatkan perubahan sosial besar-besaran. Hal ini berarti modernisasi atau kemajuan, tetapi masyarakat tidak akan menerima atau mau berpartisipasi apabila inti isi message tadi tidak dipahami, tidak dirasakan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhannya, sehingga tidak akan sampai kepada taraf motivasi.
Sistem Komunikasi Pembangunan harus melihat pula, bahwa pada umumnya di setiap negara berkembang, disamping ada komunikasi massa yang modern, masih juga terdapat suatu sistem komunikasi tradisional. Untuk itulah komunikasi pembangunan harus memperhitungkan adanya “firs-step flow” dan “second-step flow” dalam proses komunikasinya tersebut. Dalam hal ini arti pentingnya para informal leaders ataupun para opinion leaders.
Komunikasi Pembangunan juga adalah suatu proses pendidikan dalam arti luas, dalam arti pembangunan modern yang mengusahakan agar didapat suatu pendidikan dan kehidupan yang berbeda dari anak didiknya dengan orang tuanya. Komunikasi pembangunan adalah juga komunikasi perubahan, yang menghendaki perubahan dalam kebudayannya. Setiap pendidikan kearah perubahan sikap dan mental tidak dapat melepaskan diri dari lingkungan kebudayaannya.
Komunikasi Pembangunan untuk mengadakan perubahan masyarakat tidak dapat dijalankan denga seragam, melainkan harus melihat masyarakat sebagai kesatuan komunitas yang heterogen dan harus diadakan pendekatan ekosistem dengan berbagai pendekatan multidisipliner yang dapat menunjang bagian-bagian yang “action-oriented” dan “goal-directed”.
Inti dari komunikasi pembangunan adalah “planning in advance”, memperhitungkan bahwa setiap tahap perkembangan (sebagai akibat perubahan) akan mengakibatkan arus komunikasi dan informasi yang lain, dengan akibat bahwa perencanaan sudah harus siap dengan kegiatan komunikasi sesuai dengan yang dibutuhkan oleh situasi yang baru. Perencanaan dalam komunikasi pembangunan tidak cukup hanya satu kegiatan komunikasi untuk satu tahap/rencana. Setiap tahap harus merupakan suatu rencana perhitungan dalam “longterm project”, sehingga komunikasi pembangunan berarti juga Perencanaan dalam komunikasi .
Menurut Daniel Lerner bahwa : “komunikasi untuk pembangunan termasuk bentuk komunikasi yang tersukar apalagi bila pembangunan harus dilakukan melalui proses demokrasi ... “
Untuk menjawab pernyataan Lerner tersebut maka harus mengoptimalkan media massa : seberapa jauhkah media massa (demi pemenuhan hak eksistensinya) dalam suatu masyarakat berkembang, bagaimana media massa menjalankan fungsinya dalam komunikasi pembangunan.
Peranan media massa dalam setiap masyarakat membangun dirasakan semakin meningkat, terutama dalam pengaruhnya terhadap unsur-unsur yang dapat menyebar idea pembangunan lebih lanjut. Menurut Harold D. Lasswell dalam buku Communication Research ang Public Policy menyebutkan bahwa media massa makin bertambah pengaruh dan kekuasaanya dan bersama pemerintah mengadakan “shaping and sharing of power” pada tahap “surveillance” dan “interpretation” dengan sub tahap sebagai berikut :
policy processes and planning, tahap yang sangat berpengaruh dalam pembentukan sikap dan sistem nilai baru. Tahap ini adalah tahap pengumpulan dan penyebaran intelegensi kepada pemerintah maupun pejabat dan petugasnya.
prescribing phase, tahap pernyataan dengan cara bagaimana (dan norma-norma apa) idea pembangunan dapat disebar-luaskan dan dihayati masyarakat.
involving phase, tahap pemberian informasi kepada pelaksana/pejabat tentang bagaimana pelaksanaan sesungguhnya dalam usaha memperoleh partisipasi masyarakat.
application phase, tahap bagaimana penerimaan selanjutnya oleh masyarakat : apakah hanya dalam tahap percobaan/permulaan ataukah idea dan cara baru dilaksanakan selanjutnya juga sehingga tujuan pembangunan tercapai.
terminating function, dalam kegiatan tentang pelaksanaan sebenarnya dari idea pembangunan diadakan penilaian kembali oleh mass media dengan menyarankan apa yang sebaiknya diperbaiki, ditiadakan ataupun dirubah pelaksanaannya, dan lain-lain.
appraisal phase, mengadakan penilaian terakhir/total terhadap hasil pembagian sebagai keseluruhan atas masyarakat seluruhnya.
Dari pernyataan Lasswell dan Lerner tersebut maka fungsi dari media massa dalam komunikasi pembangunan menginginkan pengetahuan, ketelitian, kesabaran, dan keahlian yang luas. Kebiasaan media “dikejar waktu” (newsvalue) dalam tugas komunikasi pembangunan harus direm, karena yang menjadi masalah bukan siapa yang pertama memberitakan sesuatu tetapi bagaimana sesuatu itu diberitakan dan bagaimana pengaruhnya.
Untuk hal ini maka diperlukan penganalisaan dan penelitian media massa sesuai dengan analisa fungsi sebagai berikut :
Analisa Media (Media Analysis) : Apakah akibat dari bentuk/kegiatan komunikasi terhadap individu/sub-kelompok kepada siapa pesan ditujuakan, mengingat bahwa masyarakat luas adalah : (1) heterogen; (2) anonim. Bagaimanakah pesan disebar-luaskan melalui lembaga dan organisasi yang kompleks dan mahal.
Fungsi Sosial Media (Media’s Social Function) : apakah media dengan penyebaran pesan memenuhi kebutuhan individu dan kelompok komunikannya.
Analisa Lembaga (Institutional Analysis) : bagaimanakah organisasi media dalam melaksanakan tugasnya.
Analisa Kegiatan Dasar Komunikasi (Basic Communication Activities) :
Bagaimanakah cara suatu lembaga pengumpul dan penyebar informasi mengumpulkan dan menyebarkan informasinya (=surveillance)
Bagaimanakah lembaga demikian mengadakan interpretasi terhadap informasi tersebut (=correlation)
Bagaimanakah teknik penyebaran informasi dilakukan (=transmission)
Menurut Dexter dan White bahwa setiap kegiatan komunikasi oleh media massa mempunyai fungsi dalam masyarakatnya (halmana ditentukan oleh tahap perkembangan masyarakat) dengan penyebaran suatu informasi, yaitu :
Memberitahukan terlebih dahulu akan suatu ancaman/bahaya (warning)
Merupakan alat dalam kemajuan dan memajukan masyarakatnya (instrumental)
Merupakan alat yang harus membantu masyarakatnya dalam memajukan kebudayannya (cultural)
Dalam proses komunikasi pembangunan maka fungsi komunikasi adalah sebagai salah satu di antara sub sistem dalam sistem pengelolaan perubahan (Change Management System), yaitu :
Sub sistem organisasi (organizational sub system);
Sub sitem komunikasi (communication sub system);
Sub sistem tujuan perubahan (change target sub system).
Mekanismenya : organisasi sebagai bentuk ikatan dan subsistem merupakan input yang penting, komunikasi sebagai pengolah (processor)nya dan change target sub system sebagai outputnya. Bagaimana output sangat ditentukan oleh komunikasi sebagai prossercornya.
Setiap komunikasi pembangunan menginginkan adanya perubahan nilai ataupun penggunaan suatu nilai lama untuk tujuan yang baru. Perubahan dalam nilai maupun dalam tujuan dengan sendirinya akan menginginkan perubahan sikap (attitude change) dari setiap anggota masyarakat. Salah atu syarat yang terpenting dari komunikasi pembangunan adalah bahwa motivasi penduduk harus diketahui untuk dimanfaatkan dan dikaitkan dengan idea pembangunan. Berdasarkan motivasi tersebut akan menentukan sikap yaitu predisposisi seseorang untuk menilai suatu lambang atau objek ataupun aspek hidupnya dalam nilai yang menguntungkan atau pun merugikan. Apabila penilaian ini diadakan secara tersusun maka akan terbentuklah sistem nilai. Melalui komunikasi sosial maka komunikator akan cepat mengetahui apa yang merupakan motivasi pokok dari komunikan (baik perseorangan maupun kelompok).
Sesuai dengan motivasinya maka manusia akan membentuk sikapnya terhadap idea pembangunan pula dan memberi atau pun menolak pemberian partisipasinya. Pembentukan sikap merupakan hasil dari pengalaman, maka proses penerimaan sikap yang baru terjadi melalui proses belajar, yaitu mengadakan penyesuaian individu terhadap kelompok ataupun setelah melalui proses balajar memahami dalam jangka waktu yang panjang.
Komunikasi Pembangunan merupakan suatu kegiatan atau suatu proses yang menginginkan perubahan besar-besaran dalam sikap, mental dan tingkah laku manusia. Perubahan tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan teknik-teknik berikut :
Teknik persuasi (persuasion technique)
Teknik pengadaan situasi sedemikian rupa sehingga orang terpaksa secara tidak langsung mengubah sikapnya (compulsion technique)
Teknik dengan mengulang apa yang diharapkan akan masuk dalam bidang bawah sadar seseorang sehingga ia mengubah sikap diri sesuai dengan apa yang diulang (pervasion technique)
memaksa secara langsung pengadaan perubahan sikap, dengan dengan hukuman fisik ataupun materi (coersion technique)
Perubahan-perubahan dalam pembangunan menimbulkan impact communication pembangunan. Untuk mengubah mental, sikap ataupun tingkah laku seseorang tidaklah mudah.
Apabila hanya dititikberatkan pada unsur teknis komunikasinya saja dan kurang memperhatikan faktor paling penting dan menentukan (yaitu manusianya itu sendiri) maka banyak kemungkinan tujuan komunikasi pembangunan akan gagal. Tetapi sebaliknya apabila kurang memperhatikan segi-segi teknis komunikasinya saja, maka komunikasi pembangunan ada kemungkinan akan gagal juga. Maka semuanya itu tergantung pada situasi yang dihadapi.
Komunikasi Pembangunan harus didahului oleh pengadaan suatu favourable mental climate ataupun predisposisi, kesediaan untuk menerima message komunikasi pembangunan itu sendiri. Komunikasi Pembangunan bertujuan atau akan mengakibatkan perubahan sosial besar-besaran. Hal ini berarti modernisasi atau kemajuan, tetapi masyarakat tidak akan menerima atau mau berpartisipasi apabila inti isi message tadi tidak dipahami, tidak dirasakan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhannya, sehingga tidak akan sampai kepada taraf motivasi.
Sistem Komunikasi Pembangunan harus melihat pula, bahwa pada umumnya di setiap negara berkembang, disamping ada komunikasi massa yang modern, masih juga terdapat suatu sistem komunikasi tradisional. Untuk itulah komunikasi pembangunan harus memperhitungkan adanya “firs-step flow” dan “second-step flow” dalam proses komunikasinya tersebut. Dalam hal ini arti pentingnya para informal leaders ataupun para opinion leaders.
Komunikasi Pembangunan juga adalah suatu proses pendidikan dalam arti luas, dalam arti pembangunan modern yang mengusahakan agar didapat suatu pendidikan dan kehidupan yang berbeda dari anak didiknya dengan orang tuanya. Komunikasi pembangunan adalah juga komunikasi perubahan, yang menghendaki perubahan dalam kebudayannya. Setiap pendidikan kearah perubahan sikap dan mental tidak dapat melepaskan diri dari lingkungan kebudayaannya.
Komunikasi Pembangunan untuk mengadakan perubahan masyarakat tidak dapat dijalankan denga seragam, melainkan harus melihat masyarakat sebagai kesatuan komunitas yang heterogen dan harus diadakan pendekatan ekosistem dengan berbagai pendekatan multidisipliner yang dapat menunjang bagian-bagian yang “action-oriented” dan “goal-directed”.
Inti dari komunikasi pembangunan adalah “planning in advance”, memperhitungkan bahwa setiap tahap perkembangan (sebagai akibat perubahan) akan mengakibatkan arus komunikasi dan informasi yang lain, dengan akibat bahwa perencanaan sudah harus siap dengan kegiatan komunikasi sesuai dengan yang dibutuhkan oleh situasi yang baru. Perencanaan dalam komunikasi pembangunan tidak cukup hanya satu kegiatan komunikasi untuk satu tahap/rencana. Setiap tahap harus merupakan suatu rencana perhitungan dalam “longterm project”, sehingga komunikasi pembangunan berarti juga Perencanaan dalam komunikasi .
Menurut Daniel Lerner bahwa : “komunikasi untuk pembangunan termasuk bentuk komunikasi yang tersukar apalagi bila pembangunan harus dilakukan melalui proses demokrasi ... “
Untuk menjawab pernyataan Lerner tersebut maka harus mengoptimalkan media massa : seberapa jauhkah media massa (demi pemenuhan hak eksistensinya) dalam suatu masyarakat berkembang, bagaimana media massa menjalankan fungsinya dalam komunikasi pembangunan.
Peranan media massa dalam setiap masyarakat membangun dirasakan semakin meningkat, terutama dalam pengaruhnya terhadap unsur-unsur yang dapat menyebar idea pembangunan lebih lanjut. Menurut Harold D. Lasswell dalam buku Communication Research ang Public Policy menyebutkan bahwa media massa makin bertambah pengaruh dan kekuasaanya dan bersama pemerintah mengadakan “shaping and sharing of power” pada tahap “surveillance” dan “interpretation” dengan sub tahap sebagai berikut :
policy processes and planning, tahap yang sangat berpengaruh dalam pembentukan sikap dan sistem nilai baru. Tahap ini adalah tahap pengumpulan dan penyebaran intelegensi kepada pemerintah maupun pejabat dan petugasnya.
prescribing phase, tahap pernyataan dengan cara bagaimana (dan norma-norma apa) idea pembangunan dapat disebar-luaskan dan dihayati masyarakat.
involving phase, tahap pemberian informasi kepada pelaksana/pejabat tentang bagaimana pelaksanaan sesungguhnya dalam usaha memperoleh partisipasi masyarakat.
application phase, tahap bagaimana penerimaan selanjutnya oleh masyarakat : apakah hanya dalam tahap percobaan/permulaan ataukah idea dan cara baru dilaksanakan selanjutnya juga sehingga tujuan pembangunan tercapai.
terminating function, dalam kegiatan tentang pelaksanaan sebenarnya dari idea pembangunan diadakan penilaian kembali oleh mass media dengan menyarankan apa yang sebaiknya diperbaiki, ditiadakan ataupun dirubah pelaksanaannya, dan lain-lain.
appraisal phase, mengadakan penilaian terakhir/total terhadap hasil pembagian sebagai keseluruhan atas masyarakat seluruhnya.
Dari pernyataan Lasswell dan Lerner tersebut maka fungsi dari media massa dalam komunikasi pembangunan menginginkan pengetahuan, ketelitian, kesabaran, dan keahlian yang luas. Kebiasaan media “dikejar waktu” (newsvalue) dalam tugas komunikasi pembangunan harus direm, karena yang menjadi masalah bukan siapa yang pertama memberitakan sesuatu tetapi bagaimana sesuatu itu diberitakan dan bagaimana pengaruhnya.
Untuk hal ini maka diperlukan penganalisaan dan penelitian media massa sesuai dengan analisa fungsi sebagai berikut :
Analisa Media (Media Analysis) : Apakah akibat dari bentuk/kegiatan komunikasi terhadap individu/sub-kelompok kepada siapa pesan ditujuakan, mengingat bahwa masyarakat luas adalah : (1) heterogen; (2) anonim. Bagaimanakah pesan disebar-luaskan melalui lembaga dan organisasi yang kompleks dan mahal.
Fungsi Sosial Media (Media’s Social Function) : apakah media dengan penyebaran pesan memenuhi kebutuhan individu dan kelompok komunikannya.
Analisa Lembaga (Institutional Analysis) : bagaimanakah organisasi media dalam melaksanakan tugasnya.
Analisa Kegiatan Dasar Komunikasi (Basic Communication Activities) :
Bagaimanakah cara suatu lembaga pengumpul dan penyebar informasi mengumpulkan dan menyebarkan informasinya (=surveillance)
Bagaimanakah lembaga demikian mengadakan interpretasi terhadap informasi tersebut (=correlation)
Bagaimanakah teknik penyebaran informasi dilakukan (=transmission)
Menurut Dexter dan White bahwa setiap kegiatan komunikasi oleh media massa mempunyai fungsi dalam masyarakatnya (halmana ditentukan oleh tahap perkembangan masyarakat) dengan penyebaran suatu informasi, yaitu :
Memberitahukan terlebih dahulu akan suatu ancaman/bahaya (warning)
Merupakan alat dalam kemajuan dan memajukan masyarakatnya (instrumental)
Merupakan alat yang harus membantu masyarakatnya dalam memajukan kebudayannya (cultural)
KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN
KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN
A. Pembangunan Sebagai Perubahan Sosial
Pembangunan Nasional diinterpretasikan sebagai perkembangan suatu bangsa menuju keperbaikan nasibnya kearah yang lebih baik, lebih maju, lebih makmur.
Dalam hubungannya dengan ilmu dan teknologi dan lingkungan, ada tiga dimensi yang tercakup dalam konsep pembangunan :
pengadaan benda-benda dan jasa-jasa melalui berbagai kombinasi faktor-faktor produksi,
perubahan sosial ekonomi,
hubungan antar manusia dan lingkungan.
Membicarakan komunikasi dan pembangunan tidak akan terlepas dari komunikasi sosial. Komunikasi sosial merupakan salah satu bentuk komunikasi, yaitu merupakan suatu kegaiatan usaha manusia untuk menyampaikan kepada orang lain apa yang menjadi pikiran, harapan, atau pun pengalamannya. Dalam hal ini semua pikiran, harapan, dan pengalaman seseorang dalam komunikasi sosial tersebut akhirnya akan menjadi “milik bersama”. Tetapi komunikasi sosial mengandung arti yang lebih intensif daripada “milik bersama”, yaitu apa yang dikomunikasikan akan mempunyai akibat atas hubungan sosial anggota masyarakat yang menerima apa yang disampaikan oleh komunikator, sehingga komunikasi dalam kehidupan sosial mempunyai kemampuan untuk mengubah suatu masyarakat.
Kegiatan komunikasi sosial dilakukan secara langsung dengan komunikator dan komunikan berhadapan satu sama lain, sehingga efek komunikasi dapat terlihat langsung atau pengaruh pesan akan lebih cepat diterima atuapun ditolak langsung dan bahwa penerimaan atau penolakannya ditentukan oleh seberapa jauh komunikator menggunakan (dan menyesuaikan diri dengan) norma-norma yang berlaku dalam masyarakat yang dihadapinya sebagai komunikan.
Situasi komunikasi sosial adalah komunikasi berlangsung dua arah sehingga dapat terjadi interaksi dan sosialisasi dari apa yang dianjurkan ataupun yang diinginkan sendiri dengan inti nilai-nilai yang dikomunikasikan. Makin cepat komunikator dinilai sebagai ingroup, makin cepat proses sosialisasi bahkan integrasi (dengan diri khas we-feeling) dapat dicapai. Adanya we-feeling (komunikator menikmati kepercayaan dari komunikan) akan menyebabkan komunikasi sosial menghasilkan perubahan sikap (attitude). Perubahan sikap secara bersama dalam suatu masyarakat (social change) merupakan hal yang dituju oleh pembangunan.
Perubahan Sosial (social change) dapat diartikan sebagai segala perubahan pada pranata-pranata sosial dalam suatu masyarakat yang selanjutnya akan mempunyai pengaruhnya pada sistem-sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, pola-pola perikelakuan ataupun sikap-sikap dalam masyarakat tersebut.
Pembangunan merupakan salah satu bentuk dari perubahan masyarakat dan mempunyai akibat atas komunikasi. Pembangunan adalah pemanfaatan dan pengarahan perubahan masyarakat ke arah kemajuan suatu bangsa dalam bentuk materi maupun non-materi. Pembangunan juga merupakan change strategies (strategi perubahan).
Hubungan antara hubungan sosial (yang dilakukan melalui komunikasi) dengan luas luas pengaruh dapat dilihat pada tabel berikut :
TINGKAT HUBUNGAN SOSIAL
Dimensi waktu Mikro
(individu)
Kelompok Makro
(masyarakat luas)
Jangka Pendek Jenis 1
a) perubahan sikap
b) perubahan tindakan Jenis 3
a) perubahan norma
b) perubahan tindakan administratif Jenis 5
a) penggunaan penemuan baru
b) revolusi
Jangka Panjang Jenis 2
Perubahan berulang dalam hidup Jenis 4
Perubahan dalam organisasi Jenis 6
Evolusi sosial budaya
Komunikasi dengan hubungan bentuk perubahan serta lingkup pengaruh dengan struktur pengaruh serta proses pembentukannya melalui “change management” (pengelolaan perubahan)
Sifat khas bentuk perubahan massa
Bentuk struktur
Pengaruh intergroup
Antar pesona
Agen perubahan dengan target interaksi
Agen dalam masyarakat luas atau kelompok
Agen dalam kelompok
Individu dengan individu
Bentuk exposure Medis massa Partisipasi, komunikan, penggunaan media secara selektif Face to face
Bentuk pernyataan Periklanan Pidato, diskusi kelompok, atau konfrontasi Daya tarik, tawar menawar popularisasi diri
Hasil pengaruh Informasi dan diskusi Peningkatan pengertian dan kesadaran akan objek pembangunan Adopsi atau penolakan saran
A. Pembangunan Sebagai Perubahan Sosial
Pembangunan Nasional diinterpretasikan sebagai perkembangan suatu bangsa menuju keperbaikan nasibnya kearah yang lebih baik, lebih maju, lebih makmur.
Dalam hubungannya dengan ilmu dan teknologi dan lingkungan, ada tiga dimensi yang tercakup dalam konsep pembangunan :
pengadaan benda-benda dan jasa-jasa melalui berbagai kombinasi faktor-faktor produksi,
perubahan sosial ekonomi,
hubungan antar manusia dan lingkungan.
Membicarakan komunikasi dan pembangunan tidak akan terlepas dari komunikasi sosial. Komunikasi sosial merupakan salah satu bentuk komunikasi, yaitu merupakan suatu kegaiatan usaha manusia untuk menyampaikan kepada orang lain apa yang menjadi pikiran, harapan, atau pun pengalamannya. Dalam hal ini semua pikiran, harapan, dan pengalaman seseorang dalam komunikasi sosial tersebut akhirnya akan menjadi “milik bersama”. Tetapi komunikasi sosial mengandung arti yang lebih intensif daripada “milik bersama”, yaitu apa yang dikomunikasikan akan mempunyai akibat atas hubungan sosial anggota masyarakat yang menerima apa yang disampaikan oleh komunikator, sehingga komunikasi dalam kehidupan sosial mempunyai kemampuan untuk mengubah suatu masyarakat.
Kegiatan komunikasi sosial dilakukan secara langsung dengan komunikator dan komunikan berhadapan satu sama lain, sehingga efek komunikasi dapat terlihat langsung atau pengaruh pesan akan lebih cepat diterima atuapun ditolak langsung dan bahwa penerimaan atau penolakannya ditentukan oleh seberapa jauh komunikator menggunakan (dan menyesuaikan diri dengan) norma-norma yang berlaku dalam masyarakat yang dihadapinya sebagai komunikan.
Situasi komunikasi sosial adalah komunikasi berlangsung dua arah sehingga dapat terjadi interaksi dan sosialisasi dari apa yang dianjurkan ataupun yang diinginkan sendiri dengan inti nilai-nilai yang dikomunikasikan. Makin cepat komunikator dinilai sebagai ingroup, makin cepat proses sosialisasi bahkan integrasi (dengan diri khas we-feeling) dapat dicapai. Adanya we-feeling (komunikator menikmati kepercayaan dari komunikan) akan menyebabkan komunikasi sosial menghasilkan perubahan sikap (attitude). Perubahan sikap secara bersama dalam suatu masyarakat (social change) merupakan hal yang dituju oleh pembangunan.
Perubahan Sosial (social change) dapat diartikan sebagai segala perubahan pada pranata-pranata sosial dalam suatu masyarakat yang selanjutnya akan mempunyai pengaruhnya pada sistem-sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, pola-pola perikelakuan ataupun sikap-sikap dalam masyarakat tersebut.
Pembangunan merupakan salah satu bentuk dari perubahan masyarakat dan mempunyai akibat atas komunikasi. Pembangunan adalah pemanfaatan dan pengarahan perubahan masyarakat ke arah kemajuan suatu bangsa dalam bentuk materi maupun non-materi. Pembangunan juga merupakan change strategies (strategi perubahan).
Hubungan antara hubungan sosial (yang dilakukan melalui komunikasi) dengan luas luas pengaruh dapat dilihat pada tabel berikut :
TINGKAT HUBUNGAN SOSIAL
Dimensi waktu Mikro
(individu)
Kelompok Makro
(masyarakat luas)
Jangka Pendek Jenis 1
a) perubahan sikap
b) perubahan tindakan Jenis 3
a) perubahan norma
b) perubahan tindakan administratif Jenis 5
a) penggunaan penemuan baru
b) revolusi
Jangka Panjang Jenis 2
Perubahan berulang dalam hidup Jenis 4
Perubahan dalam organisasi Jenis 6
Evolusi sosial budaya
Komunikasi dengan hubungan bentuk perubahan serta lingkup pengaruh dengan struktur pengaruh serta proses pembentukannya melalui “change management” (pengelolaan perubahan)
Sifat khas bentuk perubahan massa
Bentuk struktur
Pengaruh intergroup
Antar pesona
Agen perubahan dengan target interaksi
Agen dalam masyarakat luas atau kelompok
Agen dalam kelompok
Individu dengan individu
Bentuk exposure Medis massa Partisipasi, komunikan, penggunaan media secara selektif Face to face
Bentuk pernyataan Periklanan Pidato, diskusi kelompok, atau konfrontasi Daya tarik, tawar menawar popularisasi diri
Hasil pengaruh Informasi dan diskusi Peningkatan pengertian dan kesadaran akan objek pembangunan Adopsi atau penolakan saran
Langganan:
Postingan (Atom)
Main game yuk !
|
|
|
| Add Games to your own site | |
Saran dan Masukan
Bagi anda yang ingin berbagi, memberikan masukan, komentar, pertanyaan, mengirim artikel & ingin ditayangkan, silahkan kirim ke ajias66@gmail.com.